Suami Istri Beda Selera Kuliner ?

Kamu baru kenal pasangan mu yg sebenarnya setelah menikah. Ga heran banyak yg kaget, dan ngerasa banyak perbedaannya. Ga sehaluan. Perbedaan yg kecil jadi keliatan mencolok, dibesarkan, jadi biang keributan.

Aku udah aware sih masalah ini. Asalkan perbedaannya bukan masalah prinsip dan ibadah aku InsyaAllah bisa mentolerir.

Setelah aku menikah, jujur aku kagok dg lifestyle suami dan keluarganya untuk urusan MAKAN.

Aku biasa dg pola makan prihatin, irit, karena keadaan keluargaku sederhana. Bukan karena kekurangan tp emang udh terbiasa begitu dr dulu. Aku pernah ngekos, terkondisikan harus ngirit utk urusan makan. Setelah nikah, aku dihadapkan dg selera makan suami yg lebih royal dari aku. Ini dari sudut pandang aku ya, bagiku sih mewah. Tp mungkin bisa biasa-biasa aja utk mereka yg menengah keatas.

Selama ini, sebisa mungkin aku masak sendiri. Tapi dulu waktu kerja, kami makan siang diluar. Sejauh ini suami ga pernah mencela makanan yg kubuat. Ga pernah bilang ga suka. Tapi klo belio ga suka ya ga dimakan. Alhasil kan aku yg makan sendiri, dan kebanyakan. Berujung mubazir *sedih.

Aku, dari kecil udh terbiasa makan apa yg ada, apa yg disediakan. Kalo ga mau makan karena ga cocok selera, ya silahkan ditahan laparnya. Dirumah ga disediakan alternatif makanan lainnya. Even cemilan pun nggak ada, prinsip emak kalo lapar ya makan nasi, bukan ngemil. Ngemil ga bikin kenyang. Anda lapar ? makan nasi dong !. Oh well…

Keluargaku keturunan Jawa Sumatera. Menu dirumahku lebih banyak menu sayuran dan protein nabati (tahu, tempe). Sesekali lauk ikan teri, ikan asin yg jd favorit orangtuaku. Setelah finansial keluarga membaik lauk protein hewani seperti ayam, daging, seafood, telur muncul dua-tiga kali seminggu. Sebagai anak ya nurut aja lah ya, dan terbiasa. Aku jg ga pernah nuntut minta lauk ini-itu, karena dasarnya susah makan. Malas makan tepatnya. Ga heran dulu kurus bgt.

Suamiku, dari keluarga Melayu-Minang. Urusan makanan mereka cenderung royal. Setiap hari lauk protein hewani pasti ada. Karena gaya hidup orang Minang-Melayu khasnya selalu ada gulai, asam-pedas, dan sambalado dirumahnya.

Ibu mertuaku biasanya menyiapkan lauk lebih dari satu jenis untuk variasi. Jadi satu hari itu ada, gulai ayam dan asam pedas ikan. Besoknya ada gulai telur dan sambalado ikan patin. Besoknya lagi sambalado ayam dan rendang / cincang daging. Besok-besok nya lagi sambalado ikan asin campur terong, dan ikan goreng. Repeat. Dan menurut aku semua lauk-pauk itu mewah.

Tapi di rumah ibu mertuaku menu sayuran jarang tersedia, paling tumis kangkung, bening bayam, dan lalapan timun.

Keluarga suamiku jg suka bgt jajan. Kadang-kadang sate, mie goreng, nasi goreng, bakso, dll. Yang hal itu sangat jarang dilakukan keluargaku. Aku boleh jajan, tp ya ga sering-sering paling 2-3 kali dlm sebulan. Nggak hampir tiap hari kayak suamiku.

Nikah beberapa bulan, aku tandai klo suami ga suka tempe, tahu, ikan laut. Akutu sampe ga habis pikir kok bisa ada orang ga suka tempe dan tahu. Seenak itu. Sok banget lah. Huh.

Suamiku favoritnya makan ayam dan telur. Kalo lg bingung masak apa, masak telor dadar to the rescue. Gampang. Belio suka daging sapi, tp harus dimasak empuk sekali. Soalnya problem belio klo abis makan daging selalu seliliten (sisa daging nyelip digigi). Gara-gara seliliten belio bisa ngeluh mulu giginya sakit. Siapa suruh giginya renggang, hehe.

Tapiiiiii, yakaliii aku harus masak ayam, daging dan telur melulu. Bosaaaan. Ga aman jg buat uang bulanan. Bisa besar pasak daripada tiang.

Aku harus bisa membuat suami suka dg lauk-pauk yg sederhana. Ga boleh yg mevvah terus.

Karena belio ga suka tempe-tahu. Sengaja bgt ku masakin aneka jenis masakan berbahan dasar tempe-tahu. Sampe belio ga punya pilihan dan terpaksa. Skrg, belio udh mau makan tempe-tahu. Asalkan dibacem. Yeay !

Urusan ikan laut jg begitu, klo udang, cumi, kepiting sih belio doyan. Tp klo ikan kurang suka. Padahal kan makan ikan bikin pinter. Aku coba-coba masakin ikan laut. Ketemulah ikan laut yg mau belio mau makan. Ikan serai yg ukurannya kecil-kecil di goreng kering sampe krispi terus dibumbui sambalado. Ohya, belio jg jadi suka ikan gembung asin rebus, tp digoreng lagi. Hahaaha.

Belio juga jd suka jamur sawit. Secara ya aku kan dari kampung. Di daerahku banyak perkebunan sawit. Klo musim hujan banyak banget tumbuh jamur. Jamur itulah yg kami konsumsi untuk lauk sehari-hari, enak. Kalo liat dr jenisnya sih jamur merang. Tp ibu mertuaku yg ga pernah makan jamur, ga doyan.

Sekarang berkat pengaruh dari aku, suami udh nggak terlalu picky eater lagi. Udah mulai berani coba makan baru. Nyobain sayur yg aneh-aneh. Yang mana belio taunya sayur tu cuma kangkung, bayam, pucuk ubi, paku (pakis) dan timun.

Skrg belio udh tau sayur asem itu enak, malah request daun melinjonya dibanyakin. Hehe.

Udh tau sayur pokchoy, yg mana klo masak Indomie harus dikasih pokchoy.

Udah tau daun labu muda enak klo dimasak kuah santan.

Udah tau jantung pisang bisa dimasak jadi sayur. Walau belio ga doyan.

Udah tau kalo daun katuk rasanya enak, belio kira sayur katuk itu cuma penghias pagar halaman.

Udah tau klo sayur genjer itu sedapppp bgt ditumis pedes pake terasi dan ditaburi teri medan goreng. Genjer bukan lg sebagai tanaman tempat kodok bersemayam dimusim hujan dimatanya.

Apa lagi ya ?. Banyak deh…

Syukur Alhamdulillah, duit bulanan aku yg pegang, jadi aku bisa atur seberapa sering suamiku boleh jajan. Kalo udh agak keseringan barulah aku mulai cerewet.

“Yakin mau sate ?. Kan td udh makan malam ?. Masa ga kenyang ?. Nafsu jangan diikuti dong !. Orang muslim itu makan pake satu lambung. Kalo lapar makan nasi lah, nnti aku bikinin telor dadar / indomie…”, dan suami manut.

Tapi kadang aku bisa luluh juga, kasian sama belio… Udah capek-capek kerja, masa mau nyenengin diri makan enak aja nggak boleh.

Suamiku jg ngasih banyak pengaruh ke aku dalam hal wisata kuliner. Aku jd bisa nyobain macam-macam jajanan yg nggak pernah aku cobain sebelum nikah sama belio.

Sala lauak, ternyata enak bgt ya Alloh. Makan satu pengen lagi, lagi, dan lagi. Tau tau tenggorokan udh sakit. Banyak minyaknya cuy !.

Mie aceh, sate danguang-danguang, sate padeh, mie tek-tek, nasi goreng kambing, mie ayam pakde, lontong gulai paku pake tunjang dan kikil. Semua ini jajanan favorit aku. Bahkan kadang-kadang aku bisa craving. Padahal dulu aku jarang bgt jajan.

Makanya beberapa bulan nikah, BB ku naik 10 kilo, dijajanin terus sih. Kalo sekarang abis melahirkan dan menyusi BB ku udh turun lg kyk masih gadis, 44-45 kg. Ya iyalah begadang tiap malam, plus disedot lemak-lemak ku sama si bayi. Auto kurus akutu.

Untungnya, sejauh ini kami sama-sama suka pedas, suka cabe rawit, suka yg berkuah dan gurih. Nggak terlalu suka dessert yg manis-manis. Jadi semua perbedaan yg diatas td ga terlalu mencolok, dan ga bikin berntem juga. Malah saling mempengaruhi in a good way kan ?

Kalo kalian gimana ? Ada perbedaan mencolok ga urusan selera makan dg pasangan ?

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: