Cerita Trimester Kedua

Assalamualaikum…

I write this to remember the sweetness of my first pregnancy experience.

Trimester kedua adalah masa-masa yg paling enjoyable banget buatku. Perut mulai membuncit dan membuatku kelihatan “hamil” beneran. Mual dan muntah tiap pagi menghilang, makan lebih enak, asam lambung dan heartburn mereda dengan sendirinya. Herannya aku tuh ga kayak orang hamil lain yang suka makan asem-asem. Aku pengennya makan berat, dan maunya yang manis-manis kayak kue-kue, es krim. Tapi ya gak aku turutin. Sesekali aja kalo udah bener-bener kepengen. Katanya klo sering makan es krim nanti bayinya besar. Susah lahirannya. Kalo untuk berat badanku jelas naik signifikan.

Kalau awalnya aku masih bertanya-tanya , “Beneran ga sih diperut ini ada bayinya ?”. Masuk usia 16 minggu aku udah bisa merasakan keberadaan si dedek. Gerakan-gerakannya udah mulai jelas terasa. At first, aku ga yakin dengan gerakan-gerakan halus yang terasa. Apakah itu angin bergejolak di perutku yang sering masuk angin, atau gerakan usus mencerna makanan. Semakin tambah minggu, gerakan itu makin jelas ritmenya, makin tegas, dan beda banget. Apalagi kalo aku abis makan, langsung deh si bayi bergerak aktif. Geli geli jadinya.

Waktu kontrol di minggu ke 20, ketahuan deh jenis kelamin si debay. InsyaAllah kalo ga berubah si dedek jenis kelaminnya cowok. Hihihi. Alhamdulillah, semoga menjadi anak yang sholeh, baik budi, baik hati, dan abang yang mengayomi adek-adeknya nanti. Aamiin. Sebenernya untuk urusan jenis kelamin aku dan suami ngerasa ga punya hak untuk milih. Kami serahkan pada Alloh aja, asalkan si dedek sehat dan sempurna itu udah cukup buatku. Pasa kontrol hasilnya bagus, ga ada lilitan tali pusar, air ketuban bagus, tapi dedek masih sungsang yang mana itu normal karena dia masih kecil dan air ketuban banyak. Jadi dedek masih bisa bergerak, berenang sesuka hati. Ga ada yang perlu dicemaskan.

Masuk bulan ke 6, gerakan-gerakan halus yang awalnya cuma bisa kurasa sendiri, jadi semakin kuat. Kelihatan jelas. Suami ketawa-ketawa tiap kali ngeliat perutku berdenyut atau benjol kesana-sini kena tendangannya dedek. Duh, gemes banget ya Alloh.

Lucunya tiap kali suami pengen ikutan ngerasain tendangannya, si dedek malah ga mau gerak. Anteng banget. Udah dicolek-colek, di senterin, di ajak ngobrol tetep ga mau nendang. Tapi kalo aku yang ketuk-ketuk perutku, ku ajakin ngobrol langsung si bayi ngerespon dengan hebohnya. Bener-bener anak Ummi *uuuuuuu tayang tayang XD !.

Continue reading

Advertisements

Cerita Trimester Pertama

Assalamualaikum…

I write this to remember the sweetness of my first pregnancy experience.

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, tanda awal kehamilan yang kurasa adalah rasa nyeri yang hilang timbul di perut bawah. Rasanya hampir sama seperti mau period tapi lebih nyeri lagi dan berlangsung lama, sekitar dua mingguan. Jujur rasa nyeri-nya bikin aku parno… takut keguguran. Maklum ya hamil pertama kali jadi ketika tubuhku merasakan sakit dikit aja, aku langsung buru-buru browsing. Ya ternyata nyeri perut bawah dia awal kehamilan itu normal.

Aku jadi gampang ngantuk, dan cepat capek. Gejala ngantuk dan mudah capek mulai kurasakan sebelum aku positif hamil. Aku sampe ketiduran di tempat kerja saking capeknya, gak bisa dilawan. Aku sih udah pasrah kalo bakal ditegur Manager karena ga profesional. Pulang kerja, aku tepar dan langsung tidur. Kerjaan rumah aku kerjain sebisaku. Untung suamiku ga yang tipe nuntut rumah selalu bersih, ataupun makanan selalu tersedia. Dia maklumin aja waktu itu.

Mendadak nafsu makanku jadi luar biasa buas, ini juga dimulai sebelum aku positif. Waktu itu aku merasa kesehatanku oke banget, nggak ada rasa pusing, ataupun mual. Normal aja. Segala aku makan. Pokoknya aku makan terus, makan terus. Kadang jam 11 malam aku minta suamiku beliin sate, bakso, martabak mesir, dan segala makanan berat lainnya.

Ada kejadian yang bikin aku was-was waktu itu, kejadiannya malam sebelum aku test kehamilan. Aku udah lama pengen nyobain makan aneka macam kerang rebus cocol. Kebetulan yang punya kakak kelasku waktu SMP dulu. Jadi sekalian makan, dan mendukung usaha-nya belio, pikirku. Malam itu aku dan suamiku makan kerang banyak banget, hampir sekilo. Segala macam kerang yang bentuknya aneh-aneh aku cobain.

Habis makan aku ngobrol sebentar dg seniorku itu. Basa-basi. Sampailah obrolan kami ke pembahasan masalah “udah punya anak, belum ?”. Terus, belio cerita kalo makan kerang bagus untuk ihktiar punya baby, apalagi buat laki-laki, proteinnya yang tinggi bisa bikin sperma jadi bagus. Tapi, kalo sudah hamil ga boleh makan kerang. Kandungan merkuri-nya tinggi ga bagus buat perkembangan janin. Kami manggut-manggut aja, mendengarkan dg khusyuk.

Keesokan paginya itulah… aku bangun pagi dg keadaan perut bawahku nyeri berasa mau period, tapi pas cek kalender aku ternyata udah telat 4 hari. Begitu test urin dan terlihat dua garis barulah aku kayak orang linglung, ga percaya. Setelah pulang dari bidan untu memastikan kehamilan, aku nangis-nangis. Campuran antar bahagia dan nyesal karena aku makan kerang banyak bangetttt !!!. Aku takut janinku kenapa-kenapa. mana kata bidan, disuruh cek lagi setelah 4 minggu untuk memastikan kandunganku berkembang atau tidaknya.

Penantian selama 4 minggu untuk jadwal cek berikutnya berasa lama dan menyiksa. Untuk menenangkan jiwa, paling bener adalah banyakin berdoa dan pasrah kepada Allah aja deh. Dari situ memang dapat kekuatan untuk berpikir positif dan apapun hasilnya, itulah yg terbaik menurut Allah.

Alhamdulillah, di kontrol pertama usia 8 minggu… aku dengar suara detak jantung si calon debay. Which is semuanya baik-baik aja. Menitik juga air mataku mendengar suara detak jantung calon anakku. Masya Allah Tabarakallah. It still feels amazing for me.

Masya Allah Tabarakallah, you’re so tiny…

Continue reading

Sebuah Kebahagiaan Baru

Assalamualaikum !

Pagi itu tanggal 11 Februari 2018, aku bangun pagi seperti biasa. Dengan perasaan kurang nyaman diperut bagian bawah seperti tanda-tanda bakal datang period. Lebih intens, dan lebih nyeri, sampai-sampai saya bergumam dalam hati “Kalo si bulan mau datang, ya datang aja, jangan nyakitin tuannya begini dong !”.

Sambil baring-baring, iseng aku cek aplikasi jadwal menstruasi dari smartphone. Fix aku udah telat period 4 hari, pantes nyeri begini. Tapi kok nyeri-nya beda. Tiba-tiba dorongan untuk ngecek besar sekali.  Aku ambil testpack kehamilan yang selalu aku stok. Then, I did my bussiness, mencoba peruntunganku dg si testpack. Gak ada perasaan yang gimana-gimana pas mau ngecek, sekedar menuntaskan penasaran aja. Jujur, aku takut kecewa… karena selama 3 tahun lebih hasilnya selalu negatif, even aku udah telat period selama 2 minggu. Continue reading

Candi Muara Takus – Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Riau

Assalamualaikum !

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72. Jayalah Indonesiaku !

Panorama Candi Tua dan Stupa Mahligai di Kompleks Candi Muara Takus

Berhubung sedang perayaan Hari Kemerdekaan, saya jadi ingin sharing perjalanan wisata sejarah lokal. Ketika kita ngomongin tentang Provinsi Riau yang suku mayoritas-nya adalah Melayu, maka apa yg pertama kali muncul dalam fikiran ?. Apakah logat bicara-nya yang mendayu-dayu ? Kulinernya yang kuat dengan rasa pedas dan asam ? Gadis-gadis manis santun berbaju kurung ? Atau nuansa Islami-nya yang kuat ?.

Sebagai keturunan Jawa yang tumbuh besar di Riau tanah Melayu, yang paling saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah nilai-nilai Islam yang masih dipegang teguh disini. Sehingga, saya waktu kecil tidak menyangka kalau di tanah Melayu ini ada situs sejarah penginggalan nenek moyang berupa Candi Budha Muara Takus. Mungkin, efek kalo belajar Sejarah bawaannya ngantuk melulu.

Bareng Ibu mertua dan adik iparku.

Sedikit flashback, di masa lalu masyarakat kawasan Asia Tenggara termasuk Nusantara (Indonesia) telah memiliki peradaban yang tinggi sebelum kedatangan Islam. Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan oleh para penyebar agama Hindu dan Budha, pengaruh ini telah berlangsung cukup lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15 M. Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti candi-candi, ukiran, dan sebagainya. Dan, Candi Muara Takus adalah salah satu dari peninggalan agama Budha yang masih terpelihara dengan baik di tanah Melayu.

Sudah lama saya ingin mengunjungi Candi Muara Takus, tapi ga pernah terwujud karena memang ga ada kesempatan mengunjunginya. Orangtua saya pun selalu bilang lokasinya jauuuh sekali. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba (asik!) sebelum memasuki bulan Ramadhan kemarin, Ibu dan papa mertua mengajak jalan-jalan akhir pekan mengunjungi satu-satunya Candi Budha yang tersisa di Bumi Melayu. Yeayyy !.

Ada yang kegirangan gara-gara kesampaian main di Candi !

Situs Candi Muara Takus terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke lokasi Candi. Perjalanan ke Kampar sih nyaman-nyaman aja, karena kondisi jalan yang bagus. Memasuki Gapura masuk kawasan Muara Takus di simpang tiga Batu Bersurat ada beberapa bagian jalan yang rusak, otomatis memperlambat laju kendaraan. Tidak ada petunjuk jalan ataupun tanda-tanda didaerah itu ada tempat wisata, karena dikanan-kiri jalan hanyalah hutan dan semak belukar. Berbekal info dari adaik ipar yang sudah pernah berkunjung sebelumnya, kami akhirnya sampai juga walau sempat kebingungan di jalan.

Ohya, tidak ada kendaraan umum yang beroperasi di sekitar simpang Batu Bersurat menuju areal Candi Muara Takus, yang artinya wisatawan dari daerah lain memang harus menyewa kendaraan untuk menuju ke lokasi Candi. Kecuali, memang suka petualang ala ala backpacker yang kuat jalan kaki di udara puaaanasss bin lembab, dan ga masalah numpang-numpang kendaraan (biasanya truk) yg lewat. Continue reading

[Book Review] Laughing All The Way to the Mosque

Hi, Assalamualaikum. Ramadhan Mubarak everyone ! It has been a joy to get know this book and read the whole hilarious memoir of Zarqa Nawaz. The book tells about her life experience as a Canadian Asian-Muslim living in the twenty-first century. No, this book isn’t like motivational or educational type. This book more like a witty honest confession of Muslimah. I couldn’t put down this book until I finished.

I picked up this book from my favorite bookshop (Harper Bookstore) for some reasons. I want to know how to live as a Muslimah in Non-Muslim Country based by a real Muslimah’s point of view. I want to know how they are living at different society. I want to know, how Muslimah can get a higher education and freedom to do career or business in the foreign country. Because all I heard is so many Muslimah that live in Non-Muslim Country get ‘a special treatment’  after September 11th attacks. I just can’t close my eyes when the world turn to be Islamopbhobic, and like everybody seems in high alert to Muslim or maybe just because we looks “different”, a stranger which isn’t a white-skin, and covered all over of the body.

Zarqa Nawaz is best known as creator of the TV show Little Mosque on the Prairie. She is also celebrating her first book, Laughing All the Way to the Mosque. Source : http://thestarphoenix.com

Zarqa Nawaz is an honest and sharp-minded. She can write ever detail small her deep thoughts and daily experience with a funny way. She had so many question about religion and she just can’t stop to get the answer. She is a truth-seeker. Maybe for some other conservative Muslims (include me) as woman her act is too far. But I appreciate it. Sometimes you need someone to speak your mind when you are too coward (or shy) to do it. Right ?

My favorite parts in this books are :

  • Medical school rejects. She talks about when she get rejection letter from the University of Toronto’s med school. It destroy her family dreams to see her become a doctor then she takes a chance to be a journalist and ended become a filmmaker.

  • Meeting Sami. In this part, she reveals getting pressure from her family to get married ASAP. She is so struggle to find the right man to be a partner of life. And how she met her husband, Sami. It’s so cute !. I quoted the satire conversation about Zarqa and her mom, because i think her mom got a point about marriage issue.

“Both of my parents firmly believed an arranged marriage was why they were still together. “Dating is the reason relationships fall apart,” she’d tell me. “All this talking and getting to know each other in a love marriage. And what happens ? You’re still dissapointed. If you have an arranged marriage, you don’t call it dissapointment, you call it a husband.”

“How could you marry someone you never saw before ?” I asked her. It just boggled my mind.

“That’s the way things were back then,” she said. “Love come afterwards.”

She had a point. They had been together for twenty-five years.

“Why can’t love come first?” I asked.

“White people fall in love beforehand,” said my mother, “and they still get divorced. So one method isn’t superior to the other. I had a suspicion that she thought her method was superior”(Nawaz 61).”

Continue reading

[Book Review] Eleanor and Park

Last month, showered by fierce afternoon sunlight I went to my favorite book shop in town to hunt a new book. I saw Eleanor and Park by Rainbow Rowell which is a popular book, it got high rate in Goodread and people said it superb. Then, I bought it. I had a habit to check my wish-list book in Goodread to convince me that book was worth to buy or not. Because, I didn’t want to make my every single penny spent useless if I didn’t like the book content.

So, I took about two weeks to finished the whole book. Eleanor and Park present the unusual first love story with extraordinary protagonist. The author brings us to travel back to the past at 1986. There’s no smartphone to play digital song, but Walkman. And I love it. It feels vintage. So, let me give you a quick introduce for our protagonists :

Eleanor Douglas is a big girl with freckles skin and crazy flaming red hair, beside that her fashion taste so ‘different’. She wears men’s clothing. She is a broken home family member, her mom married again with an evil man, Richie. Her stepdad is a terrible guy who act like a King just because he feed her mom and her siblings. The fact is her family so poor even they couldn’t supply her with shampoo or a toothbrush. Eleanor spends most of her time at home trying to be as invisible as possible. But his step-dad never let her in peace. He constantly make her family in horror state.

“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.” ― Rainbow Rowell, Eleanor & Park

Park Sheridan, he is mixed blood (Irish dad, Korean mom) and unlike his younger brother Josh, he looks more Korean than anything else. Park thought he is an outsider. He hates sports but he takes taekwondo, and he’s great at it. He doesn’t like partying, girls, or the social scene at his school, and he’s just popular enough not to get teased by other kids. He’s obsessed by music, he loves comic books, something that he will share with Eleanor. Continue reading