Tentang Hijab (kerudung-ku)

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan singkat-ku belum lama ini dengan seorang ibu di sebuah majelis taklim.

Beliau bertanya, “Eh… adek ini sekolah di Pesantren mana ya ?”. Dalam hati udah ngakak kuat-kuat, karena aku udah tamat kuliah, dan umurku saat ini 24 plus plus. Sooo thank you so much madame, i feel so honoured… She make feel like a 17 y.o teenager again😛.

Aku jawab lah, “Udah nggak sekolah lagi bu, udah tamat kuliah…”.

“Ooooohh, ibu kira anak pesantren, masih kecil tapi baju dan kerudung-nya besar-besar”, kata ibu itu.

Alhamdulillah, dalam hati aku bersyukur karena Allah menutupi aib dan kekuranganku di pandangan orang lain. Orang umumnya menganggap anak pesantren itu baik dan sholehah kan ya ?. Mudah-mudahan aku pun bisa menjadi seperti itu. Walau kenyataan-nya masih jauuuuh. Aku bisa menggunakah hijab/jilbab seperti saat ini atas izin Allah dan ada proses yang dilalui untuk tetap konsisten. Ohya, teman-teman bisa baca tulisanku sebelumnya tentang hijab syar’i disini ya.

So friends, yang punya banyak waktu luang dan hobi membaca postingan panjang tanpa melewatkan satu huruf pun… lemme talking about my hijab journey… The story begin…

***

keep modesty
Aku tidak terlahir dari keluarga yang religius sejak awal, juga tidak punya latar belakang pendidikan agama yang mumpuni. Bapak dan mamakku, mulai terpanggil untuk belajar dan mengaplikasi-kan ilmu agama Islam kira-kira 10 tahun yang lalu. Mamakku sendiri mulai pake kerudung saat beliau berusia 35 tahun, emmmm… kira-kira waktu itu aku masih duduk di kelas 1 SMP.

Aku terlahir dengan sifat keras kepala, pecicilan, bebas, dan penasaran. Saking nggak bisa diam-nya, aku punya banyak kenang-kenangan. Dua buah bekas luka jahitan… satu di siku, satu di leher belakang. Aku punya banyak bekas luka di kaki dan tanganku akibat jatuh dari pohon, jatuh dari sepeda, jatuh dari motor. Dan di jidat-ku ada bekas luka lemparan batu. You imagine lah, betapa pecicilannya aku waktu kecil.

Aku berasa jadi anak perempuan waktu aku belajar mengaji, mesti pake kerudung kan ?. Waktu kecil aku mikir, kalo hijab hanya di pake waktu sholat dan mengaji. Selama sekolah, satu-satunya guru yang pake hijab adalah guru agama Islam. Masa SD dan SMP aku bersekolah milik Yayasan sebuah perusahaan kertas di kampungku. Murid-muridnya beragam suku, semua agama ada. Sekitar 50 % beragama Islam, 30 % Kristen dan Katholik, 19,999 % Buddha, dan 1 % Hindu. Betapa heterogen-nya sekolahku dulu, jadiii… aku udah biasa lah dg perbedaan. Dan, aku berhubungan baik dg teman-teman yang berbeda agama sampe sekarang.

Ku akui, aku kurang mendapat didikan agama Islam. Bukan karena orangtua-ku gak peduli, tapi mereka  fokus bekerja keras untuk menghidupi aku. Sedangkan pelajaran agama Islam hanya aku dapat di sekolah. Untuk belajar sholat – mengaji, aku belajar dengan tetangga-ku yang kebetulan seorang ustadzah, that’s all. Aku juga gak familiar dengan kewajiban berhijab, since my mother also not wearing hijab in the past… kan ?. Bapak juga dulu gak pernah menyinggung masalah pake kerudung/hijab yang sempurna.

So, i used to be a free hair girl, wore my baggy jeans with my loose t-shirt, and a cap in my head like a rapper. I used to going around in the neighbourhood with my bike. I used to be a girl who played the kite, smackdown and -bola debuk- with my boy-friends (bukan pacar yaaakkk XD).

And in the one fine day, waktu jahit baju seragam SMA… mamak yang saat itu udah ber-kerudung bilang kalo aku harus pake kerudung. HARUS. I shocked. Bagaimana mungkin… aku yang jalan-nya nggak bisa pelan, nyaris selalu berlari harus pake rok span panjang yang sempit itu. Bagaimana mungkin… aku yang gampang berkeringat, pake baju panjang itu. Bagaimana mungkin… aku yang nggak pernah pakai kerudung harus melipat kain segi empat jadi segitiga plus mengaitkannya dengan jarum pentul tepat di bawah dagu. Dan, dulu aku mikir perempuan pakai kerudung itu pastilah feminim, ayu dan manis. Sedangkan aku jauh dari itu. Nangis lah aku. Bertengkar aku dengan mamak gara-gara masalah kerudung itu. (Please don’t curse me because i made an unimportant drama, waktu itu aku masih kecil dan labil kan…).

So. I made a deal with my mom. Aku setuju pake kerudung tapi buka tutup. Berkerudung hanya di sekolah, tidak berkerudung di luar sekolah. Mamak setuju, beliau menganggap ini latihan untuk membiasakan diri berhijab buatku.

Kalo, perempuan lain mengalami bad hair day, aku mengalami bad kerudung day. Kerudung zaman dulu itu bahannya licin kan yaaa, nggak banyak pilihan seperti sekarang. Terus daleman kerudung-nya model topi pet itu. Muka aku kecil, dan pet-nya besar. Kerudung-ku jadi ber-rongga, dan nggak rapi. Alhasil kerudung yang licin itu miring ke kanan, miring ke kiri. Kadang kerudung-nya turun menutupi jidat sampe blur pandangan mataku, trus nanti kalo di tarik ke belakang keluar sudah baby hair-ku yang halus-halus  itu dari sela-sela kerudung. Streeesss kali aku dibuatnya huhu😦 !.

Sesudah lulus SMA, aku ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri (dulu namanya SPMB) dengan memilih dua jurusan kuliah di Universitas Riau, FKIP Bahasa Inggris dan Sastra Jepang. Aku menghindari masuk Universitas Islam di daerahku, karena ogah pake pakaian muslimah. Tapi, Allah menakdirkan aku melalui jalan yang berbeda. Aku nggak lulus bebs. Dua-duanya. Duh !.

Dengan berat hati aku ikut ujian gelombang pertama di Universitas Islam Negeri. Kenapa harus di Universitas Negeri ?, karena di Universitas swasta mahal. Aku nggak mau nyusahin orangtuaku. Ternyata, aku lulus dan resmi diterima sebagai mahasiswi jurusan Pers dan Grafika prodi dari  Ilmu Komunikasi. Waktu aku survei ke kampus dengan temanku untuk melihat-lihat fakultas-ku, hampir semua senior di koridor memandangi kami dengan tajam. Sadarlah aku, di UIN mahasiswi-nya nggak ada yang pake skinny jeans dan baju kaos. Buahahahhaha.

The kakak seniors kebanyakan pakai rok dan kemeja yang panjang sampai menutup pinggang, bahkan ada kakak senior asal Malaysia yang pakai niqab (cadar). It’s the most awkward moment that i ever had. Berasa salah kostum !.

Aku dan temanku buru-buru ngacir, takuuuttt. Takut jadi korban ospek dini gara-gara penampilan yang kelewat stunning. Dengan uang bulanan yang terbatas, aku ke pergi ke pasar untuk beli 3 buah rok, beberapa blouse panjang, dan beberapa potong kerudung. Nggak sanggup beli baju di mall yaaaah… Duit aku sikit, harus hemat-hemat untuk makan sebulan, hihihiii.

Awal kuliah, aku masih buka tutup kerudung, dan waktu itu aku punya boyfriend, the real boyfriend alias patjar *facepalm. Alhamdulillah di Univeritas Islam Negeri-lah, aku dipertemukan dengan teman-teman yang biasa dipanggil dengan julukan “akhwat atau ukhti”. They very welcome and friendly, seriously. They not look down on me, and not judge me by my apperance yang acak-acakan. Dua orang ukhti itu jadi teman dekat-ku. Aku pikir cara terbaik dalam berdakwah adalah attitude dan contoh. Mereka bener-bener menunjukkan akhlak yang baik, adab-adab dan lisan yang terjaga, sifat yang ramah dan menerima siapa-pun dengan tangan terbuka.

Lewat mereka aku jadi tertarik mempelajari ilmu agama Islam lewat diskusi, buku-buku dan datang ke majelis taklim. Mereka sama sekali tidak menggurui, dan tidak menyebalkan, hehe. Waktu datang ke majelis taklim aku canggung banget banget. Entah kenapa rasanya aku nggak pede pake baju dan kerudung pendek saat berbaur dengan wanita-wanita yang pakaiannya bener-bener menutup aurat itu (mayoritas menggunakan niqab/cadar). Jujur dalam hati aku ingin juga jadi bagian dari perempuan seperti itu. Sumpah, hatiku adem banget dikelilingi perempuan-perempuan yang pembawaannya santun.

Masuk semester tiga, aku rada galau. Antara ingin ‘hijrah’ atau tetap bertahan dengan kerudung buka-tutup. Nafsu duniawi aku kan kadang-kadang besar nggak ketulungan. Kadang terpikir pulak-lah kalo aku nggak terlihat cool lagi, nggak bisa pake celana jeans haaaaa. Nggak bisa nebeng boncengan motor sama teman laki-laki. Duh, gimana kalo orang melihatku dengan tatapan sinis ?. Duh, apa kata teman-temanku yang lain kalo aku transform jadi ukhti-ukhti. Akankah mereka masih mau berteman denganku, secara ada beberapa temanku yang menganggap ukhti-ukhti itu ekstrem/berlebihan. Ohya, my boyfriend… masih agak-agak gak rela kalo harus pisah sama dia *jedotin kepala, Wahahhahahaha.

So, aku coba-lah sehari pake kerudung panjang. Kerudung segi empat aku dobel, trus aku lipat segitiga dan disesuaikan ukuran panjangnya. Cobak terka apa yang terjadi, 1 jam lebih aku make itu kerudung nggak bisa-bisa. Yang dalemnya keluar balapan sama luaran. Nanti pas udah sesuai panjangnya aku yang kesusahan membentuk kerudung itu pas di-muka-ku. Oh my… memang naik darah-ku dibuatnya. Sampe teman se-kamarku bilang “buat apa sih kau susah-payah begitu, pake kerudung yang biasa-biasa aja napa !”, dengan nada ketus. Aku spechless, dalam hati aku udah nanges. Ya Allah, begini yaaa rasanya diuji kesabaran itu. Kalo ngikutin amarah, udah ku lempar kerudung itu. Tapi, ini ujian. Ujian kecil untuk sebuah kesungguhan.

Eh eh stop dulu, kenapa nggak pake kerudung instant yang panjang itu sekalian ?, nggak perlu repot pake kerudung berlapis, gak payah membentuknya ke muka ?. Ehmmm… kan duluuu aku anak kos, duit di kantong sikit. Mana bisa beli kerudung instant ber-merek. Harus nabung agak lama baru bisa terbeli, lagipula waktu itu aku the hijabi newbie, belum banyak tau dengan aneka varian kerudung. Nah back to the story…

Akhirnya sukses dong pake kerudung panjang, aku ke kampus dengan penampilan baru. Alhamdulillah, tes mental hari itu terlewati dengan baik. Walau teman-teman cowok se-kelas agak-agak nyinyir gitu mengomentari penampilan-ku. Dalam bayanganku, aku udah berubah jadi gangsta yang niat membalas perlakuan mereka. Yoooo man, why you teased my veil, huh. I thought you want me to punch and break your bones, huh ? *becanda kok😄. Aku udah membulatkan tekad, aku nggak mau buka tutup kerudnug lagi. Aku ingin menutup aurat dengan sempurna dan menjaganya tetap tertutup dari mereka yang non mahrom. Bukan karena siapapun, tapi karena Allah. Lillahita’ala.

So, i met my boyfriend, cerita tentang niat-ku, bla bla bla… and said goodbye to him. Alhamdulillah dia mengerti, dan pisahan baik-baik. He is still being sweet bestfriend of mine until now. Really a good friend who understand me so well. Setelah itu, aku nelpon mamak-ku. Cerita kalo aku mau transform jadi ukhti-ukhti seperti yang mereka inginkan. Mamak dan bapak langsung excited, aku di-kasih uang dong buat beli beberapa potong gamis. Terus aku juga dapat lungsuran baju gamis lama-nya mamak yang udah jarang di pake. Alhamdulillah, dimudahkan juga niat-ku untuk berkomitmen dengan si hijab syar’i ini. Setelah berhijab, aku bisa melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, yang sebelumnya terabaikan oleh mata hatiku.

Berdasarkan pengalaman, ada beberapa poin penting yang ku rangkum :

1. Untuk memakai hijab, pastikan niat kita benar. Niat itu hal dasar, dari situlah Allah akan menhitung pahala kita. I wish you all wear hijab because Allah, wujud taqwa, the way to please Our God (Allah), not the peoples. Niat lain seperti mau kelihatan cantik, fashionable, ikut trend, etc etc itu tolong hindarkanlah… But, i dont’ know why… wear hijab it’s like a magic. Dengan memakainya aura dari yang terpancar dari diri kita menjadi berbeda. Kelihatan anggun dan orang yang memandang pun tetiba menjadi respect kepada kita. MasyaAllah…

2. Sekedar mengingatkan the hijabi, please… don’t ever judge the other muslimah who not wear hijab yet. Thinking positive. Dalam beberapa sikon kutemui, beberapa temanku yang tidak ber-hijab, ibadah dan muamalah-nya bagus sekali. Rajin dhuha, rajin ngaji, rajin shaum senin-kamis, baik sama semua orang. Bener-bener patut dijadikan teladan, they mooooooreee better than me. Aku selalu do’akan dalam hati, agar mereka terpanggil untuk menunaikan kewajiban ber-hijab-nya. Alhamdulillah, beberapa dari mereka sudah konsisten pake hijab.

3. Untuk mereka yang belum ber-hijab. Please ingat, the hijabi is not perfect. Pake hijab tidak membuat ‘kami’ sempurna dan tidak boleh berbuat salah. Hijab itu wajib, sama seperti kewajiban sholat, puasa, zakat, dll yang mana esensinya adalah suatu usaha untuk ibadah kepada Allah dan menjauhkan diri dari keburukan. Jangan karena kesalahan segelintir orang, lantas men-cap mereka ‘munafik’. Lalu muncullah suara-suara sumbang, “Akuuu dooong gak pake jilbab tapi hati akuuu baik, gak munafik kayak dia, pake jilbab tapi masih suka bla bla bla…” *oh rolling eyes. The hijabi, hadapi lah… ini tantangan. Sisi positif-nya Hijab membuat kita berpikir dua kali sebelum melakukan hal-hal yang rasanya kurang bermanfat kan ?.

4. Pake hijab berarti harus siap menerima penilaian orang. Padahal pake hijab kan tidak serta merta membuat seseorang jadi anggun, ayu, lemah lembut, dll in instant seperti yang dibayangkan orang. Semua orang punya pembawaan dan karakter sendiri. Di dunia nyata, hijabi tidak seperti di sinetron yang pembawaannya mellow dan nangis melulu. Kita ini ceriaaa loh, dan juga bisa have fuuun in the appropriate way, of course.

5. Niqab (cadar) bukan simbol teroris. Juga bukan budaya dari tanah arab. Niqab (cadar) itu sunnah Rasulullah, it means berlaku untuk siapapun asalkan dia muslimah dari etnis / bangsa apapun. Jangan membencinya, dan jangan paranoid. Jangan beranggapan wajah yang tertutup niqab itu buruk ataupun cacat. There’s hidden beauty inside the veil. Aku salut banget dengan mereka yang memutuskan untuk pake niqab. Two thumbs up for them.

6. Untuk mereka yang berhijab, please jaga kebersihan. Jangan sampe aroma-aroma nggak enak menguar dari tubuh kita. Ya, aku ngerti lah pake hijab panas beebbb. Tertutup, pengap, dan bikin lebih gampang berkeringat. Tapi, pandai-pandailah jaga diri agar aroma badan tetap fresh without perfume, of course😀

7. The expert hjabi, please baik-baik dan lemah-lembut lah dalam menasehati hijabi pemula. Kadang ada beberapa hal yang mereka belum paham dalam aturan berhijab syar’i seperti : no sanggul or punuk unta, no perfume, no baju transparan, no pake hijab tapi boobs kelihatan, no baju ketat. Beri contoh, beri nasihat yang lembut, dan jangan lupa do’akan dia. Allah lah yang punya kuasa membolak balikkan hati dan memberi hidayah pada hamba-Nya kan ?.

***

Jadi… begitulah ceritaku. Salut untuk mereka yang baca sampe selese. You’re awesome !. Semoga membawa manfaat. Teruntuk saudariku semuslim, yang belum ber-hijab, semoga Allah memudahkan proses kalian, Aamiin. Aku sayaaaang saudariku semuslim, aku ingin hati kita disatukan dalam ketaatan. Love you sisters, because of Allah…

 tumblr_mnkujztvPV1s4shrvo1_500

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

32 thoughts on “Tentang Hijab (kerudung-ku)

  1. apkbaru August 7, 2014 at 2:32 am Reply

    mampir sini,,, salam kenal

  2. adienesia August 7, 2014 at 5:37 am Reply

    tetap istiqomah mbak. semoga hijabnya selain sebagai kewajiban, juga bisa difungsikan menjadi sarana dakwah.🙂

  3. jampang August 7, 2014 at 9:03 am Reply

    semoga makin banyak perempuan yang mengenakan jilbab yang syar’i dan bukan mementikan style atau modis aja🙂

    • Eka Novita August 7, 2014 at 11:16 pm Reply

      Aamiin, semoga bang… banyak-banyak kita bantu mereka dg do’a.

  4. Crossing Borders August 7, 2014 at 10:56 am Reply

    What a spiritual road you’ve been through there, sister! God bless you! Aku muslim, belum berhijab, tapi bukan berarti suka berpakaian “sexually provocative” juga.. Semua yg kamu tulis di sini cukup akurat dengan kenyataan sehari2 yang aku lihat. Ada segelintir hijabers yang suka meremehkan yg tidak berhijab, mungkin mereka pikir mereka pasti langsung masuk surga karena berhijab, dan orang seperti saya pasti masuk neraka karena tidak pakai (udah gitu suami saya bule lagi..wuahhhh..sasaran empuk sudah).. Untungnya hijabers yang saya kenal umumnya baik hati dan tidak sombong..Alhamdulillah..hehehe.. Semoga saya segera diberi hidayah.. Amin..

    • Eka Novita August 7, 2014 at 11:26 pm Reply

      Aamiin ya Rabb, i’ll pray for you mbak, may Allah always bless and protect you and your family.
      Mmmmm, kalo soal the hijabi yg kadang meremehkan orang yg belum berhijab. Aku gak tau jg apa penyebab-nya, kurasa itu karakter dari sono-nya aja sih mbak😄. Aku ngerti perasaan mbak, karena aku pernah tdk berhijab dan pernah di judged juga. Tapi patokanku adalah ber-positive thinking dg sesama muslimah. Since i don’t know what in their mind, in their heart. Kan, Allah Maha Tahu. So i let Allah to judged them, not me. Kewajiban aku cuman menyampaikan, dan mendo’akan🙂.

  5. ochimkediri August 7, 2014 at 10:57 am Reply

    btw jilbab yang sebenarnya memang yang panjang…

    • Eka Novita August 7, 2014 at 11:27 pm Reply

      sebenernya ya memang begitu, sesuai dg fungsinya menutup apa yg harus ditutup…

  6. ferdiansyah30 August 7, 2014 at 3:52 pm Reply

    Yap, kecantikan gaakan pudar dengan berhijab

  7. Haya Najma August 7, 2014 at 8:28 pm Reply

    berawal dari terpaksa, jadi biasa😀

    • Eka Novita August 7, 2014 at 11:29 pm Reply

      kadang menuju kebaikan emang harus dipaksa, seperti kalo mau sembuh dr sakit harus disuntik dulu😀

      • Haya Najma August 7, 2014 at 11:43 pm

        Aku dulu juga kok hehehe

  8. Happy Fibi August 7, 2014 at 9:55 pm Reply

    Suka dengan ceritanya, mbak🙂. Berjilbab panjang itu, susah-susah gampang, ya. Salut, mbak X). Semoga tetap istiqomah.
    Salam kenal dari Surabaya, mbak🙂

    • Eka Novita August 7, 2014 at 11:31 pm Reply

      Awalnya susah-gampang, kelamaan jadi gampang karena banyak orang jual jilbab instant yang lebar😀
      Aamiiin, InsyaAllah. Do’akan selalu ya dek…
      Salam kenal dari Riau🙂

      • Happy Fibi September 6, 2014 at 9:12 pm

        Hehe. Iya mbak. Sekalipun banyak yang jual jilbab instant yang lebar, saya terkadang masih ragu buat bertransformasi :”(. Terkadang masih ragu dengan stigma teman2 sekitar kalau-kalau saya berbuat salah😦
        Salut mbak sama mbak X)

      • Eka Novita September 7, 2014 at 8:35 pm

        Hmmm, mudah2an dipermudah Allah untuk menjalankan niat baik ya Fibi. Aamiin🙂

  9. Gusti 'ajo' Ramli August 10, 2014 at 12:42 pm Reply

    Jilbab dan pakaian taqwa itu adalah dua hal yg berbeda. Jilbab bisa jadi hanya menutupi lahir saja,klo pakaian taqwa menutup lahir dan bathin. Bagaimanpun, perempuan yg pakai hijab syar’i itu terlihat cantik…

    • Eka Novita August 10, 2014 at 8:38 pm Reply

      Karena berjilbab adalah menunaikan kewajiban sebagai wujud takwa, gak salah dong kalo disimbol-kan sbg pakaian taqwa. Walau kemurnian taqwa itu sendiri siapa yg tahu😀.

  10. momtraveler August 15, 2014 at 10:25 am Reply

    Semoga selalu istiqamah ya mbak..aku jg lg mo belajar berjilbab lebih baik lg nih..semangat !!
    salam kenal ya ^-^

    • Eka Novita August 15, 2014 at 12:26 pm Reply

      Aamiin, semangat mbak, aku turut mendo’akan🙂
      Salam kenal kembali ^^

  11. arip August 16, 2014 at 12:12 am Reply

    Jilbab yang sebenarnya itu ya jilbab yg dengannya bisa dipakai sholat tanpa harus lagi dilapis mukena.
    Tetap rajin aja liqo-nya, jangan kayak saya.😀

    • Eka Novita August 17, 2014 at 3:27 pm Reply

      Bener sekali, karena jilbab itu sudah menutup selurh tubuh tanpa harus dilapis mukena lagi.
      Hehehhe, InsyaAllah🙂

  12. Elvi Kasari August 19, 2014 at 5:49 pm Reply

    Salam kenal kak🙂
    saya mahasiswa uin suska riau jg, sedang d semeter 3..
    blog nya memotivasi banget kak (y)

    • Eka Novita August 20, 2014 at 8:55 am Reply

      Makasih Elvi…
      Semangat kuliahnya yaaa…

  13. dhicovelian August 20, 2014 at 4:18 pm Reply

    Manfaat mbak tulisannya, semoga semakin banyak wanita muslim yang memakai jilbab syar’i. Termasuk ibu dan adik perempuan saya yang belum berhijab, semoga Allah memberika jalan untuk mereka…🙂

    Semoga Istiqomah berhijabnya Mbak Eka. Nice article.😀

    • Eka Novita August 21, 2014 at 9:26 pm Reply

      Amiiin, Aku akan mendoakan ibu dan adikmu, kamu jgn lupa doakan mereka juga yaaa🙂
      Makasih kunjungan dan do’a-nya ya.

  14. dhicovelian August 21, 2014 at 9:32 pm Reply

    Aamiin… makasih doanya…🙂

  15. yosi dinda September 15, 2014 at 12:54 pm Reply

    ukhti cerita sma persis sama saya dlu…
    waktu sya lgi jahitin seragam SMA..
    sama abi saya disruh pake jilbab…
    ya allah,, sya dullu sampe nangis2 gra2 msih blom siap..
    yya itu dah gra2 msih blom PD kali yya😀
    sampe2 skrang mau hijab syar’i bngung..
    soalnya sya kuliah dengan mayoritas mhasiswanya 100% hindu🙂
    dan saya jugga bngung harus gimana??
    takut dosen saya tidak mmperbolehkan😦😥
    *afwan* *Curhat*

    • Eka Novita September 15, 2014 at 9:37 pm Reply

      Samaan ya kisah kita *hugs.
      Kadang minoritas emg agak susah jg kalo mw pake hijab syar’i, tekanan dr lingkungannya berat tp disitu pula ujiannya. Coba dipake aja dulu, kalo ada masalah di kemudian hari dg dosen, bilang aja kan busana gak mempengaruhi nilai akademis. Kalo emang ga bisa jg, ya pake aja semampu kamu bisa. Mudah-mudahan Allah me-mudahkan niat kamu ya Yosi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: