Senang dan Sedih di Hari Senin, 2 Mei 2016

Hari itu aku senang sekali karena akan segera bertemu dengan suamiku yang baru pulang dari Kuala Lumpur. Setelah lebih dari setahun menikah, ini pertama kalinya aku ditinggal cukup lama. Walau cuma ditinggal empat hari cukup membuat hati gelisah, tidur nggak nyenyak, makan nggak enak. Ada yang hilang ketika bagian dari diri ini berjauhan.

Hal ini membuat hati aku terbetik “ini baru ditinggal suami pergi kerja jauh sebentar, bagaimana kalo nanti aku punya anak terus dia minta sekolah di luar kota, dan jarang bertemu…”. My heart cannot take this !. Ndak kuat aku, sungguh !.

Dan, ketika suami sudah di depan mata sungguh lega rasanya melihat beliau nggak kurang suatu apapun, malah tambah ngganteng. Hehehe. Senang ya Allah…

Diperjalanan kami makan siang bareng, dan beliau mengantar aku pergi ke sekolah untuk melanjutkan kerja. Di sekolah, kami mendapat kabar kalo ada mantan guru di sekolahku meninggal dunia saat sedang tidur. Masih muda, sekitar 45 tahun usianya.

PhotoGrid_1462335954402

Sepulang sekolah, setelah ashar aku dan guru-guru lainnya menumpang mobil wakil kepsek untuk  menghadiri acara pemakamannya. Aku memilih tidak melihat prosesi pemakaman dari dekat. Kondisinya  berdesakan, biar laki-laki dan kerabat dekat saja yang diutamakan. Hanya saja saat prosesi itu berlangsung, aku jadi berfikir kalo syarat mutlak mati itu bukan tua atau muda. Setiap makhluk yg bernyawa pasti merasakan mati. Ya Allah, hidup ini sejatinya hanyalah perjalanan menuju mati. Selama perjalanan pulang dari pemakaman, fikiranku terus terngiang-ngiang akan pemutus kenikmatan hidup itu, si maut. Hal yang ditakuti tapi mustahil lari darinya.

Sesampainya dirumah, menjelang maghrib aku mendapatkan telpon dari Bapak. Ada suara berat Bapak yang nggak biasa diujung sana, sepertinya ini hal yang serius.
“Nak, Bapak ada kabar… Kamu yang tabah ya…”
Mendadak aku jadi takut menerima kabar itu.
“Mbah-mu, Mbah Sar sudah dipanggil Allah tadi jam 4 sore…”
“Ya Allah… Inna lillahi wa inna’ilaihi roji’un… “

Aku udah nggak sanggup ngomong, cuma bisa nangis. Ya Allah, siapa sangka kalau kabar yang datang begitu buruk. Nggak nyangka kalo pertemuanku dengan Mbah Sar 3 tahun lalu adalah yang terakhir. Terkejut aku dengan kabar ini, karena selama yang ku tahu Mbah Sar memang sudah uzur tapi beliau sehat dan lincah. Jarang sakit, dan memang nggak punya riwayat penyakit parah.

PhotoGrid_1462335707461

Selamat jalan Mbah-ku sayang…

Mbah Sar adalah ibu dari mamakku. Beliau tinggal berjauhan dari kami. Kami di Pekanbaru beliau di Purworejo. Beliau sudah sepuh tapi berkeras hati nggak mau meninggalkan rumah peninggalan kakekku yang sudah ‘pergi’ terlebih dahulu. Padahal anak-anaknya sudah sering membujuk untuk tinggal bersama.

Beliau, usianya sudah lewat 80 tahun, masih merasa kuat dan nggak bisa diam. Setiap hari beliau membersihkan pekarangan, sesekali mencabuti rumput. Kalau beliau bosan, beliau akan pergi berjalan-jalan ke rumah tetangga. Beberapa minggu menjelang beliau wafat sawah kami sedang panen. Beliau tetap ingin ikut menjemur padi. Padahal seharusnya beliau duduk tenang saja, karena sudah ada orang yang membantu. Ya itu, semangat beliau dalam bekerja nggak kenal usia.

Mbah Sar meninggal saat tidur siang. Dari posisinya terlihat seperti sedang tidur nyenyak, meringkuk dengan telapak tangan menjadi alas pipinya. Nyaman sekali. Badannya lebih gemuk dari bertemu terakhir kali. Semoga Mbah Sar, meninggal dalam kondisi khusnul khotimah.

Mbah-ku itu orang yang baik, sederhana, hemat, nggak neko-neko, nggak suka menyusahkan anaknya dan orang lain. Bahkan meninggalnya pun sepertinya “enak”. Padahal katanya yang namanya sakratul maut itu tetap saja sakitnya luar biasa.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Mbah-ku, menerima amal-amal baik dan ibadahnya, melapangkan kuburnya. Sekarang waktunya Mbah beristirahat dari dunia yang melelahkan dan penuh ujian. Semoga nanti kita bisa dikumpulkan dan bertemu lagi di Surga Allah. Aamiiin…

Senin, 2 Mei 2016. Hari yang membuat hatiku bercampur aduk rasanya. Sebentar senang lalu sedih sejadi-jadinya. Maha Besar Allah yang sudah merancang takdir dan garis hidup manusia. Apalah aku seorang hamba yang tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan-Mu ya Allah…

Tagged: , , , , , ,

2 thoughts on “Senang dan Sedih di Hari Senin, 2 Mei 2016

  1. Puji May 4, 2016 at 3:31 pm Reply

    Turut berduka cita ya

  2. winnymarlina May 28, 2016 at 2:47 pm Reply

    turut berduka ya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: