Beautiful Disaster Review

img_20170223_222529-02

Beautiful Disaster, 319 pages.

Last month I purchased this book, it’s just because the title looks appealing. Something beautiful but bring disaster. What was that ?!. And do you know ?, this book is very readable, addictive, and captivating. Completely page-turner !

When I read the synopsis, I thought it just like usual love story, about a bad boy that falling in love with innocent girl, decorated by little bit contravention and intrigue, then they would happily ever after. But, this book offered you roller-coaster conflicts. Even I felt exasperated with the characters but in the end I’d turn back to love them. Because Abby and Travis were just too cute to be true. Here’s the synopsis :

The new Abby Abernathy is a good girl. She doesn’t drink or swear, and she has the appropriate number of cardigans in her wardrobe. Abby believes she has enough distance from the darkness of her past, but when she arrives at college with her best friend, her path to a new beginning is quickly challenged by Eastern University’s Walking One-Night Stand.

Travis Maddox, lean, cut, and covered in tattoos, is exactly what Abby needs—and wants—to avoid. He spends his nights winning money in a floating fight ring, and his days as the ultimate college campus charmer. Intrigued by Abby’s resistance to his appeal, Travis tricks her into his daily life with a simple bet. If he loses, he must remain abstinent for a month. If Abby loses, she must live in Travis’s apartment for the same amount of time. Either way, Travis has no idea that he has met his match.

Continue reading

Murni

​Hujan, hening dan sendu

Ada doa yg kulantun

Khidmat sekaligus pilu

Terhadap asa yang belum hendak mendekat

Dingin, kudekap hatiku erat-erat

Jangan sampai jatuh

Lirih kuminta pada yang Kuasa

Titahkan jiwa suci diatas sana untuk memilih aku

Sebagai penjaganya

Penaungnya

Titahkan jiwa itu mengisi bagian kosong dari diriku

Yang belum sepenuhnya utuh

Naluri dalam diri kuat berdebur

Menciptakan badai

Memancing tangis

Membuatku gelisah

Tenggelam dalam kecewa

Rindu aku

Pada jemari kecil itu

Yang lembut

Yang wangi

Yang murni

Yang suci

I Start to Read English Books

Assalamualaikum, dear readers.

Am i still have readers ?… Ha !

So yeah, I’ve been starting to read English book since last November. And i thought it’s like an improvement for myself, because I’ve never read English book before. I only read novel in Bahasa or the translated version. But recently, I want to know how the taste of reading foreign books, the original one. I believed reading books could be a great way to gain new vocabularies. I wanted to see and learn how the author use grammar in actions. And, I had an intention to develop my understanding of a language. Some people said learn English by reading it may feel like a slow process, but in my oppinion it would be effective.

Thus, from November until January i finished 3 books.

In November I had read The Secret Ingredient by Laura Scahefer. I chose this book because i want to read something easy and light, like warming up before you do exercise. That time I wish that I wouldn’t to be dizzy after read so many words in foreign language. Then, after I read through the pages and finished it in 2 weeks. I felt the utterly joy of reading. I would like to continue it. I made a target that I must to finish reading an English book (or more) in a month.

img_20170124_212927-01

My very first English novel…

In December, I  borrowed The Fourteenth Goldfish by Jennifer L. Holm from my friend Miss Sabar Hernika (I wish you all can check her amazing blog HERE), and I accomplished it in 2 weeks. The story was talk about Ellie an eleven years old girl and his grandfather that obsessed to be a forever young. I like the story very much, and i thought to make a review in another post.

img_20161221_105106-02

Thank you Miss Sabar Hernika for lent me this witty book.

In January, I completed Evil Encounter by Sonia Levitin. The story recounted about the surprising death of strange psychologist. I took a long time to completed it, about 3 weeks. Because I found so many new vocabularies and I have to open my online dictionary many times to know what it’s mean.

Continue reading

Welcome 2017

Assalamualaikum.

Akhir 2016 saya ditutup dengan dukacita, kakek saya dari pihak Bapak meninggal dunia. Saya pun tak menyangka bahwa lebaran kemarin adalah kunjungan terakhir saya menjumpai beliau. Lengkaplah ditahun ini saya kehilangan nenek dari pihak Ibu dan kakek dari pihak Bapak. Mudah-mudahan Allah mengampuni, menerima amalan, dan melapangkan kubur mereka, Aamiin.

Melihat kembali kebelakang, tahun 2016 saya banyak membuat keputusan penting. Salah satu keputusan itu adalah resign di Sekolah SMK tempat saya bernaung dan kembali menjadi jobseeker. Alhamdulillah tidak menunggu lama di bulan Juli 2016 saya memulai pekerjaan baru yang masih dibidang pendidikan. Bisa dibilang saya cukup terkejut dengan ritme dan lingkungan kerja baru.

Dan saya menyadari, bahwa ilmu saya sangatlah sedikit.

Diatas langit masih ada langit.

Saya tidak boleh patah semangat.

Saya tidak boleh menyerah dan kalah.

Saya harus terus belajar dan belajar.

Bukan saya sok sibuk sih, tapi aktifitas saya belajar keras dan harus mengurus rumah tangga setiap hari itu ternyata sangat melelahkan. Saya itu sadar, saya tidak pintar karena itulah saya harus usaha ekstra daripada orang lain untuk memahami suatu topik. Dengan kapasitas saya yang butuh waktu lama untuk bisa menguasai suatu hal, fikiran saya tidak bisa dibawa kemana-mana. Karena itulah blog ini sudah sekian lama tidak sempat saya lirik. Hahaha.

Mudah-mudahan di 2017 ini saya lebih pandai memenej waktu. Permohonan dan harapan-harapan besar di tahun ini akan saya lantunkan dalam doa-doa. Semoga Allah mengabulkannya. Semoga 2017 menjadi tahun yang baik untuk kita semua. Aamiin.

Wassalam.

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 2)

Assalamualaikum…

Whatttttt… Sudah 4 bulan rupanya saya nggak ngepost tulisan apapun disini. Keasikan jadi silent reader sampe blog sendiri dianggurin. Malam ini saya kangen nulis dan saya menemukan tulisan ini draft blog saya. Oh well, daripada jadi tulisan mubazir bolehlah yaaa saya posting disini sekalian. Wkwkwkwk… Tidak ada kata terlambat untuk mengenang kenangan manis kan…

***

Lebaran hari pertama kami sekeluarga besar ngumpul di rumah nenek di desa Negeri Lama Seberang, sungkeman, makan-makan, bagi-bagi angpau, dan sibuk foto-foto sampai baterai handphone lowbatt. Seru banget. Semua happy, semua ketawa, semua bersuka ria. Memang terasa betul nikmat berkumpul di Hari Raya bersama orang-orang yang tersayang. Di sore hari lebaran pertama keluarga saya dan keluarga adik bapakku (Bulek Atun) berpamitan ke Kakek-nenek untuk berangkat ke rumah sepupu saya (anak dari Bulek Atun) di daerah Kuala Tanjung.

lebaran-1

Semoga kakek-nenek, dan kedua orangtuaku diberikan umur panjang yg bermanfaat. Aamiin…

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Butuh waktu sekitar 5 jam dari Kuala Tanjung menuju Parapat. Walau lahir di Sumatra Utara ini pertama kalinya saya mengunjungi Danau Toba. Jauh-jauh hari saya udah request ke Bapak untuk jalan-jalan ke Berastagi, tapi karena keterbatasan waktu nggak memungkinkan untuk bisa kesana. Agak kecewa rasanya, udah jauh-jauh ke Sumut tapi ga main ke Berastagi. Padahal udah membayangkan bakalan foto sebanyak-banyaknya disana terus dipamerin ke teman-teman di Sekolah. Buahahahaha. Karena niatnya nggak baik, nggak terwujud deh.

Kalo udah di Danau Toba wajib hukumnya ke Tomok sebuah Kabupaten di Pulau Samosir, karena nggak seru banget kan cuman sekedar liat-liat aja. Mesti dijelajahin dong !. Kami naik kapal menuju Samosir. Tiketnya murah aja kok, Rp. 8000 sekali jalan. Danau Toba memang luasssssss banget, pemandangannya juga indah. Di pulau Samosir kami lihat atraksi Sigale-gale (boneka kayu yang digerakkan pake tali sambil diiringi musik tradisional Batak), sayang pas ngeliat atraksi Sigale-gale saya lupa ngerekam, jadi nggak ada kenang-kenangan deh. Abis lihat atraksi Sigale-gale, kita beli Souvenir buat oleh-oleh keluarga di pekanbaru. Ohya, Bulek Atun beli ikan asin khas Samosir, yg setelah kami cicipi bikin menyesal. Nyesal gak beli banyak. Enakkk bangettt.

lebaran2

Sejuk mata memandang

photogrid_1476549704024

Menantu yang baik, bawain tas Mamak Mertua… So sweet banget lah Bojo…

Pulang dari Danau Toba istirahat di pinggir jalan sambil ngeduren. Berhubung sekeluarga doyan durian, langsung ga pake basa-basi langsung duduk dan hajar itu durian. Durian Medan emang udah jaminan enaknya, manis dan dagingnya tebel. Kalo saya lebih suka durian ada pahit-pahitnya gitu. Lebih enak. Disaat semua orang makan durian, suami saya cuma jadi penonton. Suami punya kenangan buruk sama durian sampe diopname segala. Jadi seenak apapun durian, dia ga bakal tergoda.

photogrid_1476550731145

Ngeduren…

Pulang dari Danau Toba dan ngeduren kita langsung tepar, ga jalan-jalan kemana-mana lagi. Langsung tancap gas menuju Kuala Tanjung untuk istirahat. Berhubung keesokan harinya sepupu saya masuk kerja, kami nggak ada agenda buat jalan-jalan jauh. Kami cuma main-main ke lokasi kerja sepupu, pabrik dan Pelabuhan PT. Inalum yang berbatasan sama Selat Malaka. Berhubung wilayah pabrik adalah hal yang confidental, saya nggak bisa share foto-fotonya disini. Tapi yang pasti pabriknya bagus, rapi dan nggak ada aroma khas pabrik yang bikin polusi. Nggak kayak pabrik kertas di daerah saya yang bau dan kelihatan kusam dimakan karat, apalagi limbahnya yang mencemari sungai Siak. Kata sepupu, harusnya kami mampir ke Asahan untuk ngelihat Air Terjun Sigura-gura yang jadi sumber pembangkit listrik untuk PT. Inalum, konon disana pemandangannya cantik. Tapi, (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu kita nggak sempat main kesana. Continue reading

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 1)

Assalamualaikum.

Taqqabalallahu minkum minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Taqabalallahu yaa kariim.

Happy yaaa yang baru pulang liburan, jalan-jalan, kumpul keluarga. Berhubung lebaran kali ini seruuu banget buat saya, sayang kalo cuman diingat dalam kenangan, bisa lupa !. Jadi saya tulis aja deh disini. Berhubung ceritanya lumayan panjang, saya bagi dua bagian. Biar ga lelah bacanya.

Sebenernya libur lebaran kali ini cukup singkat rasanya buat saya. Saya baru dapat libur tanggal 27 Juni karena tugas sebagai panitia penerimaan siswa baru. Suami juga masih kerja di tanggal 1 Juli. Di kota kami semua instansi baik negeri/swasta serentak masuk kerja hari Senin tanggal 11 Juli. Jadi semua serasa kejar-kejaran. Malahan saya ga nyiapin kue lebaran apapun, cuma nyumbang bikin manisan kolang-kaling untuk ibu mertua.

Tahun 2015 kemarin saya lebaran terpisah dengan orangtua, karena saya berlebaran di Pekanbaru dengan keluarga suami. Sedangkan orangtua saya lebaran di kampung. Sedih lah yaaa, itu pertama kalinya saya lebaran nggak ada orangtua, nggak bisa sungkeman secara langsung. Lewat telepon, saya minta maaf ke orangtua untuk semua salah di tahun lalu sambil nanes-nanes.

Nah, libur lebaran kali ini saya dan suami sepakat untuk ikut orangtua saya mudik ke kampung Bapak di desa Negeri Lama Seberang, Sumatra Utara. Sekalian memperkenalkan suami ke keluarga besar Saidi. Soalnya ga semua sodara dari pihak Bapak saya datang ke walimahan saya akhir 2014 lalu. Jadi sebagian dari sodar-sodara saya belum pernah lihat wujud suamiku.

Perjalanan kali ini seru banget, karena ini pertama kalinya suami menginjakkan kaki ke Sumatra Utara plus nyetir sendirian ke luar kota tanpa pake sopir cadangan. Bapak saya bisa nyetir sih, hanya saja SIM beliau udah mati dan rabun pula. Jadi, ya perjalanan ini sepenuhnya mengandalkan suamiku. Continue reading