Hamzah Abdurrahman’s Birth Story

Assalamualaikum !

Hamzah’s little foot

Alhamdulillah, setelah hampir 4 tahun menanti akhirnya anak pertama kami lahir kedunia ini. Segala puji dan syukur hanyalah untuk Alloh yang telah memberiku kesempatan untuk merasakan menjadi Ibu. Memang proses persalinan tidaklah mudah, semua Ibu punya ceritanya masing-masing. Ada yang prosesnya singkat dan lancar, ada yang sulit dan penuh air mata. Semua sudah ditakdirkan berjalan sesuai kehendak-Nya. Yang terpenting adalah ibu dan anak selamat lahir ke dunia. Postingan ini lebih mirip rangkuman diary, lebih mudah buatku menceritakannya berdasarkan kronologi. Singkatnya, selamat membaca !

Senin, 1 Oktober 2018

Seperti yg udah ku ceritakan di postingan sebelumnya, kontrol di minggu ke-38 hasilnya bagus. Posisi kepala janin sudah masuk panggul. Berat janin 2,9 kg, air ketuban cukup, dan kondisiku siap untuk melahirkan. Dokter meresepkan obat “pelunak jalan lahir”.

Saat menebus obat, aku ditanyain sama apoteker-nya, apa aku udah siap melahirkan besok. Karena obat itu semacam perangsang pembukaan. Jujur mental-ku masih belum siap. Karena banyak urusanku yg belum kelar. Aku maunya lahiran sesuai HPL aja tanggal 15 Oktober. Obat tetap ku tebus tanpa ada niat untuk diminum.

Selasa, 2 Oktober 2018

Habis sholat Ashar aku ngerasain mules, rasanya kayak kontraksi palsu tapi gak sakit. Karena kontraksi palsu yg sebelumnya sakit banget, mules yang kali ini gak ada apa-apanya.

Setelah maghrib, mulesnya makin kuat seperti kram saat menstruasi. Dalam hati udah mulai khawatir, ini kontraksi palsu apa mau melahirkan.

Abis Isya, sambil nunggu suami yg lagi diluar aku main ke kamar adek iparku. Ngobrol-ngobrol, dan kubilang perutku mules. Adik ipar nelpon temannya yang kebetulan bidan. Temannya curiga, jangan-jangan udah bukaan 1. Tapi aku dengan sotoy-nya yakin belum bukaan, karena gak sakit. Serius !. Malamnya, ku masih bisa tidur enak, nyenyak.

Rabu, 3 Oktober 2018 (THE DAY)

Pukul 04.00 pagi

Aku terbangun karena berasa ada yg keluar, pas ku-cek ternyata lendir darah. Barulah ku yakin, “Wah udah waktunya ini !”. Setelah subuh lapor ke Ibu Mertua, kasih tau udah ada tanda. Ibu mertua langsung minta aku ke RS saat itu juga. Aku masih santai, belum terasa sakit yang bikin panik, jadi buat apa cepat-cepat ke RS.

Pukul 08.30 pagi

Aku berangkat ke RS tanpa bawa persiapan apapun. Hanya baju di badan dan tas kecil, nyantai abis. Karena dari yg kubaca-baca di pengalaman orang lain, dari pembukaan 1 ke 10 itu lama, bisa seharian. Jadi rencananya aku mau cek terus pulang lagi, gitu. Masuk ke IGD, aku diminta baring dan di-cek pembukaan.

“Bu, udah bukaan 3 ya tapi kantung air ketubannya belum pecah nih”, kata perawat-nya.
“Ok mba, saya boleh pulang dulu ga ya ?…”, tanyaku.
“Nggak boleh bu, udah disini aja. Ini kemungkinan sore nanti ibu udah lahiran loh ”, jawab mba Perawat.

Seketika aku panik, mental masih belum ready. Agak kesal sama diri sendiri yg se-ignorant itu, padahal klo udh masuk 38 weeks itu harusnya siap. Karena bayi bisa lahir kapan aja. Segera aku minta suami pulang ambil koper yg udah kusiapkan jauh-jauh hari. Terus, telpon ke emak minta doa-nya. Emak bilang mau datang nemenin aku.

p style=”text-align: justify;”>Nggak lama, barulah aku ngerasain kontraksi itu sakit. Sakitnya masih bisa ditahan. Setiap jeda kontraksi, aku coba rileks-kan badan. Berpikir positif, atur nafas, zikir dan yakin aku bisa lahiran normal. Aku masih bisa makan, ngobrol sama suami, dan jalan-jalan.

Di ruang bersalin, ada seorang ibu yg pas aku datang dia udah bukaan 6. Setengah jam kemudian, anaknya udah lahir aja dong. Cepet ya, masyaAlloh !. Aku termotivasi. Aku baring miring ke kiri, kontraksi semakin kuat, semakin sakit, dan pembukaan berlangsung cepat.

Pukul 12.00 siang

Emakku datang, aku udah bukaan 5, sakitnya makin kuat. Begitu liat aku meringis, emakku tetap dengan kata-kata mutiaranya. “Orang melahirkan gak boleh nangis, pantang, tahan sekuatnya !”. Aku sadar nangis dan meraung itu ga ada gunanya, ngabisin tenaga. Lagian kalo jerit-jerit perawatnya males ngurusin .

Selama kontraksi ku pegangan sekuat-kuatnya ke tiang infus buat pelampiasan. Aku ga mau pegang tangan suami, kasian takut tangannya biru-biru kena cengkramanku. Anehnya, selama kontraksi aku tu gak bisa dielus, dibelai, disentuh, apapun itu. Sekujur kulitku berasa sakit. Jadi pas aku disentuh, badanku kayak disetrum, sakit semua. Tiap kali aku mau dibelai, otomatis aku melotot “Don’t touch me please !”. Biarkan aku berjuang sendiri.

Pukul 02.30 siang

Aku udah di pembukaan 7 prediksi dokter habis ashar aku sudah melahirkan. Kantung ketuban masih belum pecah. Tahap sakitnya udah yg SUAKIIIIITTT BANGETTT. Rasanya mules kayak mau BAB pengen ngeden tapi ga boleh. Pinggang mau copot ya rasanya ibu-ibu. Duh, minta ampun ya Alloh. Berasa dosaku banyak, takut mati saking sakitnya. Iya aku memang cemen. Tapi diantara sakitnya, aku masih bisa jalan ke toilet loh.

Nggak seperti di pembukaan sebelumnya yang berlangsung cepat, pembukaan 7-ku rasanya lamaaaa banget. Aku udah lemes nahan sakit.

Sampai pukul 6 sore, pembukaan gak maju-maju. Kata perawatnya posisi kepala anakku masih tinggi dan puncak kepala-nya gak tepat di jalan lahir alias malposisi.

Sakitnya udah bertambah-tambah. Ekspresi wajah udh ga karuan nahan sakit. Karena aku sempat panik, detak jantung anakku jadi tinggi. Perawat menyarankan aku di induksi aja biar cepat prosesnya.

Ngeliat kondisiku yg udah lemas. Sempat ngelindur dan bikin wasiat kalo ada apa-apa sama aku, selamatin anakku aja dulu. Emakku jadi sedih, beliau ragu aku bakal tahan kalo diinduksi. Karena katanya di-induksi itu sakitnya PARAH, kayak dibakar katanya (beneran ga sih ?). Sedangkan aku anaknya ga tahan sakit. Se-galak-galaknya emakku, beliau tetap gak tega ngeliat aku kesakitan. Sampe beliau nangis (Ya Alloh, sampe tua begini aku tetap aja bikin orang tua khawatir).

Akhirnya setelah diskusi sama emak dan suami tentunya, aku minta pembatalan induksi dan di operasi aja. Pertimbangan-ku dan suami udah berjam-jam gak ada kemajuan. Sedangkan aku udah lemes kayak ayam potong yang nemplok tak berdaya. Aku pun berfikir sebaiknya anakku cepet keluar biar dia gak stress di dalam, dan penderitaanku berakhir. Udah gitu aja. Setelahnya, aku dipersiapkan untuk ke ruang operasi. Aku udah ga sanggup angkat badan jadinya dibawa pake kursi roda.

Pukul 07.00 malam

Aku masuk ruang operasi, dibaringkan. Kontraksi masih tetep lanjut dong, malah makin menjadi-jadi. Sakit yg ga bisa dijelaskan lagi kakak. Aku udah lupa caranya kontrol nafas, sampe gak malu mengerang, njerit, mohon-mohon minta tolong ke dokternya kasih tau gimana cara meredakan sakitnya.

Gak lama dokter anestesi datang, aku dibius setengah badan. Pas disuntik tulang punggung, rasanya nggak sakit sama sekali. Semua sakit kalah sama kontraksi di bukaan 7.

Setelah disuntik, langsung nyesss sensasi dingin kebas sampai ke ujung jari kaki. Sakitnya kontraksi hilang, berganti rasa dingin disekujur tubuh sampai gigiku gemeletuk. Aku pasrah mau didedel kayak apa.

Proses operasi sendiri berjalan rileks, dokter-dokternya ngobrol dengan santai. Nggak kayak suasana operasi yg kubayangkan, bakal tegang dan kaku. Aku memilih tutup mata dan berdoa semoga semuanya lancar, anakku bisa keluar dengan selamat.

Aku sadar dg semua aktivitas dokter di badanku, walau kebas tapi aku bisa merasa perutku ditekan waktu anakku diambil keluar dari perut. Yang sempat bikin takut, begitu bayinya diambil, dadaku sesak kayak ditekan. Kata dokter sih gapapa. Pas bayinya udah keluar rasanya lega, perut kontan enteng. Samar-samar kudengar suara tangisnya anakku.

Assalamualaikum Hamzah !

Pukul 07.30 malam

Alhamdulillah Hamzah lahir dengan selamat. Hamzah dibersihkan, dan dipertemukan denganku saat proses jahit menjahit sedang berlangsung. Ya Alloh, ngeliat anak yang setengah mati ku perjuangkan untuk lahir ada di depan mata, rasanya priceless. Gak bisa kontrol perasaan lagi, aku nangis. Bahagia, terharu, dan lelah jadi satu. Masih nggak percaya aku udah melewati suatu fase besar dalam hidup.

Selanjutnya, aku ditempatkan di ruang observasi. Kurang lebih satu jam kemudian aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Efek bius perlahan menghilang, dingin menggigilnya berganti dengan rasa perih diperut. Perawat datang membawa Hamzah dan aku diminta untuk menyusui-nya. Ya Alloh ya Rabb. Akhirnya aku bisa berdekatan dengan anakku. Senangnya.

Malam itu, Hamzah terus menerus nangis pas tidur di box-nya. Aku coba susui, dan emakku meletakkan Hamzah dipelukanku. Dan dia tidur dengan nyenyak sampe pagi.

Hamzah, you’re worth for every pain I felt. Love you.

Tanggal 3 Oktober 2018, adalah hari yang bersejarah buatku. Karena di hari itu, aku pun terlahir kembali menjadi seorang Ibu. Ibu dari anak laki-laki yang MasyaAlloh… sehat, sempurna dan lucu. Hamzah Abdurrahman. Sebuah amanah yang Alloh titipkan padaku dan suami. Semoga Hamzah menjadi Qurrota’ayun bagi kami kedua orangtuanya, jadi anak yang bertakwa, taat pada Alloh dan Rasul-Nya. Aamiin.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

(QS. Al Ahqaaf (46): 15)

Advertisements

Tagged: , , , , ,

5 thoughts on “Hamzah Abdurrahman’s Birth Story

  1. deadyrizky December 3, 2018 at 10:35 am Reply

    1st time coming here
    ya Allah ceritanya hampir sama kayak anak pertamaku
    tetep semangat yo mbak
    saya juga lagi bikin birth story anak ketiga saya yang vbac nih
    hehe

    • Eka Novita December 3, 2018 at 11:11 am Reply

      Ditunggu tulisannya mas, pengennya bisa melahirkan normal untuk anak yg kedua, InsyaAllah 😊

  2. Haya Najma December 3, 2018 at 10:12 pm Reply

    Masya Allah 😀
    aku juga waktu kontraksi ga mau dipegang… hihi

    • Eka Novita December 3, 2018 at 11:38 pm Reply

      Padahal kata orang klo dielus-elus bakal nyaman, ga ngefek dikita ya mba 😁

      • Haya Najma December 21, 2018 at 9:18 pm

        iya.. malah pengen nampol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: