Nasihat Kecil Untukmu Yang Akan Menikah

Assalamualaikum…

Perahu kecilku ternyata tepat setahun berlayar. Hehe sampai sekarang isi perahu-ku masih dua orang, mudah-mudahan ditahun berikutnya Allah mengizinkan kami membawa satu penumpang lagi. Amiiiin. Mungkin Allah masih ingin kami menikmati masa-masa ‘pacaran’ terlebih dahulu. Rasanya baru kemaren, hatiku dibuat cemas tak menentu menjelang hari-hari pernikahan, panik karena bakal jadi istri dan melaksanakan tanggung jawab sebagai istri. How times flies so fast. Then, aku sekarang sedang terkenang-kenang (ya ampuuun bahasakuuu!) dengan persiapan menjelang pernikahanku. Waktu itu, aku dan orang tua agak bingung juga dengan apa-apa saja yg harus dipersiapkan menjelang hari “H” karena aku anak yg pertama kali menikah dan pertama kali-nya orangtuaku akan menikahkan anaknya.

Bisa dibilang keluargaku kurang memiliki pengetahuan tentang pernikahan. Maksudku event pernikahannya, bukan proses akad nikah-nya.

Menurut fikiranku yg suka menggampangkan masalah, menikah itu seharusnya mudah kan ya. Agama pun menganjurkan agar menikah itu dilaksanakan dg mudah dan sederhana. Hanya butuh calon suami, mahar, wali, penghulu dan saksi. Selesai. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Banyak keribetan yg menunggu didepan mata, yaitu persiapan walimatul ‘ursy-nya alias resepsi lah orang kita menyebutnya. Saking ribetnya persiapan walimatul ‘ursy ini, aku jadi ngerasa tenaga dan materi kita habis terkuras untuk urusan yang satu ini. Sadarlah aku, kalo inilah yg bikin banyak anak-anak muda belum berani menikah. Karena, memang besar modal-nya. Nangesssss.

Karena keluarga intiku tinggal berjauhan dg keluarga besar kami yg berada di provinsi lain. Mau nggak mau ya, urusan pernikahan ini benar-benar kami urus bertiga (bapak-mamak-aku) dibantu dengan tetangga dan sahabat-sahabat orangtuaku. Alhamdulillah, aku tinggal di lingkungan yg kuat rasa kekeluargaannya dan sangat kompak. Sehingga di kondisi sulit kami tidak sendirian, banyak yg langsung memberikan bantuan dan saran.

tumblr_nfyvoaZLtp1u5223oo1_500

Complete my deen. Source : http://www.tumblr.com

Nah, saat mempersiapkan pernikahan sampai ke walimatul ‘ursy kita emang butuh kerja sama dg banyak pihak. Banyak-banyaklah berdoa semoga urusan kalian mudah-lancar dan ga banyak drama. Tapiiii, kita sebagai wanita inilah yg kadang suka mancing drama karena ekspektasi tinggi yg bisa jadi gak kesampaian. Mulai dari baju penganten yg nggak cantik, konsep nikahan yg gak sesuai dg hati, dan banyak banyak lagi.

Dari apa yg aku alami saat persiapan menikah hingga walimatul ‘ursy, banyak pelajaran lebih tepatnya hikmah yg aku dapat terutama buat diriku. Dan sebagai reminder, aku catat beberapa poin pelajaran yg aku dapat :

1. Ilmu. Sebelum menikah kita memang dituntut mencari tahu dan memahami apa itu pernikahan dan konsep rumah tangga. Pengetahuan ilmu agama adalah menjadi patokan dasar dan wajib kita ketahui demi kelangsungan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Begitu banyak ujian dalam pernikahan, jika kita tidak berpegah teguh pada agama, maka habislah kapal kita terhempas ombak. Jujur atau tidak, setelah pernikahan itu dijalani kita akan melihat begitu banyak cela dan kekurangan dipasangan kita. Terimalah ia apa adanya, dan mohonlah untuk Allah selalu menumbuhkan rasa cinta dan kasih kepada pasangan kita. Berdoalah semoga Allah menurunkan kebaikan kepada rumah tangga kita. Sadarilah pasangan kita tidak sempurna dan diri kita juga begitu. Ketika nanti ada masalah dalam rumah tangga kita jangan sekali-kali berfikir jalan pintas, terlebih-lebih mengadu kepada orangtua. Pintar-pintarlah menyaring apa yang perlu kita curhat-kan ke orang tua, apalagi yang berhubungan dengan aib/kekurangan pasangan.

2. Niat. Menikah itu ibadah, sebagaimana layaknya ibadah-ibadah yg lain pastinya kita harus meluruskan niat kita tadi. It’s okay kita menikah karena cinta. Tapi tanyakan ke hati yg paling dalam, apa yg membuat kita berkuat hati untuk menikah. Mudah-mudahan niatnya memang karena Allah dan untuk ibadah, agar terhindar dari perbuatan maksiat. Kalo niat menikah karena cinta aja, nggak cukup. Nikah bukan urusan cinta saja, tapi perjanjian di hadapan Allah sbg wujud komitmen dan kerelaan hati untuk terus menyertai langkah suami (selama masih dlm koridor agama).

3. Setelah kita sadar niat yg sebenarnya dalam hati. Disini kita akan paham, bahwa yg kita inginkan adalah “marriage” not “wedding”. Intinya pernikahan adalah akad nikah bukan perayaan setelah akad nikah. Jadi janganlah buang-buang fikiran dg stress yg berlebihan menjelang menikah, hanya karena kita terlalu risau dg masalah resepsi.

4. Kerja sama. Aku sebagai perempuan pahamlah, kalo perempuan itu punya banyak impian-impian indah, apalagi untuk urusan cinta dan pernikahan. Sehingga wajar rasanya melihat perempuan berusaha keras mewujudkan pernikahan yg sudah idam-idamkan. Tapi disisi lain yg kulihat dari perempuan, mereka adalah makhluk yg diberi karunia sekaligus penyakit over-detail. Saking semangatnya, semuaaaaa pengen kita urus sendiri mulai dari kartu undangan, baju pengantin, make up, venue, katering, souvenir, dll, karena -takut/nggak percaya- orang lain bisa mewujudkan apa yg kita inginkan. Tapi… -sekedar mengingatkan- pernikahan bukan hanya tentang diri kita, tapi seluruh keluarga, jadi jangan berkeras hati ingin menghandle semuanya sendiri. Libatkan orangtua dan kerabat karena bagaimanapun orangtua dan kerabat tahu solusi yg terbaik untuk kita.

5. Realistis. Penyakitnya perempuan yg lain adalah banyak memandang alias cuci mata. Akibat banyak memandang timbul harapan, harapan tak sampai berujung kecewa. Plis, pernikahan sekarang konsepnya memang lucu-lucu dan bikin gemes (apalagi yg shabbychic *eh!), tapi jika memang kita tidak bisa mewujudkan pernikahan mewah bak artissss janganlah hal itu membuat kita sedih tak berujung. Ingat poin pertama saat kita hendak menikah, niat. Kembali luruskan niat.

6. Sesuai dengan kemampuan. Dalam melaksanakan pernikahan memang sudah seharusnya kita laksanakan sesuai dengan kemampuan. Ada uang lebih dan bisa wujudkan pernikahan impian dg besar-besaran, kenapa tidak ?. Semakin banyak yg diundang semakin banyak kesempatan kita untuk bersedekah.  Ada uang pas-pasan rayakanlah pernikahan dg cara yg sederhana seperti acara syukuran dan makan bersama, apa salahnya ?. Semoga yg sederhana tadi malah menjadi berkah dan kebaikan. Jangan paksakan diri dan orantua untuk merayakan pernikahan yg kita tidak mampu melakukannya, jadi beban nantinya. Beban hutang maksudnya😛

7. Waliamtul ‘ursy (resepsi) adalah sedekah. Ini adalah pemahaman yg aku dapat dari orangtuaku. Orangtuaku mengatakan ketika kita menikah dan berbahagia, maka patut dirayakan dg bentuk syukuran/resepsi (terserah bagaimana pelaksanaanya, mewah atau sederhana). Wujud syukur kita karena berbahagia adalah dg bersedekah di acara walimatul ‘ursy/resepsi. Itu artinya kita tidak mengharapkan bahwa resepsi kita nanti bakal balik modal, alias mengharap angpau dari tamu. Murnikan niat untuk bersedekah. Tapi, kita juga tidak menolak apabila ada tamu yg berbaik hati memberikan kado/angpau sebagaimana lazimnya, karena hal itu adalah rezeki untuk pengantin yang akan memulai hidup baru.

8. Fokus pada prinsip. Pada saat persiapan event nanti, kita akan banyak mendapat masukan dan saran dari banyak pihak. Kita boleh-boleh saja mendengarkan pendapat orang lain, tapi pandai-pandailah memfilternya. Tolak saran yg tidak sesuai dg prinsip kita dg cara yg halus. Kita tidak bisa mengambil semua saran yg mereka berikan. Kalo masih ada yg ngotot memberi saran yg tidak sesuai dg hatimu, cuekin aja toh ini pernikahan kita. Pada akhirnya keputusan ada di tanganmu dan keluarga besarmu. Waktu walimatul urys-ku dulu, banyak tetangga yg belum paham menganjurkan agar tamu dan pelaminan tidak usah dipisah. Tapi aku dan orangtua sudah sepakat agar membuat hijab pemisah antara pelaminan dan tempat pria dan wanita. Alasannya, agar tidak terlalu banyak ikhtilat (campur-baur antara tamu laki-laki dan perempuan), lagipula banyak teman-teman orangtuaku yg menggunakan niqab (cadar) sehingga kasihan jika mereka harus makan tapi wajahnya terlihat oleh non mahrom mereka. Aku dan keluargaku juga sepakat menghilangkan acara hiburan yg biasanya diisi dg musik dan penyanyi. Kami mengganti acara hiburan dengan memutar video kajian Islam seputar pernikahan (keputusan ini gak banyak dikritik sih, malah banyak yg senang karena malah dapat ilmu, alhamdulillah).

So, jadi seperti itulah nasehat kecilku untuk pembaca yang ingin menikah. Menikah itu memang indah. Rasanya nano-nano, banyak kejutannya. Benar-benar suatu pengalaman baru yang challenging, dan tantangannya akan berlangsung seumur hidup. Jadi yang ingin bersegera menikah, aku mendukung. Semangat yaaaaa !!!.

Ah ya, balik lagi keurusan persiapan walimatul ‘ursy… dari awal aku memutuskan untuk menikah aku sudah menetapkan hati untuk menyerahkan urusan pernikahanku kepada orangtua, karena aku nggak punya pengalaman apapun dan aku percaya orangtuaku tahu yg terbaik. Aku hanya meminta kepada orangtuaku, agar pernikahanku sederhana, sakral tapi selalu dikenang oleh siapapun yg ikut andil didalamnya. Aku ingin pernikahanku tidak memberatkan kedua belah pihak keluarga, karena yg kuinginkan adalah kerberkahan dan turunnya rahmat Allah untuk kehidupan setelah hari pernikahan itu.

Alhamdulillah semuanya terpenuhi dan aku bahagia sekali…

anniversarycopy

Alhamdulillah i’m happy being your wife.

Pekanbaru, 8 November 2015

Satu tahun perahu-ku berlayar

Tagged: , , , , , , ,

21 thoughts on “Nasihat Kecil Untukmu Yang Akan Menikah

  1. Jejak Parmantos November 8, 2015 at 1:25 pm Reply

    semoga Barokah Mba… langgeng terus sampai ke surga🙂

    • Eka Novita November 9, 2015 at 8:17 am Reply

      Aamiiin, Aamiiin ya Rabb. Jazzakallah khair.

  2. NinaFajriah November 9, 2015 at 7:27 am Reply

    Happy Wedding Anniversary Mbak…. (^_^)

    • Eka Novita November 9, 2015 at 8:17 am Reply

      Thank you so much mbak Nina🙂

  3. jampang November 9, 2015 at 9:29 am Reply

    semoga tambah berkah…. aamiin

    • Eka Novita November 9, 2015 at 9:42 am Reply

      Aamiiin ya Rabbal ‘alamiiin…

  4. Sekar November 9, 2015 at 8:42 pm Reply

    ini blog yang dulunya eka’s voyage bukan ya? hehe, aku ngikutin terus soalnya. Baarakallah mbak ekaaa.. time flies so fast ya mbak :”)

    • Eka Novita November 10, 2015 at 7:35 am Reply

      Iyaaa sekar. Waiyyaki, barakallahu fiik. Iya waktu emang cepat banget berlalu, ga terasa😀

      • Sekar November 10, 2015 at 7:37 am

        tuh kaaaan. Aku ngerasa banget mbak eka jadi beda, lebih wise. Memang menikah itu mendewasakan ya mbak. Semoga rumah tangganya barokah sampai jannah :*

      • Eka Novita November 10, 2015 at 7:40 am

        Enggaaaaak Sekar, masih kyk dulu kok. Cuman secara ga sadar kyknya emg ada yg berubah, ehehe. Jazzakillah khair do’anya Sekar, Aamiiiin ya Rabb😀

      • Sekar November 10, 2015 at 7:47 am

        doain aku cepet nyusul tahun ini atau tahun depan ya mbaak hihi😀

      • Eka Novita November 10, 2015 at 7:48 am

        Amiiiiin aamiiin. Semoga Allah mengabulkannya. InsyaAllah secepatnya -aku doa’in sungguh-sungguh-.

      • Sekar November 10, 2015 at 7:52 am

        :”) jaazakillah ahsanal jaaza mbak eka. Dan semoga Allah terus tingkatkan ilmuku untuk bisa nyunnah. *doain mbak eka juga*

      • Eka Novita November 10, 2015 at 7:58 am

        Aamiiiin ya Rabbal ‘alamiiin🙂

  5. Kinerja Aktif Santri November 9, 2015 at 9:08 pm Reply

    Mbak, saya masih pemula nih!
    Mohon sarannya…
    Saya punya pacar, sayanya kepengen nikah di usia muda…
    Tapi cewek saya pengennya lulus kuliah dulu…
    Gimana tuh mbak? Mohon sarannya.

    • Eka Novita November 10, 2015 at 7:36 am Reply

      Wah, saya ga berkompeten utk jawab permasalahan kyk gini, konsul ke ustadz saja ya🙂

  6. Asop November 20, 2015 at 11:10 am Reply

    Alhamdulillah, saya yang belom nikah. Hehe mohon doanya ya Mbak😀

    Seperti kata orang yang saya lihat di Instagram, “Menikah itu murah dan mudah, tapi budaya pamernya yang mahal”.
    Tapi setelah saya baca tulisan Mbak di atas, bahwa anggaplah respsi itu sebagai sedekah, saya jadi mikir2 lagi. Awalnya saya juga berpikiran demikian, bahwa respsi itu mahal dan susah, kok rasanya seperti pamer ya? Tapi…. setelah dipikir2 lagi… itu kan wujud syukur kita. Niatnya kan mau berbagi kebahagiaan. Jadi, memang bisa juga kita berpikir bahwa resepsi itu adalah sedekah untuk orang2 terdekat atau orang2 di sekitar kita.🙂

    • Eka Novita November 23, 2015 at 8:36 am Reply

      Aamiiiin. Semoga rencana pernikahannya dimudahkan segala sesuatu-nya oleh Allah. Iya, melaksanakan resepsi pernikahan semampu kita sebagai wujud syukur dan menjauhi sifat mubazir tentu-nya akan lebih berkah ya Asop🙂

      • Asop November 23, 2015 at 10:44 am

        Aamiin😄😄
        Semoga nanti resepsi pernikahan saya nggak mubazir dan semoga barokah. Aamiin🙂

      • Eka Novita November 23, 2015 at 10:45 am

        Aamiiiiinnnn ya Rabb🙂

  7. alif hafidz sharkan December 9, 2015 at 9:11 am Reply

    mba,trimakasih, menginsfirasi sekali,kbetulan 2 bln lg sy mau nkah, mnta doa nya jga mba, sy mau nya sesederhana mungkin,nmun melihat kondisi klrga yg blm bgtu faham ttng bgaimna sharus nya walimahan scra slami, sy hnya bisa pasrah, yg trpenting sy udh request acaranya d adakan sesederhana mungkin,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: