Menjadi Ibu Guru

in-learning-you-will-teach-and-in-teaching-you-will-learn

pict source : quotlr.com

Assalamualaikum. Hola. Long time no see…

Akhir-akhir ini aku ngerasa bersalah karena perhatianku ke blog ini makin berkurang, kagum dan envy laaaah dengan mereka yg tetep gigih nge-blog dan blogwalking meskipun sehari-harinya super sibuk. Aku ini apalah apalah… Blogger angin-anginan.

Jadi, udah tujuh bulanan ini aku kerja di sebuah SMK swasta di kota Pekanbaru. Dulu, awal nikah kan pengennya jadi ibu rumah tangga saja ya, fokus ngurus rumah-suami-anak dan usaha bikin asesoris hijab handmade. Tapi kok lama-lama bosan juga, mungkin karena aku belum dikarunai baby (Allah has the best plan for my life). Karena dari masih gadis suka ngajar privat sana-sini, jadi aktivitas dirumah saja mulai bikin aku kurang bersemangat. Alhamdulillah kebetulan ada peluang kerja dibidang yang aku impikan, jadi guru. Aku juga bisa kerja tetap dengan busana yang syar’i (busana syar’i harga mati !). Dan suamiku mengizinkan karena aku udah kelihatan nge-blank dirumah aja. Ya kenapa gak aku kejar aja cita-citaku. Bismillah, aku mau jadi guru karena lillahita’ala, aku pengen membagi ilmu sebagai bentuk amalan jariyah.

Awal kerja di SMK aku jadi staff tata usaha bagian kesiswaan dulu, semacam training gitu sepertinya. Nah, di semester kedua inilah aku baru dapat jam ngajar. Alhamdulillah.

Aku kira dulu staff TU itu kerjanya santai, leyeh-leyeh, ternyata nggak… Banyak bgt tugas TU itu, mulai dari ngedata siswa baru, bikin buku induk, rekap mutasi siswa baru dan pindah, bikin laporan bulanan, mengarsipkan surat masuk-keluar, bikin surat keterangan dan edaran macam-macam. Dan paling heboh kalo udah masuk musim ujian. Alhamdulillah walau kerjaanku banyak, ga seribet kerjaan orang bagian Pokja dan kurikulum yang pusing bikin roster. Kekekekeke…

Tantangan makin bertambah semenjak aku dapat jam ngajar. Basic pendidikanku kan sarjana komunikasi ya, bukan keguruan. Jadi aku bisa dibilang buta soal masalah perangkat pembelajaran macam silabus, RPP, dkk. Jadi sambil menyelam minum air, belajar sambil action. Ditambah lagi aku ngajar pelajaran produktif yang modulnya kadang susah dapatnya, macam pelajaran Bahasa Inggris Niaga. Alhasil aku bikin modul sendiri dengan modal searching di internet. Ya Allah serasa kuliah lagi deh. Aku suka banget ngajar ! Makanya aku enjoy banget kerja dan sedikit nyesal kenapa dulu ga kuliah pendidikan aja. Tapi ya begitulah hidup, rezeki Allah yg mengatur. Jalan hidup manusia ada yg harus muter-muter dulu untuk sampai ke profesi yg jadi jodohnya. Dan, hari gini kayaknya banyak orang dapat kerjaan yang keluar jalur dari basic pendidikannya. Sah-sah aja ya asal mau belajar lagi dan belajar terus.

Rekan kerja di sekolah bikin betah. Alhamdulillah, udah kayak keluarga aja dengan mereka. Guru-guru senior udah kayak orangtua, rekan kerja yang seumuran udah kayak saudara. Kita sering bawa bekal dari rumah, terus tukeran lauk, dan makan bareng-bareng pas jam makan siang. Kadang kita jalan, makan diluar, dan nyalon bareng. Seru…. Kebanyakan dari mereka berjiwa muda dan easy going.

Aku kan orangnya rada pemalu dan susah membuka diri dengan lingkungan baru, bener-bener yang socially awkward gitu. Jadi awal kerja disini bawaanku canggung melulu. Makin kesini, interaksi dengan mereka makin asik aja. Ketauan deh belang asli-ku yang tukang ngakak. Yah, aku juga nemuin rekan kerja dengan karakter macam-macam. Biasalah ya, perbedaan sifat dan karakter selalu ada dimana-mana, yang pasti itu jadi sarana pendewaasaan.

Tantangan lain yang aku dapat adalah dari siswa/siswi-nya. Disekolah ini emang anak cowok yang dominan, maklumlah ya SMK. Dan kelakuan anak-anak labil itu ya Allah… bener-bener kayak petasan, meledak-ledak. Anak ceweknya sih ga terlalu banyak, tapi ga bisa dibilang mudah juga menghadapinya.Tahu sendirilah ya anak cewek baru puber, kadang-kadang suka heboh ga jelas gitu ngeliat lawan jenis. Nah, anak-anak model begini yang harus dihadapi setiap lima hari dalam seminggu. Diperlukan perlakuan khusus dan strategi baru untuk menghadapi mereka.

Anak-anak disekolahku emang rada spesial. Mareka datang dari latar belakang keluarga yang macam-macam. Nggak jarang gurunya sterss dan jadi masa bodoh karena kelakuan mereka. Tapi aku berusaha untuk gak nyerah sama mereka. Aku mau mereka ngerasa sekolah dan belajar itu adalah hal yang asik. Pokoknya kalo mereka melewatkan pelajaran rasanya rugi. Aku pengen mereka bisa menikmati belajar dan proses mencari ilmu. Aku mau mereka merasakan nikmatnya menjelajah ilmu dan pengalaman berfikir. Aku ingin mereka sadar kalo mereka gak bisa menahan pahit dan lelahnya belajar di usia muda, mereka bakal menelan pahitnya kebodohan seumur hidup.

Mudah-mudahan dengan keberadaanku disekolah ini, bisa membuat suasana baru dan perubahan positif. Mungkin butuh waktu lama, tapi aku harap anak-anak murudku bisa melihat ketulusanku mengajar mereka. Dan mereka mau sungguh-sungguh, fokus saat belajar. Karena, gak ada yang bikin aku senang selain ngeliat mereka fokus belajar.

Sebisa mungkin aku mengontrol sikapku, gesture-ku, memasang wajah friendly-meskipun-wajahku-tetap-terlihat-jutek,  mengontrol emosiku ketika kelakuan mereka memancing amarah. Aku ingin bisa memperlakukan mereka sebagai remaja yang didengar, diperhatikan, dan dimengerti. Karena mereka, aku belajar terus bagaimana menanamkan akhlak yang baik. Agar pemahaman karakter itu benar-benar bisa kuterapkan. Aku mau akhlak baik itu bukan sekedar teori saja. Tapi aplikasinya. Pastinya, karena mereka aku belajar mengasah kesabaran setiap harinya.

Jalan masih panjang, aku dan siswa-siswiku sama-sama masih harus terus belajar. Dengan ketulusan dan hati aku mendidik dan mengajar mereka. Semoga Allah mudahkan jalanku, melancarkan lisanku, memperindah akhlakku dan memperbanyak ilmu-ku untuk bisa jadi guru yang baik. Aku percaya apa yang datang dari hati akan sampai ke hati. Karena hati bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh mata. Tapi ketulusan…

teacher-appreciation-quotes

Pict source : cutelovequotesforher.org

Advertisements

20 thoughts on “Menjadi Ibu Guru

    • Iya, kalo TU datang duluan pulang paling akhir. Kalo liburan sekolah, TU ga dapat libur karena statusnya pegawai, bukan guru. Tapi tergantung kebijakan sekolahnya masing-masing sih.

  1. Happy for you mbak! Dan jangan sedih, you’re not alone. Aku salah satu yg kerja tapi ga sesuai background. Anak teknik, kerja di bank, hobi nulis :D. Aku juga pernah jadi guru mbak, tapi ngerasa bukan jiwanya jadi cuma sebentar. Hehe.. enjoy your day as a teacher then ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s