Langitku Yang Kelabu

xW2nMASCu5tlN2P2559w7Wx6NNjERpLz6ovD1EqVjNZXv7h4EoubhEIbi5Z9aNtF

pict source : fbcoverstreet.com

Sudah dua bulan lebih saya dan warga Riau lainnya udah puas banget mandi asap. Dari awal dimulainya musim asap saya udah menahan diri untuk gak mengeluh, gak mencela kondisi, atau menyalahkan pemimpin/pemerintah. Saya berdoa agar musim kemarau segera usai dan Allah menurunkan hujan ditempat-tempat titik api.

Musim asap makin parah dari tahun ke tahun. ISPU menunjukkan kualiatas udara di Pekanbaru berbahaya. Apalah saya ini yang nggak punya AC apalagi Air Purifier dan tiap harinya harus menghirup udara kotor beraroma bakaran yang bener-bener bikin sesak. Kamar saya, baju saya, bahkan rambut dan kulit saya yang tertutup pun beraroma bakaran. Jangan ditanya soal mata saya yang berair karena perih. Kalo saya tajir melintir mungkin saya bakal bawa orang se-Riau ini untuk ngungsi ke daerah lain yang bebas asap.

Bahkan disuatu malam saya terbangun pukul 2 dini hari karena tersedak asap. Dilanjutkan dengan batuk-batuk. Saya berusaha melanjutkan tidur dengan menggunakan masker. Ketika saya bangun subuh, batuk-batuk semakin menjadi dan dahak yang saya keluarkan sudah berwarna coklat. Selang beberapa hari batuk-batuk saya semakin menjadi-jadi, dada serasa dipukul-pukul, menarik nafas pun susah. Dahak yang saya keluarkan pun sudah bercampur darah. Setiap hari badan saya selalu demam dan semakin lemas.

Tiga hari saya demam tinggi, saya takut sekali diponame karena nggak mau nyusahin suami dan mertua. Untungnya demam segera reda setelah saya diinjeksi. Saya sudah banyak-banyak minum air putih dan konsumsi buah, bahkan menggunakan masker di dalam rumah. Tetap saja tubuh saya nge-drop. Bukan saya main-main, tapi tubuh ini memang nggak kuat kena serbuan asap pekat. Saya nggak bisa bayangin bayi-bayi, balita, penderita asma dan lansia menghadapi kondisi berasap seperti ini.

Memang kondisi di Pekanbaru masih jauh lebih baik daripada di Palangkaraya. Dan saya bersyukur kepada Allah karena masih bisa beraktifitas normal. Saya berharap banyak pihak yang mau membuka mata dan hatinya, sampai kapan kondisi seperti ini terus berlangsung ?. Pemimpin dan petinggi di negeri ini, saya doakan diberi kebijaksanaan, kearifan, dan ketegasan dalam membuat keputusan. Benar memang firman Allah, akan ada sebagian manusia di bumi ini yang membuat kerusakan. Sudah jelas terlihat.

kelabu

22 Oktober 2015

Di suatu siang yang kelabu, Pekanbaru.

Advertisements

30 thoughts on “Langitku Yang Kelabu

  1. dipadang beberapa hari ini asapnya semakin hari semakin tebal mba..hari ini asapnya udah mulai agak kuning gitu, dan dalam ruangan aja udah bikin tenggorokan dan hidung sakit.. 😦

    mo ngungsiin anak ke rumah neneknya, eh ditempat neneknya malah lebih tebal asapnya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s