Cerita Trimester Ketiga

Assalamualaikum…

I write this to remember the sweetness of my first pregnancy experience.

Memasuki trimester ketiga, stage terakhir dalam kehamilan tantangannya udah beda lagi ya. Mulai sering bolak-balik ke toilet. Susah tidur di malam hari. Hawa berasa panas, jadi pengen mandi terus dan mulai sakit punggung juga. Yang paling horor adalah munculnya stretchmark secara brutal di perutku. Padahal dari awal hamil ku udh rajin balurin perut pake minyak zaitun dan VCO. Ga pernah digaruk juga (gak tau ya klo lg tidur, kan lg ga sadar). Sampe trimester kedua perut masih bagus. Kok mendadak di trimester ketiga muncul dengan parahnya. Perutku kayak disambar petir, penuh dg garis merah-biru. Tanda perjuangan kata ibu-ibu diluar sana.

Yasudah, segala ketidaknyamanan selama hamil itu wajib disyukuri. Seperti yang aku yakini, apapun yang menimpa seorang mukmin itu baik. Rasa tidak nyaman dan sakit sekecil apapun kalo dilewati dengan ikhlas akan berbuah pahala.

Di bulan ke 7, minggu ke 30 kami kontrol lagi ke dokter. Posisi plasenta agak ke bawah tapi tidak bermasalah. Air ketuban bagus, panggul-ku masih bisa untuk melahirkan normal asal berat janin tidak lewat dari berat 2.7-2.8 kg. Kondisi bayi pun Alhamdulillah bagus dan sehat. Dokter menyarankan untuk mengurangi konsumsi karbohidrat, perbanyak makan sayur dan buah. Cuman, masalahnya di trimester ketiga ini nafsu makanku meningkat gila-gilaan. Kuingin makan segala yang manis-manis. Telat ngidamnya !

Meet my son !

Di bulan ke-8 ku alami yg namanya kontraksi palsu, seharian. Sampe panik dan buru-buru ke bidan. Ya ternyata memang ga ada pembukaan siy. Rasanya kontraksi itu wow banget ya, sampe nangis. Waktu lagi nahan sakitnya, ku nelpon emak  minta dukungan moral kalo-kalo mendadak melahirkan. Pas dengar ku nangis-nangis yang ada aku dimarahin. Katanya pantang nangis kalo melahirkan. Harus ikhlas, ditahan, jangan meraung, dan segala wejangan lainnya. Alhasil kupingku jadi panas dan kesal juga jadinya. Hahaha. Untungnya menjelang malam kontraksi-nya berakhir, aku bisa tidur nyenyak.

Kontrol di bulan ke 8, berat janinku udah 2,5 kg dan aku ditegur dong sama bu dokter. “Bu kalo mau lahiran normal, berat bayinya di kontrol yaaa, makannya dijaga… “, pesan bu dokter yang kutanggapi cengengesan. Ya gimana, ntah kenapa ku lapar terus. Walau udh makan buah, kok blm puas klo blm kena nasi putih :D.

Masuk bulan ke-9, aku resign dari tempat kerja. Mau fokus persiapan melahirkan. Karena selama kerja, ku ga pernah namanya jalan pagi dan olaharaga. Karena pergi pagi-pulang malam. Tapi di tempat kerja ku juga gerak terus kok. Ngajar full, plus naik turun-tangga, melelahkan banget secara fisik. Setelah resign, duh enak banget bisa tidur lebih lama, bisa masak yang kumau, bisa jalan-jalan pagi dan sore sama suami. Bener-bener menikmati masa hamil pokoknya. Sekalian perbanyak baca-baca dan latihan fisik biar lahirannya gampang seperti nyuci baju –nyuci piring-ngepel sambil jongkok.

Kontrol di bulan 9, minggu ke 38 berat janinku udah 2,9 kg. Untung naiknya ga banyak karena ku udah susah payah jaga makan. Setelah di cek semuanya bagus, dan aku udah ready untuk melahirkan. Tinggal nunggu waktunya aja. Aku sendiri berharap lahirannya sesuai dengan HPL tanggal 15 Okober 2018, biar masih ada waktu untuk persiapkan ini dan itu yang ku rasa nggak kelar-kelar.

Di akhir pemeriksaan, Bu dokter meresepkan aku obat yang berfungsi melunakkan jalan lahir. Aku iya-in aja (karena ga paham).  Begitu mau nebus obat, ku dikasih tau sama apoteker-nya, kalo itu obat untuk mancing pembukaan. Apa aku udah siap bakal melahirkan besok-nya ???. Oooo tentu saja belum siap dong. Mental belum dibenahi. Tapi tetap ku ambil aja sih obatnya dan berencana untuk tidak diminum, hehe. Aku maunya ya biarlah si dedek keluar di waktu yang menurut dia pas. Ga usah dipancing-pancing. Tapi ternyata oh ternyata…. bersambung di postingan berikutnya ya.

Advertisements

Tagged: , , , ,

2 thoughts on “Cerita Trimester Ketiga

  1. NinaFajriah | Bonadapa.com November 30, 2018 at 9:26 pm Reply

    Aku juga tadinya ga mau nangis pas melahirkan. Tapi pas ibuku datang ke rs aku nangis sejadi jadinya. Baru sadar dulu ibu melahirkanku seperti itu ;). Tetap sehat dan kuat ya mba dan janinnya. Jalani trimester ketiga dengan hati yg bahagia mudah2an proses melahirkannya lancar ^^

    • Eka Novita November 30, 2018 at 11:13 pm Reply

      Aamiin, terimakasih mba. Iya ternyata setelah merasakan yg namanya melahirkan, jd merasa menyesal kenapa tdk dr dulu berbaik-baik ke ibu sendiri, memang jasa ibu memang tak bsa diukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: