Candi Muara Takus – Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Riau

Assalamualaikum !

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72. Jayalah Indonesiaku !

Panorama Candi Tua dan Stupa Mahligai di Kompleks Candi Muara Takus

Berhubung sedang perayaan Hari Kemerdekaan, saya jadi ingin sharing perjalanan wisata sejarah lokal. Ketika kita ngomongin tentang Provinsi Riau yang suku mayoritas-nya adalah Melayu, maka apa yg pertama kali muncul dalam fikiran ?. Apakah logat bicara-nya yang mendayu-dayu ? Kulinernya yang kuat dengan rasa pedas dan asam ? Gadis-gadis manis santun berbaju kurung ? Atau nuansa Islami-nya yang kuat ?.

Sebagai keturunan Jawa yang tumbuh besar di Riau tanah Melayu, yang paling saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah nilai-nilai Islam yang masih dipegang teguh disini. Sehingga, saya waktu kecil tidak menyangka kalau di tanah Melayu ini ada situs sejarah penginggalan nenek moyang berupa Candi Budha Muara Takus. Mungkin, efek kalo belajar Sejarah bawaannya ngantuk melulu.

Bareng Ibu mertua dan adik iparku.

Sedikit flashback, di masa lalu masyarakat kawasan Asia Tenggara termasuk Nusantara (Indonesia) telah memiliki peradaban yang tinggi sebelum kedatangan Islam. Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan oleh para penyebar agama Hindu dan Budha, pengaruh ini telah berlangsung cukup lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15 M.

Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti candi-candi, ukiran, dan sebagainya. Dan, Candi Muara Takus adalah salah satu dari peninggalan agama Budha yang masih terpelihara dengan baik di tanah Melayu.

Sudah lama saya ingin mengunjungi Candi Muara Takus, tapi ngga pernah terwujud karena memang ngga ada kesempatan mengunjunginya. Orangtua saya pun selalu bilang lokasinya jauuuh sekali. Dan, pucuk dicinta ulam pun tiba (asik!) sebelum memasuki bulan Ramadhan kemarin, Ibu dan papa mertua mengajak jalan-jalan akhir pekan mengunjungi satu-satunya Candi Budha yang tersisa di Bumi Melayu. Yeayyy !.

Ada yang kegirangan kesampaian main di Candi !

Situs Candi Muara Takus terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke lokasi Candi.

Perjalanan ke Kampar sih nyaman-nyaman aja, karena kondisi jalan yang bagus. Memasuki Gapura masuk kawasan Muara Takus di simpang tiga Batu Bersurat ada beberapa bagian jalan yang rusak, otomatis memperlambat laju kendaraan. Tidak ada petunjuk jalan ataupun tanda-tanda didaerah itu ada tempat wisata. Dikanan-kiri jalan hanya hutan dan semak belukar. Berbekal info dari adik ipar yang sudah pernah berkunjung sebelumnya, kami akhirnya sampai juga walau sempat kebingungan di jalan.

Ohya, tidak ada kendaraan umum yang beroperasi di sekitar simpang Batu Bersurat menuju areal Candi Muara Takus. Artinya wisatawan dari daerah lain harus membawa /menyewa kendaraan pribadi untuk menuju ke lokasi Candi. Bisa ditempuh berjalan kaki kalo suka petualang ala ala backpacker. Tapi apa kuat ? udara disini puaaanasss bin lembab lho. Mau yang lebih menantang ? numpang-numpang aja sama kendaraan (biasanya truk) yg lewat.

Stupa / Candi Mahligai

Saya sharing sedikit ya tentang sejarah Candi Muara Takus yang merupakan situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.

Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangat unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka. Yaitu, stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus. Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata, berbeda dengan Candi di pulau Jawa yang terbuat dari batu andesit.

Material penyusun Candi terbuat dari batu bata merah.

Halaman Candi

Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok Β± 80Β cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Ayah mertuaku yang masih energik !

Candi Bungsu

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya. Sebuah kerajaan besar yang kekuasaanya meliputi Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya hingga ke Jawa Barat.

Pengalaman berwisata Candi Muara Takus menyenangkan, karena tempatnya relatif bersih. Mudah-mudahan ke depannya akses jalan menuju candi Muara Takus bisa dibenahi. Bila perlu ditambah dengan aneka wahana lain di sekitar komplek Candi sebagai pendukung agar memancing daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Sewaktu kami datang, ada kelompok organisasi keagamaan Budha yang sedang aksi sosial membersihkan areal Candi. Sungguh pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat, ketika kita sesama rakyat Indonesia saling berkumpul dan menghargai warisan nenek moyang. Agama, bukan warisan. Agama adalah pilihan hidup, menganut agama da kepercayaan tertentu adalah hak kebebasan dan pilihan setiap individu. Agama bukan alasan bagi kita untuk tidak berteman dan bersatu.

Ingatlah sejarah saat Indonesia berjuang demi kemerdekaan, kita saling bantu-membantu tanpa melihat apa agamamu atau apa sukumu. Sudah cukup persatuan dan persaudaraan kita diuji, dihajar babak-belur dengan kisruh SARA dan politik. Sekarang, baiknya kita saling memaafkan, saling berlapang hati, saling merangkul demi kejayaan Indonesia. Percayalah, kalo kita rakyat Indonesia saling rusuh. Yang senang adalah pihak-pihak asing yang usil pengen ikut campur. Mari kita bersatu !

 

 

Note :

Info tentang Candi Muara Takus saya ambil dari Wikipedia.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , , , ,

10 thoughts on “Candi Muara Takus – Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Riau

  1. Firsty Chrysant August 17, 2017 at 9:48 pm Reply

    Yeaaay kereen…

    Belum sempet2 ke sini.Padahal pengen banget…

    Btw, nama kec xiii koto, sepertinya, budaya dan adatnya lenih ke minang ya daripada ke melayu riau…

    • Eka Novita August 18, 2017 at 4:25 am Reply

      Iya soalnya XIII koto kampar itu kan udh daerah perbatasan Riau-SumBar. Main dong kesini, tp mesti liat cuaca sih, daerah Riau kadang panasss bgt terus suka mendadak hujan.

  2. andreas August 24, 2017 at 9:32 am Reply

    Pingin kesana ngajak keluarga juga nih…

  3. Hafidh Frian August 29, 2017 at 10:29 pm Reply

    Ciee.. neng eka. Bagaimana kabarnya mbak? Lama tak jumpa dalam untaian kata. Dari yg dulu jomblo ya kan? Sekarang melancongnya sama keluarga besar. Journey yg indah, semoga bahtera terus voyage di lautan lepas mbak. Btw candi ini terkenal bet di buku sejarah SD jaman kerajaan sriwijaya. Salam dari lereng semeru.

    • Eka Novita August 29, 2017 at 11:16 pm Reply

      Alhamdulillah sehat Mas Hafidh. Hehehe, Alhamdulillah sekarang sudah gak jomblo lagi. Iya, skrg saya baru nyadar klo candi ini lumayan famous. Salam kembali dari bumi Melayu.

      • Hafidh Frian August 30, 2017 at 12:43 pm

        Yup. Yup. Semakin jarang nulis nih. Sibuk apa skrg, mbak?

      • Eka Novita September 1, 2017 at 11:14 pm

        Sibuk kerja nih. Iya nih, semakin kesini kok mood nulis makin kurang. Kayaknya perlu ikut semacam challange gtu kali ya biar semangat lg.

      • Hafidh Frian September 2, 2017 at 8:16 pm

        Iya mbak. Mungkin bisa dengan cara itu, atau mencari alasan dan niatan yg kuat untuk menulis lagi. Semangat deh untuk kerjanya. InsyaAllah berkah untuk keluarga.

      • Eka Novita September 4, 2017 at 4:44 pm

        Aamiiin. Kamu jg ya, semangat nulis dan ttp produktif ! 😊

      • Hafidh Frian September 4, 2017 at 5:48 pm

        Yup yup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: