Daily Archives: May 1, 2014

Tentang Pendidikan…

logo tut wuri handayani

Sumber : fajar-studio-virtual.blogspot.com

Masih ingat dengan Ki Hadjar Dewantara sang pelopor pendidikan Indonesia sekaligus pendiri Pergururan Taman Siswa ?. Semoga masih ingat ya. Dan readers, masih ingatkah dengan semboyan beliau yang berasal dari bahasa Jawa : Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberikan daya kekuatan.

Dari semboyan aku mengambil kesimpulan bahwa kita sebagai orang dewasa (orangtua) mestinya memberikan pendidikan dengan cara menanamkan contoh/suri tauladan yang baik, memberi semangat dan motivasi kepada anak-anak untuk tumbuh menjadi manusia dengan karakter baik.

Anak itu ibaratnya kertas putih yang bebas kita lukis sesuai dengan kehendak kita. Pastikan yang kita lukis bukanlah coretan kasar dan buram. Kita lukis mereka dengan halus, menggunakan warna-warna indah menceriakan hidupnya. Ada yang bilang anak itu cerminan orangtua, apa yang kita lakukan itulah yang ia tiru menjadi kepribadian. Untuk membentuk anak yang baik tentulah kita harus menjadi orang yang baik terlebih dahulu, setidaknya berusaha merubah diri menjadi baik. Begitu juga untuk mendapatkan anak yang cerdas tentu kita yang harus mengarahkan dan memberi makanan sehat untuk mendukung perkembangan otaknya. Pendidikan dasar bukan berarti hanya pendidikan formal, belajar baca tulis hitung. Dan pendidikan itu bukan jadi tanggung jawab guru di sekolah saja, melainkan tanggung jawab orangtua dan semua orang dewasa. Karena pendidikan pertama berasal dari keluarga, dari tangan-tangan ayah ibu yang mendidik anak dengan kesabaran dan kasih sayang.

siswi-SD-berjilbab

Sumber : kaskus

Sebagai bekal untuk mendidik anak kelak, aku membaca beberapa artikel tentang pendidikan, dan dapat kurangkum bahwa pendidikan dasar yang sebenarnya penanaman adab (akhlak, etika, sopan-santun, dan moral). Pada zaman dahulu, sahabat Rasulullah yakni generasi para salaf (generasi terdahulu yang hidup di zaman Rasulullah) mendidik anaknya dengan menanamkan adab (akhlak yang baik) sebelum mengajarkan ilmu-ilmu yang lain untuk menunjang kehidupan.

Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi Al-Qurasyi –rahimahullah– mengatakan, “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu. (Dari kitab Hilyah Al-Auliya (VI/330), karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani).

Dari Zakariya Al-‘Anbari, bahwasannya beliau berkata, “Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Dan adab tanpa ilmu bagaikan roh tanpa jasad.” (Dari kitab Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ (1/80), karya Al Khatbib Al Baghdadi).

Hal ini berbanding lurus dengan diutusnya Rasulullah membawa ajaran Islam ke kota Makkah yang pada masa itu dilanda kerusakan moral penduduknya. Ya, Islam datang bertujuan untuk memperbaiki akhlak manusia. Menanmkan pendidikan adab yang baik akan membuat si pemilik ilmu menjadi pribadi berakhlak mulia, bermental ksatria, namun rendah hati sesuai dengan pepatah lama “padi semakin berisi semakin merunduk”. Banyak sekali contoh betapa banyak kerusakan yang disebabkan oleh manusia yang cerdas tapi tidak diimbangi dengan akhlak yang baik. Continue reading