Dimana Membeli Buku Import Murah di Pekanbaru ?

Pertanyaan diatas cukup sering saya dengar, terutama dikalangan penyuka buku bacaan berbahasa Inggris. Selain Gramedia, salah satu toko buku yang menjual buku-buku berbahasa Inggris/import di Pekanbaru adalah Paperclip. Harga yang dibandrol cukup mahal bagi saya. Untuk buku keluaran baru harganya bisa diatas Rp. 200.000.

Sebenernya, untuk cari buku import sekarang sudah mudah ya, ada banyak toko buku online seperti, Open Trolley, Books&Beyond, Periplus, dll. Tapi, kendalanya di saya ya itu tadi, kesediaan dana yang terbatas. Memang sih ilmu itu mahal harganya, tapi kalo bisa diminimalisir, ya kenapa nggak ?. Teman saya menganjurkan untuk download aja e-book aja, kan banyak yang gratisan. Nah itu yang saya hindari. Kasihan mata saya berlama-lama menatap layar smartphone. Bisa-bisa minus saya nambah. Lagian baca buku paling enak digenggam lah, menikmati sensasi membacanya lembar demi lembar.

Karena terganjal harga yang cukup mahal, saya mulai rajin kepo-in Instagram dengan menggunakan hashtag #jualbukuimporpku #tokobukuimporpku #bukuimporpekanbaru, absurd nian dah !. Hahaha. Terus, dari hasil cerita-cerita sama Cece Manajer di tempat les, saya dapat informasi kalo di Pekanbaru ternyata ada yang jual buku-buku import dengan harga cukup miring , yaitu Harper Bookstore !. Yang mana tagline mereka adalah Quality Imported Books for Less Price. Awalnya, toko buku ini agak membingungkan posisinya, ada yang bilang di Jalan Jati, ada yang bilang di Pemuda Citywalk, ada yang bilang di Sadira Plaza. Nah terus aku harus kemana dong kakak ?. Selidik punya selidik, saya menemukan akun Instagram toko buku tersebut @harperbookstore. Dari Instagram juga-lah saya mendapatkan alamat pasti toko buku-nya.

16142369_1835056293416799_7698398139056676855_n

Dari kepo-kepo Instagram saya mengunjungi toko buku-nya yang beralamat di Jalan Jendral No. 12, Kec. Labuh Baru, posisinya pas di depan IndoMaret. Yang ternyata cukup dekat dengan lokasi tempat kerja saya. Padahal tiap hari saya lewati, tapi kok nggak ngeh. Posisi tokonya memang agak menjorok kedalam. Jadi nggak terlalu keliatan, apalagi buat saya yang kalo lagi naik motor pandangan lurus kedepan pantang celingak-celinguk. Takut nabrak orang kan.

Begitu sampai di tokonya, saya langsung kalap pengen beli semua bukunya. Gimana nggak, harga buku-bukunya sangat terjangkau. Buku-bukunya baru, bagus, dan bahkan ada yang hardcover dijual dibawah Rp.200.000 aja. Tapiiii, saya nggak beli langsung banyak dalam satu waktu kok. Belanja buku memang salah satu prioritas saya tiap bulan, tapi tetap saya membatasi diri dengan belanja satu buku saja dalam sebulan. Kenapa ?, karena sayang aja beli buku banyak-banyak tapi nggak dibaca. Jadi dalam tempo satu bulan, saya harus selesai baca satu buku. Kalo bacaan saya sudah tamat kurang dari sebulan, solusi saya adalah pinjam buku teman. Jadi, intinya tiada hari tanpa baca buku sih. Azik !. Continue reading

Advertisements

[Book Review] Beautiful Disaster

img_20170223_222529-02

Beautiful Disaster, 319 pages.

Last month I purchased this book, it’s just because the title looks appealing. Something beautiful but bring disaster. What was that ?!. And do you know ?, this book is very readable, addictive, and captivating. Completely page-turner !

When I read the synopsis, I thought it just like usual love story, about a bad boy that falling in love with innocent girl, decorated by little bit contravention and intrigue, then they would happily ever after. But, this book offered you roller-coaster conflicts. Even I felt exasperated with the characters but in the end I’d turn back to love them. Because Abby and Travis were just too cute to be true. Here’s the synopsis :

The new Abby Abernathy is a good girl. She doesn’t drink or swear, and she has the appropriate number of cardigans in her wardrobe. Abby believes she has enough distance from the darkness of her past, but when she arrives at college with her best friend, her path to a new beginning is quickly challenged by Eastern University’s Walking One-Night Stand.

Travis Maddox, lean, cut, and covered in tattoos, is exactly what Abby needs—and wants—to avoid. He spends his nights winning money in a floating fight ring, and his days as the ultimate college campus charmer. Intrigued by Abby’s resistance to his appeal, Travis tricks her into his daily life with a simple bet. If he loses, he must remain abstinent for a month. If Abby loses, she must live in Travis’s apartment for the same amount of time. Either way, Travis has no idea that he has met his match.

Continue reading

Murni

​Hujan, hening dan sendu

Ada doa yg kulantun

Khidmat sekaligus pilu

Terhadap asa yang belum hendak mendekat

Dingin, kudekap hatiku erat-erat

Jangan sampai jatuh

Lirih kuminta pada yang Kuasa

Titahkan jiwa suci diatas sana untuk memilih aku

Sebagai penjaganya

Penaungnya

Titahkan jiwa itu mengisi bagian kosong dari diriku

Yang belum sepenuhnya utuh

Naluri dalam diri kuat berdebur

Menciptakan badai

Memancing tangis

Membuatku gelisah

Tenggelam dalam kecewa

Rindu aku

Pada jemari kecil itu

Yang lembut

Yang wangi

Yang murni

Yang suci

I Start to Read English Books

Assalamualaikum, dear readers.

Am i still have readers ?… Ha !

So yeah, I’ve been starting to read English book since last November. And i thought it’s like an improvement for myself, because I’ve never read English book before. I only read novel in Bahasa or the translated version. But recently, I want to know how the taste of reading foreign books, the original one. I believed reading books could be a great way to gain new vocabularies. I wanted to see and learn how the author use grammar in actions. And, I had an intention to develop my understanding of a language. Some people said learn English by reading it may feel like a slow process, but in my oppinion it would be effective.

Thus, from November until January i finished 3 books.

In November I had read The Secret Ingredient by Laura Scahefer. I chose this book because i want to read something easy and light, like warming up before you do exercise. That time I wish that I wouldn’t to be dizzy after read so many words in foreign language. Then, after I read through the pages and finished it in 2 weeks. I felt the utterly joy of reading. I would like to continue it. I made a target that I must to finish reading an English book (or more) in a month.

img_20170124_212927-01

My very first English novel…

In December, I  borrowed The Fourteenth Goldfish by Jennifer L. Holm from my friend Miss Sabar Hernika (I wish you all can check her amazing blog HERE), and I accomplished it in 2 weeks. The story was talk about Ellie an eleven years old girl and his grandfather that obsessed to be a forever young. I like the story very much, and i thought to make a review in another post. Continue reading

Welcome 2017

Assalamualaikum.

Akhir 2016 saya ditutup dengan dukacita, kakek saya dari pihak Bapak meninggal dunia. Saya pun tak menyangka bahwa lebaran kemarin adalah kunjungan terakhir saya menjumpai beliau. Lengkaplah ditahun ini saya kehilangan nenek dari pihak Ibu dan kakek dari pihak Bapak. Mudah-mudahan Allah mengampuni, menerima amalan, dan melapangkan kubur mereka, Aamiin.

Melihat kembali kebelakang, tahun 2016 saya banyak membuat keputusan penting. Salah satu keputusan itu adalah resign di Sekolah SMK tempat saya bernaung dan kembali menjadi jobseeker. Alhamdulillah tidak menunggu lama di bulan Juli 2016 saya memulai pekerjaan baru yang masih dibidang pendidikan. Bisa dibilang saya cukup terkejut dengan ritme dan lingkungan kerja baru.

Dan saya menyadari, bahwa ilmu saya sangatlah sedikit.

Diatas langit masih ada langit.

Saya tidak boleh patah semangat.

Saya tidak boleh menyerah dan kalah.

Saya harus terus belajar dan belajar.

Bukan saya sok sibuk sih, tapi aktifitas saya belajar keras dan harus mengurus rumah tangga setiap hari itu ternyata sangat melelahkan. Saya itu sadar, saya tidak pintar karena itulah saya harus usaha ekstra daripada orang lain untuk memahami suatu topik. Dengan kapasitas saya yang butuh waktu lama untuk bisa menguasai suatu hal, fikiran saya tidak bisa dibawa kemana-mana. Karena itulah blog ini sudah sekian lama tidak sempat saya lirik. Hahaha.

Mudah-mudahan di 2017 ini saya lebih pandai memenej waktu. Permohonan dan harapan-harapan besar di tahun ini akan saya lantunkan dalam doa-doa. Semoga Allah mengabulkannya. Semoga 2017 menjadi tahun yang baik untuk kita semua. Aamiin.

Wassalam.

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 2)

Assalamualaikum…

Whatttttt… Sudah 4 bulan rupanya saya nggak ngepost tulisan apapun disini. Keasikan jadi silent reader sampe blog sendiri dianggurin. Malam ini saya kangen nulis dan saya menemukan tulisan ini draft blog saya. Oh well, daripada jadi tulisan mubazir bolehlah yaaa saya posting disini sekalian. Wkwkwkwk… Tidak ada kata terlambat untuk mengenang kenangan manis kan…

***

Lebaran hari pertama kami sekeluarga besar ngumpul di rumah nenek di desa Negeri Lama Seberang, sungkeman, makan-makan, bagi-bagi angpau, dan sibuk foto-foto sampai baterai handphone lowbatt. Seru banget. Semua happy, semua ketawa, semua bersuka ria. Memang terasa betul nikmat berkumpul di Hari Raya bersama orang-orang yang tersayang. Di sore hari lebaran pertama keluarga saya dan keluarga adik bapakku (Bulek Atun) berpamitan ke Kakek-nenek untuk berangkat ke rumah sepupu saya (anak dari Bulek Atun) di daerah Kuala Tanjung.

lebaran-1

Semoga kakek-nenek, dan kedua orangtuaku diberikan umur panjang yg bermanfaat. Aamiin…

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Butuh waktu sekitar 5 jam dari Kuala Tanjung menuju Parapat. Walau lahir di Sumatra Utara ini pertama kalinya saya mengunjungi Danau Toba. Jauh-jauh hari saya udah request ke Bapak untuk jalan-jalan ke Berastagi, tapi karena keterbatasan waktu nggak memungkinkan untuk bisa kesana. Agak kecewa rasanya, udah jauh-jauh ke Sumut tapi ga main ke Berastagi. Padahal udah membayangkan bakalan foto sebanyak-banyaknya disana terus dipamerin ke teman-teman di Sekolah. Buahahahaha. Karena niatnya nggak baik, nggak terwujud deh.

Kalo udah di Danau Toba wajib hukumnya ke Tomok sebuah Kabupaten di Pulau Samosir, karena nggak seru banget kan cuman sekedar liat-liat aja. Mesti dijelajahin dong !. Kami naik kapal menuju Samosir. Tiketnya murah aja kok, Rp. 8000 sekali jalan. Danau Toba memang luasssssss banget, pemandangannya juga indah. Di pulau Samosir kami lihat atraksi Sigale-gale (boneka kayu yang digerakkan pake tali sambil diiringi musik tradisional Batak), sayang pas ngeliat atraksi Sigale-gale saya lupa ngerekam, jadi nggak ada kenang-kenangan deh. Abis lihat atraksi Sigale-gale, kita beli Souvenir buat oleh-oleh keluarga di pekanbaru. Ohya, Bulek Atun beli ikan asin khas Samosir, yg setelah kami cicipi bikin menyesal. Nyesal gak beli banyak. Enakkk bangettt.

lebaran2

Sejuk mata memandang

photogrid_1476549704024

Menantu yang baik, bawain tas Mamak Mertua… So sweet banget lah Bojo…

Pulang dari Danau Toba istirahat di pinggir jalan sambil ngeduren. Berhubung sekeluarga doyan durian, langsung ga pake basa-basi langsung duduk dan hajar itu durian. Durian Medan emang udah jaminan enaknya, manis dan dagingnya tebel. Kalo saya lebih suka durian ada pahit-pahitnya gitu. Lebih enak. Disaat semua orang makan durian, suami saya cuma jadi penonton. Suami punya kenangan buruk sama durian sampe diopname segala. Jadi seenak apapun durian, dia ga bakal tergoda.

photogrid_1476550731145

Ngeduren…

Pulang dari Danau Toba dan ngeduren kita langsung tepar, ga jalan-jalan kemana-mana lagi. Langsung tancap gas menuju Kuala Tanjung untuk istirahat. Berhubung keesokan harinya sepupu saya masuk kerja, kami nggak ada agenda buat jalan-jalan jauh. Kami cuma main-main ke lokasi kerja sepupu, pabrik dan Pelabuhan PT. Inalum yang berbatasan sama Selat Malaka. Berhubung wilayah pabrik adalah hal yang confidental, saya nggak bisa share foto-fotonya disini. Tapi yang pasti pabriknya bagus, rapi dan nggak ada aroma khas pabrik yang bikin polusi. Nggak kayak pabrik kertas di daerah saya yang bau dan kelihatan kusam dimakan karat, apalagi limbahnya yang mencemari sungai Siak. Kata sepupu, harusnya kami mampir ke Asahan untuk ngelihat Air Terjun Sigura-gura yang jadi sumber pembangkit listrik untuk PT. Inalum, konon disana pemandangannya cantik. Tapi, (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu kita nggak sempat main kesana. Continue reading