Belajar Puasa Belajar Jujur…

????????????????????????????????????????????????????????????????

Sumber : djigokelasinspirasi2.wordpress.com

Seingatku, aku belajar puasa penuh saat masuk usia 8 tahun lewat beberapa bulan. Waktu itu aku duduk kelas 3 SD. Waktu kecil aku termasuk anak yang cuek banget, jarang dengerin nasehat orangtua. Seakan-akan aku menunggu kena batu-nya dulu baru mau mendengarkan nasehat mereka. Nggak heran, orangtua-ku sering naik darah karena kelakuanku. Maafin aku ya mak, pak😀.

Waktu diajak berpuasa penuh, aku merengek-rengek nggak mau puasa penuh. Karena ngeliat teman-temanku masih banyak yang puasa setengah hari. Mamak bilang, puasa itu nggak boleh ikut-ikutan teman, karena puasa itu untuk Allah. Aku pun tawar menawar sama mamak, kalau aku bisa puasa penuh, per harinya aku minta uang 200 perak. Otomatis mamak ngomel dong, “puasa itu untuk dapat pahala dari Allah bukan untuk dapat duit, berdosa !”. Huhuhuhu. Masih belum putus asa, aku tawar lagi kalo puasaku penuh sebulan aku minta dibeliin ini-itu. Malah tambah kena marah. Ya sudahlah, nggak ada harapan untuk mengelak ataupun mengeruk keuntungan dari berpuasa *anak minta di toyor. Mamakku yang galak itu kalau sudah bilang “tidak”, ya benar-benar “tidak” !.

Dan puasa penuh pertamaku itu memberiku pengalaman dan pelajaran yang kuingat sampai sekarang.

Puasa hari pertama, aku bangun tidur sekitar jam 10-an pagi. Aku malas-malasan sambil nonton tivi. Adekku waktu itu masih balita, dia datang dan duduk di sampingku sambil ngemil kerupuk udang. Adekku itu, dengan baik hatinya menyuapkan kerupuk udang kemulutku. Aku pun dengan santainya membuka mulut “aaaaaakkkkk…. kunyah-kunyah, telan, glek !”. Baru ingat kalau hari itu aku puasa. Aduh gimana nih, batal puasaku. Aku kesal, kucubit saja dia, kontan saja dia menangis menjerit-jerit. Mamak langsung marah-marah sambil menenangkan adekku.

“Kau apakan adekmu ?”, mamak melotot.

“Aku cubit… masak disuapkannya aku kerupuk, aku lupaaaaa. Jadi batal puasa akuuuu !”, aku ngomel.

“Nggak batal puasamu doh, kau kan lupa, jangan minum air, teruskan puasamu sampe sore !”, balas mamak.

Jadilah aku mendapat pelajaran hari itu, kalo makan/minum karena lupa ternyata puasa-nya tidak batal. *catat.

Waktu itu ketika bulan Ramadhan anak SD diliburkan, jadi puasa kuisi dengan full bermain. Kadang aku dan teman-teman berkeliling main sepeda di tengah hari. Kami bersepeda entah kemana-mana, menjelajahi gang-gang, mengunjungi rumah teman-teman. Hingga, kami berhenti di mesjid untuk ngadem bentar… Salah satu temanku dengan santainya minum air mentah dari keran mesjid.

“Ish, kau nggak puasa !”, tuduhku.

“Aku puasa setengah hari yaaaaa, udah lewat tengah hari niii…”, katanya.

“Ooooh, enak kau ya, aku nggak boleh puasa setengah hari sama mamakku”, jawabaku.

“Weeessss, puasalah kau terus sampai sore nanti ya…”, balas temanku.

Aku diam saja, sambil terus melihat teman-temanku minum air dan cuci muka dari keran mesjid. Sebenarnya, aku pengen banget minum air, tenggorokan aku luar biasa keringnya, haus menjadi-jadi karena kepanasan main sepeda. Tapi… aku nggak mau lah minum air mentah, kotor, dalam hatiku.

Sepulang main sepeda, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 3 siang lewat. Mamakku sedang tidur siang dengan adekku. Aku hauuuuus banget banget. Rasanya udah nggak sanggup. Muncullah ide jelek, aku minum air teko aja. Kalau mamak nggak tahu, kan nggak apa-apa. Lagian puasaku sudah lewat setengah hari :p.

Lalu, pelan-pelan aku berjalan ke dapur. Aku ambil gelas untuk minum, eh… kalo minum pake gelas nanti ketahuan bunyi gelas berdenting-denting. Gimana ya caranya biar gak ketauan ?. Ohya, langsung aja minum dari teko-nya kayak bapak-bapak. Aku pun mencoba langsung menenggak air dari teko. Gulp gulp gulp. Yessss berhasil ! udah ga haus lagi. Tambah lagi ah minum-nya, gulp gulp gulp. Maka… batal-lah puasaku hari itu. *geleng-geleng kepala.

Ide licik ini terus aku gunakan, tiga hari berturut-turut. Aku selalu minum langsung dari teko tanpa ketahuan. Sukses besar !. Tapi kejahatanku tidak berlangsung lama karena…

Hari berikutnya, saat aku melancarkan aksiku, aku minum terburu-buru karena sudah kelewat haus. Dan, tahukah kalian apa yang terjadi ???. Aku tersedak !. tersedak sejadi-jadinya. Ohooook Ohoook Ohooookkk !. Air menyembur keluar lewat hidungku, rasanya perih sekali sampai aku terbatuk-batuk keras tidak bisa ditahan. Mamakku yang sedang tidur siang langsung terbangun sodara-sodara !.

Mamak menjerit “Siapa ituuuuu ??!!!”.

Aku nggak bisa jawab karena masih batuk-batuk. Mamak pun menangkap basah aku yang udah seperti tikus tersudut.

“Ha, kurang asam, minum kau yaaaa !”, hardik mamak.

Aku takuuut, aku meringis karena hidung dan dadaku sakit. Aku masih terbatuk-batuk. Mamak mengurut punggungku sambil terus mengomel.

“Nah, tau rasa kau sekarang kan. Itulah balasan Allah buat anak yang nggak jujur. Sakit kan ! Rasakan !. Mamak bilang kelakuanmu hari ini sama bapak, habis kau nanti…”.

Aku nggak bisa membayangkan betapa horor-nya kalau bapakku ikut marah gara-gara masalah ini.

Maghrib menjelang buka, mamak masih marah. Kata mamak anak yang nggak puasa, nggak usah di kasih makanan berbuka. Sedih kaliii hatiku. Walaupun udah minum, tapi kan aku lapaaaar. Aku pun mengkeret dengan tatapan bapakku, aku pasrah dimarahi, tapi untungnya bapak gak marah, cuma wajahnya saja yang terlihat gak enak.

Bapak pun menasehati aku. “Allah tu maha tahu, Dia melihat apa yang dikerjakan hambaNya. Apa yang kau sembunyikan dari orang, Allah melihat-nya. Nah, jadi kalau hari ini Allah menunjukkan kenakalan-mu ke orang lain, itu tandanya Allah sayang. Allah tidak izin kau jadi anak nakal, bohong terus sama orang tua. Besok-besok kalau kau buat nakal lagi, Allah akan kasih tahu orang tua. Jadi jangan ulangi lagi !”.

“Iya, aku nggak bohong lagi. Tapiii, aku haus… aku nggak kuat puasa penuh”, jawabku.

“Masak udah besar masih puasa setengah hari, harus penuh !. Udah tahu hari panas, tetap juga kau main sepeda. Kalau mau main itu dirumah aja yang dekat-dekat. Siang itu tidur, jangan kelayapan, main panas-panas. Haus jadinya. Besok… kalo Bapak dapat laporan kau buat nakal lagi, tengoklah hukumannya…” balas Bapakku dingin.

Aku pun menghabiskan hari itu dengan perasaan nggak enak. Aku merasa bersalah dan kesal juga. Kenapa harus ketahuan sih, hahahha. Agak susah mengembalikan kepercayaan mamakku. Aku dicuekin terus dong sama mamak, mungkin mamak masih kesal. huhuhu.

Pastinya sejak hari itu, aku kapok mengkhianati kepercayaan orang tuaku. Dan, sejak saat itu aku terus puasa penuh setiap tahunnya😀. Ada satu hal yang menurutku agak ajaib, dari kecil sampai aku dewasa, setiap aku kali mencoba melanggar apa yang dilarang oleh orangtua. Aku langsung mendapat teguran dari Allah. Aku dapat kualat, saat itu juga. Ckckckckck, mungkin Allah punya cara tersendiri untuk memberi pelajaran kepada orang seperti aku, orang yang sifatnya keras, penasaran, dan mau mencoba ini itu. Teguran dari Allah, agar aku tetap berada pada jalur-nya, tidak melenceng kemana-mana.

Note : Please don’t judge my parents, semua orangtua punya pola asuh yang berbeda. Orangtuaku besar di daerah Sumatera Utara, berkata keras dan “kau” kepada anak adalah hal yang wajar. Orang tuaku keras di ucapan tapi lembut dalam perlakuaan.

Tagged: , , , , , , ,

22 thoughts on “Belajar Puasa Belajar Jujur…

  1. Afrioni July 19, 2014 at 11:48 am Reply

    hahahaha,,, klo aku sih, gak masalah klo gak puasa. tapi enakan puasa krn wktu itu kerasa nikmatnya makan itu ketika berbuka puasa.. rasanya suegerrrr

    • Eka Novita July 20, 2014 at 6:43 am Reply

      iya sih, nikmatnya makan dan minum itu ya d waktu berbuka. tapi kita kn duluuu masih anak kicik😄

  2. ibnu July 19, 2014 at 11:48 am Reply

    apikkkk iki…. ngguyu2 aku bacane ka. (y)

  3. mufid fiddin July 19, 2014 at 12:25 pm Reply

    bagus

  4. TIRS July 19, 2014 at 1:54 pm Reply

    Asik ya langsung dapet teguran pas berbuat salah, jadi salahnya gak keterusan.. apalagi ketagihan.

    • Eka Novita July 20, 2014 at 6:41 am Reply

      Ngggggg, gak asik juga sih, tp ya disyukuri lah banyak hikmahnya kok😀

  5. Crossing Borders July 19, 2014 at 2:38 pm Reply

    Emakmu kayak emakku..hahaha.. Hidup emak!

  6. Haya Najma July 19, 2014 at 7:32 pm Reply

    aku juga pernah😀 makan sawo di kulkas haha

    • Eka Novita July 20, 2014 at 6:39 am Reply

      hahahhahaha, lucu-lucu kalo diingat kenangan masa kecil dulu😀

      • Haya Najma July 20, 2014 at 10:35 am

        bibit-bibit nggak jujur ini, haha

      • Eka Novita July 23, 2014 at 6:50 am

        ssssttttttt diem-diem aja😄

  7. aqied July 20, 2014 at 1:53 am Reply

    Great story,
    Aku sudah lupa puasa masa kecilku. Yang aku ingat cuma sepanjang ramadhan sekolahnya libur. Hihihi.
    Dan ternyata sekolahanku SD sampai sekarang pun kalau ramadhan libur full.

    • Eka Novita July 20, 2014 at 6:39 am Reply

      Makasiiih…
      Kalo di kampungku sekarang anak SD-nya sekolah 2 minggu selama Romadhon, kasian… jd gampang lemes anak-anak itu🙂

  8. jampang July 20, 2014 at 6:27 am Reply

    dulu waktu belajar puasa setengah hari dulu…. kayanya sebulan penuh, tahun-tahun berikutnya baru full😀

    • Eka Novita July 20, 2014 at 6:37 am Reply

      mantep mantep, anak baik yaaaa😀

  9. rianamaku July 20, 2014 at 9:47 am Reply

    Wah seru ya eka…
    Senyum – senyum bacanya mau lihat ekspresi mamak kau saat bilang “Ha, kurang asam…”

    • Eka Novita July 23, 2014 at 6:49 am Reply

      hahhaha, pokoknya muka mamakku sangat menegrikan waktu bilang itu mbak, horor !

  10. Dunia Ely July 21, 2014 at 4:26 am Reply

    Inspiratif nih mbak postingannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: