Sepotong cerita lebaran 2016 (part 2)

Assalamualaikum…

Whatttttt… Sudah 4 bulan rupanya saya nggak ngepost tulisan apapun disini. Keasikan jadi silent reader sampe blog sendiri dianggurin. Malam ini saya kangen nulis dan saya menemukan tulisan ini draft blog saya. Oh well, daripada jadi tulisan mubazir bolehlah yaaa saya posting disini sekalian. Wkwkwkwk… Tidak ada kata terlambat untuk mengenang kenangan manis kan…

***

Lebaran hari pertama kami sekeluarga besar ngumpul di rumah nenek di desa Negeri Lama Seberang, sungkeman, makan-makan, bagi-bagi angpau, dan sibuk foto-foto sampai baterai handphone lowbatt. Seru banget. Semua happy, semua ketawa, semua bersuka ria. Memang terasa betul nikmat berkumpul di Hari Raya bersama orang-orang yang tersayang. Di sore hari lebaran pertama keluarga saya dan keluarga adik bapakku (Bulek Atun) berpamitan ke Kakek-nenek untuk berangkat ke rumah sepupu saya (anak dari Bulek Atun) di daerah Kuala Tanjung.

lebaran-1

Semoga kakek-nenek, dan kedua orangtuaku diberikan umur panjang yg bermanfaat. Aamiin…

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Butuh waktu sekitar 5 jam dari Kuala Tanjung menuju Parapat. Walau lahir di Sumatra Utara ini pertama kalinya saya mengunjungi Danau Toba. Jauh-jauh hari saya udah request ke Bapak untuk jalan-jalan ke Berastagi, tapi karena keterbatasan waktu nggak memungkinkan untuk bisa kesana. Agak kecewa rasanya, udah jauh-jauh ke Sumut tapi ga main ke Berastagi. Padahal udah membayangkan bakalan foto sebanyak-banyaknya disana terus dipamerin ke teman-teman di Sekolah. Buahahahaha. Karena niatnya nggak baik, nggak terwujud deh.

Kalo udah di Danau Toba wajib hukumnya ke Tomok sebuah Kabupaten di Pulau Samosir, karena nggak seru banget kan cuman sekedar liat-liat aja. Mesti dijelajahin dong !. Kami naik kapal menuju Samosir. Tiketnya murah aja kok, Rp. 8000 sekali jalan. Danau Toba memang luasssssss banget, pemandangannya juga indah. Di pulau Samosir kami lihat atraksi Sigale-gale (boneka kayu yang digerakkan pake tali sambil diiringi musik tradisional Batak), sayang pas ngeliat atraksi Sigale-gale saya lupa ngerekam, jadi nggak ada kenang-kenangan deh. Abis lihat atraksi Sigale-gale, kita beli Souvenir buat oleh-oleh keluarga di pekanbaru. Ohya, Bulek Atun beli ikan asin khas Samosir, yg setelah kami cicipi bikin menyesal. Nyesal gak beli banyak. Enakkk bangettt.

lebaran2

Sejuk mata memandang

photogrid_1476549704024

Menantu yang baik, bawain tas Mamak Mertua… So sweet banget lah Bojo…

Pulang dari Danau Toba istirahat di pinggir jalan sambil ngeduren. Berhubung sekeluarga doyan durian, langsung ga pake basa-basi langsung duduk dan hajar itu durian. Durian Medan emang udah jaminan enaknya, manis dan dagingnya tebel. Kalo saya lebih suka durian ada pahit-pahitnya gitu. Lebih enak. Disaat semua orang makan durian, suami saya cuma jadi penonton. Suami punya kenangan buruk sama durian sampe diopname segala. Jadi seenak apapun durian, dia ga bakal tergoda.

photogrid_1476550731145

Ngeduren…

Pulang dari Danau Toba dan ngeduren kita langsung tepar, ga jalan-jalan kemana-mana lagi. Langsung tancap gas menuju Kuala Tanjung untuk istirahat. Berhubung keesokan harinya sepupu saya masuk kerja, kami nggak ada agenda buat jalan-jalan jauh. Kami cuma main-main ke lokasi kerja sepupu, pabrik dan Pelabuhan PT. Inalum yang berbatasan sama Selat Malaka. Berhubung wilayah pabrik adalah hal yang confidental, saya nggak bisa share foto-fotonya disini. Tapi yang pasti pabriknya bagus, rapi dan nggak ada aroma khas pabrik yang bikin polusi. Nggak kayak pabrik kertas di daerah saya yang bau dan kelihatan kusam dimakan karat, apalagi limbahnya yang mencemari sungai Siak. Kata sepupu, harusnya kami mampir ke Asahan untuk ngelihat Air Terjun Sigura-gura yang jadi sumber pembangkit listrik untuk PT. Inalum, konon disana pemandangannya cantik. Tapi, (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu kita nggak sempat main kesana. Continue reading

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 1)

Assalamualaikum.

Taqqabalallahu minkum minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Taqabalallahu yaa kariim.

Happy yaaa yang baru pulang liburan, jalan-jalan, kumpul keluarga. Berhubung lebaran kali ini seruuu banget buat saya, sayang kalo cuman diingat dalam kenangan, bisa lupa !. Jadi saya tulis aja deh disini. Berhubung ceritanya lumayan panjang, saya bagi dua bagian. Biar ga lelah bacanya.

Sebenernya libur lebaran kali ini cukup singkat rasanya buat saya. Saya baru dapat libur tanggal 27 Juni karena tugas sebagai panitia penerimaan siswa baru. Suami juga masih kerja di tanggal 1 Juli. Di kota kami semua instansi baik negeri/swasta serentak masuk kerja hari Senin tanggal 11 Juli. Jadi semua serasa kejar-kejaran. Malahan saya ga nyiapin kue lebaran apapun, cuma nyumbang bikin manisan kolang-kaling untuk ibu mertua.

Tahun 2015 kemarin saya lebaran terpisah dengan orangtua, karena saya berlebaran di Pekanbaru dengan keluarga suami. Sedangkan orangtua saya lebaran di kampung. Sedih lah yaaa, itu pertama kalinya saya lebaran nggak ada orangtua, nggak bisa sungkeman secara langsung. Lewat telepon, saya minta maaf ke orangtua untuk semua salah di tahun lalu sambil nanes-nanes.

Nah, libur lebaran kali ini saya dan suami sepakat untuk ikut orangtua saya mudik ke kampung Bapak di desa Negeri Lama Seberang, Sumatra Utara. Sekalian memperkenalkan suami ke keluarga besar Saidi. Soalnya ga semua sodara dari pihak Bapak saya datang ke walimahan saya akhir 2014 lalu. Jadi sebagian dari sodar-sodara saya belum pernah lihat wujud suamiku.

Perjalanan kali ini seru banget, karena ini pertama kalinya suami menginjakkan kaki ke Sumatra Utara plus nyetir sendirian ke luar kota tanpa pake sopir cadangan. Bapak saya bisa nyetir sih, hanya saja SIM beliau udah mati dan rabun pula. Jadi, ya perjalanan ini sepenuhnya mengandalkan suamiku. Continue reading

Senang dan Sedih di Hari Senin, 2 Mei 2016

Hari itu aku senang sekali karena akan segera bertemu dengan suamiku yang baru pulang dari Kuala Lumpur. Setelah lebih dari setahun menikah, ini pertama kalinya aku ditinggal cukup lama. Walau cuma ditinggal empat hari cukup membuat hati gelisah, tidur nggak nyenyak, makan nggak enak. Ada yang hilang ketika bagian dari diri ini berjauhan.

Hal ini membuat hati aku terbetik “ini baru ditinggal suami pergi kerja jauh sebentar, bagaimana kalo nanti aku punya anak terus dia minta sekolah di luar kota, dan jarang bertemu…”. My heart cannot take this !. Ndak kuat aku, sungguh !.

Dan, ketika suami sudah di depan mata sungguh lega rasanya melihat beliau nggak kurang suatu apapun, malah tambah ngganteng. Hehehe. Senang ya Allah…

Diperjalanan kami makan siang bareng, dan beliau mengantar aku pergi ke sekolah untuk melanjutkan kerja. Di sekolah, kami mendapat kabar kalo ada mantan guru di sekolahku meninggal dunia saat sedang tidur. Masih muda, sekitar 45 tahun usianya.

PhotoGrid_1462335954402

Sepulang sekolah, setelah ashar aku dan guru-guru lainnya menumpang mobil wakil kepsek untuk  menghadiri acara pemakamannya. Aku memilih tidak melihat prosesi pemakaman dari dekat. Kondisinya  berdesakan, biar laki-laki dan kerabat dekat saja yang diutamakan. Hanya saja saat prosesi itu berlangsung, aku jadi berfikir kalo syarat mutlak mati itu bukan tua atau muda. Setiap makhluk yg bernyawa pasti merasakan mati. Ya Allah, hidup ini sejatinya hanyalah perjalanan menuju mati. Selama perjalanan pulang dari pemakaman, fikiranku terus terngiang-ngiang akan pemutus kenikmatan hidup itu, si maut. Hal yang ditakuti tapi mustahil lari darinya.

Sesampainya dirumah, menjelang maghrib aku mendapatkan telpon dari Bapak. Ada suara berat Bapak yang nggak biasa diujung sana, sepertinya ini hal yang serius.
“Nak, Bapak ada kabar… Kamu yang tabah ya…”
Mendadak aku jadi takut menerima kabar itu.
“Mbah-mu, Mbah Sar sudah dipanggil Allah tadi jam 4 sore…”
“Ya Allah… Inna lillahi wa inna’ilaihi roji’un… “

Aku udah nggak sanggup ngomong, cuma bisa nangis. Ya Allah, siapa sangka kalau kabar yang datang begitu buruk. Nggak nyangka kalo pertemuanku dengan Mbah Sar 3 tahun lalu adalah yang terakhir. Terkejut aku dengan kabar ini, karena selama yang ku tahu Mbah Sar memang sudah uzur tapi beliau sehat dan lincah. Jarang sakit, dan memang nggak punya riwayat penyakit parah. Continue reading

Anime – Gin No Saji (Silver Spoon)

Barisan anak-anak tahun 90-an dimanjakan dengan anime-anime seru di hari minggu. Di zaman itu hampir semua stasiun TV nasional menyajikan anime keren, sampe yang nonton bingung mau nonton yang mana dulu, jam tayangnya serentak sih. Wkwkwkwk. Nah hobi saya nonton anime masih berlanjut sampe sekarang. Walaupun gara-gara hobi ini saya dianggap kekanakan.

57995l

Gin No Saji poster : myanimelist.net

Balik ke yang mau saya ceritakan, jadi saya nemuin sebuah anime tahun 2013 yang menurut saya BAGUS pake banget !.

Singkat cerita, Yuugo Hachiken adalah seorang anak laki-laki dari lingkungan perkotaan yang tertekan dengan ekspektasi orangtuanya yang menuntut keberhasilan dalam hal akademis. Hachiken bosan terus menerus belajar giat tapi nggak punya tujuan yang jelas dalam hidup. Untuk menghindari tekanan dari Ayahnya, Hachiken memutuskan untuk masuk ke Sekolah Tinggi Pertanian berasrama (Ooezo Agricultural High School) yang letaknya di terpencil jauh di pedesaan Hokkaido.

Teman-teman sekelas Hachiken adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang berkecimpung dunia pertanian dan peternakan. Sedangkan urusan pertanian dan peternakan adalah hal yang baru buat Hachiken. Di sekolah tsb, seluruh siswanya diwajibkan bangun pukul lima pagi untuk mengurus hewan ternak sebelum masuk pelajaran di kelas. Sistem belajar lebih banyak praktikum yang menguras tenaga, setelah jam pelajaran berakhir siswanya diwajibkan untuk megikuti kegiatan ekstrakulikuler. Hachiken kelelahan dan ia menyesali keputusannya telah masuk ke sekolah tersebut. Continue reading

Oseng Kerang Dara Rasa Nano-nano

Siapa yang suka kerang dara, angkat tangaaaaannn !!!!

Kerang dara adalah salah satu bahan masakan yang cukup direbus pake garam aja udah enak. Tapi sebagai penggemar kerang dara, saya suka coba-coba resep mengolah kerang dara, biar lebih maknyusss !.

Kalo orang di kampung saya (daerah Sumut), kerang dara yang gemuk-gemuk sering dijadikan sate dengan bumbu sejenis rendang. Makan pake nasi putih, udah enak banget !. Makan 10 tusuk pun gak bakalan cukup memuaskan lidah dan perut.

Beberapa minggu yang lalu orangtua saya berkunjung ke Pekanbaru, kangen sama saya gitu ceritanya. Berhubung bapak juga sangat sangat suka kerang dara, maka saya putuskan untuk mengolah kerang dara untuk menu makan siang. Dan jadilah oseng-oseng kerang dara rasa nano-nano. Kenapa saya bilang nano-nano, karena rame rasanya. Ada gurih, asem, asin, manis, dan pedes. Komplit !.

IMG_20160325_131039

Buat saya pribadi, ini enak !. Gampang dibuat, cuma proses menyikat kerang dara-nya aja yang bikin lama. Kerang dara kalo gak disikat, susah hilang lumpurnya. Walaupun udah dicuci berkali-kali. Ga usah panjang-panjang saya share aja ya resepnya. Continue reading

What’s Your Husband Do For Living ?

Errrr, this kind of question is quiet challenging for me to answer. I dont know the best way to explain my husband do for living. Mmmmm, i mean his job. Because most all of our relatives didn’t understand. Include our parents, hiks.

These days, so many job that never exist or even unusual in our parents era. It’s very normal for them to not knowing about it.

But, after read much stories from cool blogger out there about their extraordinary job. I feel like i’m not the only one who feel complicated about it. My husband do programming for living. I know there so much programmer that feel the same experience like my husband. And i feel glad too if you all that read this, know about programming.

At first he work it as freelance. And now he work as programmer in one of IT company. Alhamdulillah this is our rizki and we accept it with fully hearts and grateful.

9_computer-programmer

Source : imasters.expert

The problem is people in our circle didn’t know about programming. Work as programmer isn’t well known. So they always look at me with the bizzare face, “what kind of work was that ?!”. In the end, to make it simple i always said my husband work with computer or IT staff. And their response are…

“Oh… so your husband can repair the out of order computer ?”

“Oh… Could your husband help me to reinstall my laptop ?”

“Oh… that’s mean you can ask your husband to download some movies ?”

“Oh… Could your husband get rid of viruses from my laptop ?”

“Oh… your husband must be very good at typing !”

Spechless. Because i know my husband job isn’t easy peasy as lemon squeeze !. He did complicated things. And i feel proud with it. Gaaaaaaaaaaaaaaahhh.

When my husband do programming as freelance, he always spend his time to work in our bedroom (because we don’t have special room for working). He only go outside to masjid for pray-to attend pengajian-to attend wedding invitation-to accompany me shopping-to meet the client for settle things-to playing futsal with his friends or-to pick me up from work.

Since we still live together with my parents in law. They know his daily routine and it make them feel worried. They wonder why their son didn’t have proper job like everyone. In their mindset, work is out from home at 7 a.m and go home at 5 p.m. So, a man who work at home defitinely not PROPER JOB !. Though my husband can support our household also his parents, give me allowance, even saving. My parents in law still worried, they afraid my husband get money from illegal or inappropriate way. They always ask what my husband did full day at home. Isn’t he feel bored ?.

Me and husband have tried to explain to them that his work have flexible time. And he doesn’t need to go anywhere since he can do it at home. And our money comes from good effort that mean it’s HALAL, InsyaAllah. But still they don’t understand. Hiks.

My parents didn’t have many question about his job. They also don’t understand about it. But my parents believe my husband is educated and good person. So, they all support all the things he choose. My parents don’t mind if my husband would work in the company, being a government employee, or run own business. As long it’s good and halal, why not ?. They only wants me to support my husband in good and bad times, never let my husband to choose something under pressure.

So, to make everyone happy my husband quit his work as freelancer. Luckily my husband had found the perfect company for him. And his passion for programming will always life. It won’t die. I’ve never seen my husband did his work seriously in high spirit like NOW. Seems he and that company destined to meet and did much things together. I feel grateful and relieved…

Now, if someone ask me about my husband job. I tell it in the simple way. My husband is programmer. Please don’t ask me to explain this🙂