Category Archives: Personal

Murni

​Hujan, hening dan sendu

Ada doa yg kulantun

Khidmat sekaligus pilu

Terhadap asa yang belum hendak mendekat

Dingin, kudekap hatiku erat-erat

Jangan sampai jatuh

Lirih kuminta pada yang Kuasa

Titahkan jiwa suci diatas sana untuk memilih aku

Sebagai penjaganya

Penaungnya

Titahkan jiwa itu mengisi bagian kosong dari diriku

Yang belum sepenuhnya utuh

Naluri dalam diri kuat berdebur

Menciptakan badai

Memancing tangis

Membuatku gelisah

Tenggelam dalam kecewa

Rindu aku

Pada jemari kecil itu

Yang lembut

Yang wangi

Yang murni

Yang suci

Advertisements

Welcome 2017

Assalamualaikum.

Akhir 2016 saya ditutup dengan dukacita, kakek saya dari pihak Bapak meninggal dunia. Saya pun tak menyangka bahwa lebaran kemarin adalah kunjungan terakhir saya menjumpai beliau. Lengkaplah ditahun ini saya kehilangan nenek dari pihak Ibu dan kakek dari pihak Bapak. Mudah-mudahan Allah mengampuni, menerima amalan, dan melapangkan kubur mereka, Aamiin.

Melihat kembali kebelakang, tahun 2016 saya banyak membuat keputusan penting. Salah satu keputusan itu adalah resign di Sekolah SMK tempat saya bernaung dan kembali menjadi jobseeker. Alhamdulillah tidak menunggu lama di bulan Juli 2016 saya memulai pekerjaan baru yang masih dibidang pendidikan. Bisa dibilang saya cukup terkejut dengan ritme dan lingkungan kerja baru.

Dan saya menyadari, bahwa ilmu saya sangatlah sedikit.

Diatas langit masih ada langit.

Saya tidak boleh patah semangat.

Saya tidak boleh menyerah dan kalah.

Saya harus terus belajar dan belajar.

Bukan saya sok sibuk sih, tapi aktifitas saya belajar keras dan harus mengurus rumah tangga setiap hari itu ternyata sangat melelahkan. Saya itu sadar, saya tidak pintar karena itulah saya harus usaha ekstra daripada orang lain untuk memahami suatu topik. Dengan kapasitas saya yang butuh waktu lama untuk bisa menguasai suatu hal, fikiran saya tidak bisa dibawa kemana-mana. Karena itulah blog ini sudah sekian lama tidak sempat saya lirik. Hahaha.

Mudah-mudahan di 2017 ini saya lebih pandai memenej waktu. Permohonan dan harapan-harapan besar di tahun ini akan saya lantunkan dalam doa-doa. Semoga Allah mengabulkannya. Semoga 2017 menjadi tahun yang baik untuk kita semua. Aamiin.

Wassalam.

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 2)

Assalamualaikum…

Whatttttt… Sudah 4 bulan rupanya saya nggak ngepost tulisan apapun disini. Keasikan jadi silent reader sampe blog sendiri dianggurin. Malam ini saya kangen nulis dan saya menemukan tulisan ini draft blog saya. Oh well, daripada jadi tulisan mubazir bolehlah yaaa saya posting disini sekalian. Wkwkwkwk… Tidak ada kata terlambat untuk mengenang kenangan manis kan…

***

Lebaran hari pertama kami sekeluarga besar ngumpul di rumah nenek di desa Negeri Lama Seberang, sungkeman, makan-makan, bagi-bagi angpau, dan sibuk foto-foto sampai baterai handphone lowbatt. Seru banget. Semua happy, semua ketawa, semua bersuka ria. Memang terasa betul nikmat berkumpul di Hari Raya bersama orang-orang yang tersayang. Di sore hari lebaran pertama keluarga saya dan keluarga adik bapakku (Bulek Atun) berpamitan ke Kakek-nenek untuk berangkat ke rumah sepupu saya (anak dari Bulek Atun) di daerah Kuala Tanjung.

lebaran-1

Semoga kakek-nenek, dan kedua orangtuaku diberikan umur panjang yg bermanfaat. Aamiin…

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Butuh waktu sekitar 5 jam dari Kuala Tanjung menuju Parapat. Walau lahir di Sumatra Utara ini pertama kalinya saya mengunjungi Danau Toba. Jauh-jauh hari saya udah request ke Bapak untuk jalan-jalan ke Berastagi, tapi karena keterbatasan waktu nggak memungkinkan untuk bisa kesana. Agak kecewa rasanya, udah jauh-jauh ke Sumut tapi ga main ke Berastagi. Padahal udah membayangkan bakalan foto sebanyak-banyaknya disana terus dipamerin ke teman-teman di Sekolah. Buahahahaha. Karena niatnya nggak baik, nggak terwujud deh.

Kalo udah di Danau Toba wajib hukumnya ke Tomok sebuah Kabupaten di Pulau Samosir, karena nggak seru banget kan cuman sekedar liat-liat aja. Mesti dijelajahin dong !. Kami naik kapal menuju Samosir. Tiketnya murah aja kok, Rp. 8000 sekali jalan. Danau Toba memang luasssssss banget, pemandangannya juga indah. Di pulau Samosir kami lihat atraksi Sigale-gale (boneka kayu yang digerakkan pake tali sambil diiringi musik tradisional Batak), sayang pas ngeliat atraksi Sigale-gale saya lupa ngerekam, jadi nggak ada kenang-kenangan deh. Abis lihat atraksi Sigale-gale, kita beli Souvenir buat oleh-oleh keluarga di pekanbaru. Ohya, Bulek Atun beli ikan asin khas Samosir, yg setelah kami cicipi bikin menyesal. Nyesal gak beli banyak. Enakkk bangettt.

lebaran2

Sejuk mata memandang

photogrid_1476549704024

Menantu yang baik, bawain tas Mamak Mertua… So sweet banget lah Bojo…

Pulang dari Danau Toba istirahat di pinggir jalan sambil ngeduren. Berhubung sekeluarga doyan durian, langsung ga pake basa-basi langsung duduk dan hajar itu durian. Durian Medan emang udah jaminan enaknya, manis dan dagingnya tebel. Kalo saya lebih suka durian ada pahit-pahitnya gitu. Lebih enak. Disaat semua orang makan durian, suami saya cuma jadi penonton. Suami punya kenangan buruk sama durian sampe diopname segala. Jadi seenak apapun durian, dia ga bakal tergoda.

photogrid_1476550731145

Ngeduren…

Pulang dari Danau Toba dan ngeduren kita langsung tepar, ga jalan-jalan kemana-mana lagi. Langsung tancap gas menuju Kuala Tanjung untuk istirahat. Berhubung keesokan harinya sepupu saya masuk kerja, kami nggak ada agenda buat jalan-jalan jauh. Kami cuma main-main ke lokasi kerja sepupu, pabrik dan Pelabuhan PT. Inalum yang berbatasan sama Selat Malaka. Berhubung wilayah pabrik adalah hal yang confidental, saya nggak bisa share foto-fotonya disini. Tapi yang pasti pabriknya bagus, rapi dan nggak ada aroma khas pabrik yang bikin polusi. Nggak kayak pabrik kertas di daerah saya yang bau dan kelihatan kusam dimakan karat, apalagi limbahnya yang mencemari sungai Siak. Kata sepupu, harusnya kami mampir ke Asahan untuk ngelihat Air Terjun Sigura-gura yang jadi sumber pembangkit listrik untuk PT. Inalum, konon disana pemandangannya cantik. Tapi, (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu kita nggak sempat main kesana. Continue reading

Sepotong cerita lebaran 2016 (part 1)

Assalamualaikum.

Taqqabalallahu minkum minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Taqabalallahu yaa kariim.

Happy yaaa yang baru pulang liburan, jalan-jalan, kumpul keluarga. Berhubung lebaran kali ini seruuu banget buat saya, sayang kalo cuman diingat dalam kenangan, bisa lupa !. Jadi saya tulis aja deh disini. Berhubung ceritanya lumayan panjang, saya bagi dua bagian. Biar ga lelah bacanya.

Sebenernya libur lebaran kali ini cukup singkat rasanya buat saya. Saya baru dapat libur tanggal 27 Juni karena tugas sebagai panitia penerimaan siswa baru. Suami juga masih kerja di tanggal 1 Juli. Di kota kami semua instansi baik negeri/swasta serentak masuk kerja hari Senin tanggal 11 Juli. Jadi semua serasa kejar-kejaran. Malahan saya ga nyiapin kue lebaran apapun, cuma nyumbang bikin manisan kolang-kaling untuk ibu mertua.

Tahun 2015 kemarin saya lebaran terpisah dengan orangtua, karena saya berlebaran di Pekanbaru dengan keluarga suami. Sedangkan orangtua saya lebaran di kampung. Sedih lah yaaa, itu pertama kalinya saya lebaran nggak ada orangtua, nggak bisa sungkeman secara langsung. Lewat telepon, saya minta maaf ke orangtua untuk semua salah di tahun lalu sambil nanes-nanes.

Nah, libur lebaran kali ini saya dan suami sepakat untuk ikut orangtua saya mudik ke kampung Bapak di desa Negeri Lama Seberang, Sumatra Utara. Sekalian memperkenalkan suami ke keluarga besar Saidi. Soalnya ga semua sodara dari pihak Bapak saya datang ke walimahan saya akhir 2014 lalu. Jadi sebagian dari sodar-sodara saya belum pernah lihat wujud suamiku.

Perjalanan kali ini seru banget, karena ini pertama kalinya suami menginjakkan kaki ke Sumatra Utara plus nyetir sendirian ke luar kota tanpa pake sopir cadangan. Bapak saya bisa nyetir sih, hanya saja SIM beliau udah mati dan rabun pula. Jadi, ya perjalanan ini sepenuhnya mengandalkan suamiku. Continue reading

Senang dan Sedih di Hari Senin, 2 Mei 2016

Hari itu aku senang sekali karena akan segera bertemu dengan suamiku yang baru pulang dari Kuala Lumpur. Setelah lebih dari setahun menikah, ini pertama kalinya aku ditinggal cukup lama. Walau cuma ditinggal empat hari cukup membuat hati gelisah, tidur nggak nyenyak, makan nggak enak. Ada yang hilang ketika bagian dari diri ini berjauhan.

Hal ini membuat hati aku terbetik “ini baru ditinggal suami pergi kerja jauh sebentar, bagaimana kalo nanti aku punya anak terus dia minta sekolah di luar kota, dan jarang bertemu…”. My heart cannot take this !. Ndak kuat aku, sungguh !.

Dan, ketika suami sudah di depan mata sungguh lega rasanya melihat beliau nggak kurang suatu apapun, malah tambah ngganteng. Hehehe. Senang ya Allah…

Diperjalanan kami makan siang bareng, dan beliau mengantar aku pergi ke sekolah untuk melanjutkan kerja. Di sekolah, kami mendapat kabar kalo ada mantan guru di sekolahku meninggal dunia saat sedang tidur. Masih muda, sekitar 45 tahun usianya.

PhotoGrid_1462335954402

Sepulang sekolah, setelah ashar aku dan guru-guru lainnya menumpang mobil wakil kepsek untuk  menghadiri acara pemakamannya. Aku memilih tidak melihat prosesi pemakaman dari dekat. Kondisinya  berdesakan, biar laki-laki dan kerabat dekat saja yang diutamakan. Hanya saja saat prosesi itu berlangsung, aku jadi berfikir kalo syarat mutlak mati itu bukan tua atau muda. Setiap makhluk yg bernyawa pasti merasakan mati. Ya Allah, hidup ini sejatinya hanyalah perjalanan menuju mati. Selama perjalanan pulang dari pemakaman, fikiranku terus terngiang-ngiang akan pemutus kenikmatan hidup itu, si maut. Hal yang ditakuti tapi mustahil lari darinya.

Sesampainya dirumah, menjelang maghrib aku mendapatkan telpon dari Bapak. Ada suara berat Bapak yang nggak biasa diujung sana, sepertinya ini hal yang serius.
“Nak, Bapak ada kabar… Kamu yang tabah ya…”
Mendadak aku jadi takut menerima kabar itu.
“Mbah-mu, Mbah Sar sudah dipanggil Allah tadi jam 4 sore…”
“Ya Allah… Inna lillahi wa inna’ilaihi roji’un… “

Aku udah nggak sanggup ngomong, cuma bisa nangis. Ya Allah, siapa sangka kalau kabar yang datang begitu buruk. Nggak nyangka kalo pertemuanku dengan Mbah Sar 3 tahun lalu adalah yang terakhir. Terkejut aku dengan kabar ini, karena selama yang ku tahu Mbah Sar memang sudah uzur tapi beliau sehat dan lincah. Jarang sakit, dan memang nggak punya riwayat penyakit parah. Continue reading

Mendadak Asma

Berawal dari batuk pilek yang tidak kunjung sembuh sejak satu setengah bulan lalu. Saya bolak-balik ke klinik untuk berobat. Kata dokter, mungkin saya dapat virus batuk-pilek yg bandel. Jadi susah sembuhnya. Dan, saya bawa santai saja, dengan fikiran cuma batuk pilek doang kok… Tapi semakin lama, frekuensi batuk semakin sering dan menjadi-jadi di malam hari. Alhasil otot tulang rusuk kanan sampai punggung jadi nyeri sekali. Setiap batuk muncul, saya pegang erat-erat rusuk kanan saya, agar tidak terlalu sakit.

Setiap pagi hidung saya selalu meler… Setiap saya berbaring menjelang tidur  hidung dan tenggorokan saya penuh dengan cairan dahak. Susah banget untuk bernafas dan seakan-akan nafas saya udah nggak akan sampai. Nafas saya mengeluarkan suara yang gak lazim, seperti ada yang terjepit. Kalo udah begini, mendadak saya jadi takut kalo-kalo saya dijemput malaikat maut. Huhuhu. Saya harus tidur dengan bantal yang banyak dan tinggi agar nafas lebih enakan.

Setelah dua kali berobat tapi ga sembuh-sembuh. Akhirnya saya beranikan konsultasi ke dokter yang lebih berpengalaman. Saya mikirnya, jangan-jangan saya kena sinusitis, TBC, atau paru-paru saya bermasalah. Fikiran saya udah yg negatif aja jadinya. Saat konsultasi, beliau bertanya apakah saya punya riwayat penyakit asma. Seumur-umur saya gak punya asma, dan di keluarga saya juga gak ada yang punya asma. Terus, beliau bertanya apakah saya punya riwayat alergi. Kalo alergi, saya memang punya alergi yang gak jelas pemicu-nya. Pokoknya kalo badan saya nggak fit, kelelahan, kurang tidur atau cuaca tiba-tiba panas terus tiba-tiba dingin, kulit saya langsung bengkak-bengkak merah dan gatal. Kalo emak saya bilang, alergi saya itu namanya biduran/kaligata. Sya udah pernah menceritakan tentang kaligata/biduran itu disini.

Kemudian saya diperiksa, dan dokter bilang saya kena asma. Asma ini bisa jadi dari alergi yang berubah bentuk. Kalo dulu bentuk alergi saya efeknya ke tubuh adalah gatal-gatal, tapi sekarang berubah menyerang ke saluran pernapasan menjadi asma. Berhubung alergi adalah jenis penyakit yang tidak bisa sembuh total, hanya bisa dicegah agar tidak kambuh. Maka saya harus ikhlas dengan kondisi asma yang kambuh-kambuhan ini, dan minum obat setiap serangannya datang. Huhuhu.

Bener-bener deh ya, asma ini sangat mengganggu aktifitas saya. Bikin badan saya gampang ngedrop dan capek banget. Tapi ya mau bagaimana lagi… Qadarullah… Mudah-mudahan sakit ini bisa menjadi penggugur dosa. Aamiin.

Apa kalian pernah ngalamin yang seperti ini ?. Share ya gimana perawatan dan pencegahan agar asma tidak sering kambuh…