So, i turn off the TV !

Hari ini memasuki tahap “kelewat eneg” nonton TV. Sebelumnya selama nge-kos aku jarang sekali nonton TV karena aku lebih suka internetan (blogwalking, download drama series, baca e-book) dan gak ada waktu buat nonton (sibuk tidur, leyeh-leyeh, ngobrol dan bercanda sama teman), diluar kurangnya minatku dengan tayangan televisi kita yang kurasa acaranya membosankan. Semenjak tinggal dengan orangtua, aku jadi mengikuti kebiasaan orangtua nonton acara berita tiap pagi, siang, sore.

Dan aku shock bertubi-tubi dengan kasus pelecehan seksual yg menimpa anak-anak yang ‘kok bisa?’ nyaris ada dimana-mana. Hampir di semua provinsi terjadi kasus seperti itu . Aduuuh, sakit banget hatiku. Aku perempuan, walaupun gak mengalami, aku tau pasti rasanya hati si ibu korban. Salut dengan ketabahan dan ketegasan ibu korban menempuh jalan panjang untuk mengungkap kasus yang menimpa anaknya. Iya keadilan harus diperjuangkan. Kalo aku jadi pemimpin, nggak ada tuh istilah proses ini-tu yang dipanjang-panjangin, kelamaan !. Langsung ku berlakukan hukum rajam buat pelakunya, minimal hukum penjara selamanya bukan seumur hidup. Atau kayak di Korea Selatan, pelaku pedofilia itu dikebiri. Biar tau rasa !. Mudah-mudahan ibu korban tabah dan kasus tersebut cepat selesai dan pelaku di hukum seberat-beratnya.

Aku gak ngerti, kenapa sekarang banyak banget kasus asusila di negeri ini. Benci rasanya setiap nonton berita yang disuguhkan hanyalah “krisis moral” penghuni negara ini. Jarang banget muncul berita prestasi. Bukan rahasia umum kalo beberapa media suka memblow up berita negatif, karena lebih “laku” di pasaran. Dan, satu hal yang kutangkap dari fenomena berita kriminal. Ada beberapa orang yang “sakit jiwanya” menjadikan berita kriminal sebagai sumber inspirasi, untuk ditiru. Nggak heran kalo beberapa tindakan kriminal pola-nya mirip-mirip.

TV itu media yang bagus untuk ngasih informasi yang bermanfaat ke masyrakat. Aku gak menutup mata dari beberapa program TV yang bagus dan berwawasan. Tapi kok sekarang banyakan yang gak mutu ya?. Yang aku benci banget siaran televisi kita adalah acara lawakan-nya. Lawakan yang jahat banget menurutku, sering menghina dan menyakiti secara fisik. Dan itu laku padahal gak lucu !. Acara yang joget-joget gak jelas itu pun banyak yang nonton, ratingnya tinggi. Huhuiiiiii !!!. Apalagi sinetron yang over drama dengan konflik bodoh gak masuk akal dan episodenya dipanjang-panjangin sampe berapa season itu pun laris manis.

Yang paling nyebelin adalah harapan yang patah saat nonton berita, pengen tau perkembangan apa sekarang di negaraku ini. Ealah yang ada malah berita orang bikin video XXX, ketangkap melakukan XXX, melakukan XXX dg anak-anak, membuang bayi yang gak berdosa karena malu ketahuan XXX. Pejabat ini ketahuan bagi-bagi mobil buat orang kaya. Pemilu legislatif yang ngabisin dana 16 triliun yang hasilnya bikin orang gontok-gontokan. Aduuuuh uang 16 triliun rasanya cukup untuk menafkahi orang-orang gak mampu di negara ini. Bisa membuat mereka hidup layak, bisa sekolah, bisa berobat kalo sakit, bisa bikin rumah sederhana untuk berteduh.

Kan spechless setiap nonton berita yang tayang kok berita amoral terus. Sampe kepikiran, apa yang salah dengan manusia-manusia ini ?. Apa yang melatarbelakangi pelaku mampu melakukan hal-hal yang salah menurut norma, budaya, dan agama ?. Bukan aku sok naif, tapi kadang fikiranku gak nyampe ke arah sana. Ketika aku menanyakan hal ini kepada orangtuaku, beliau menjawab “Itu bisa aja disebabkan kurangnya pegangan hidup terhadap agama, pola asuh di keluarga, trauma di masa lalu, dan lingkungan yang buruk bisa membuat manusia bisa melakukan tindakan asusila bahkan diluar norma”. Aku sangat setuju dengan pendapat beliau.

Aku pribadi merasa treatment yang terbaik bagi manusia untuk menumbuhkan “rasa kemanusiaan” udah paling bener adalah penanaman nilai-nilai agama. Mendekatkan diri kepada Alah, Tuhan semesta sekalian alam. Mempelajari agama bukan hanya dengan menelannnya mentah-mentah dan dilogika-kan seenak hati. Ikhlaskan hati dengan menyadari bahwa manusia adalah seorang hamba Tuhan yang menjalani kehidupan ini semata-mata untuk mencari Ridho-Nya, Ampunan-Nya. Mengikhlaskan diri terhadap ketentuannya, menahan diri dari apa-apa saja yang dilarang-Nya. Menyadari bahwasannya gerak-gerik kita diawasi oleh Alllah Sang Maha Melihat, Maha Mengetahui.

Melakukan apa-apa yang Allah sukai, bahkan kalau bisa mengamalkan akhlak dan tuntunan yang Rasulullah ajarkan sebagai suri tauladan. Setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan akan selalu ada balasannya, jika tidak di dunia maka di akhirat nanti. Jika tidak berbalas kepada diri sendiri, maka bisa saja balasan itu menimpa keluarga kita. Belajar untuk melakukan kebaikan dan menebar kasih sayang, bukan karena ingin penilaian dari orang lain tapi semata-mata untuk membuat Alalh bahagia dan melimpahi kita dengan pahala dan rahmat.

Aku sadar apa yang dianjurkan dan dilarang dalam agama itulah yang terbaik. Aturan itu datang dari Sang Maha Pencipta, Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Hanya saja… manusia selalu saja mencari pembenaran akan kesalahannya. Sengaja mencari-cari alasan untuk bisa melawan apa yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Menganggap karena dirinya manusia ia berhak melakukan apapun yang ia inginkan, padahal Allah lebih ber-hak akan dirinya.

Aku sempat minta orangtuaku untuk berlangganan TV kabel biar bisa nonton kajian Islam di Rodja TV, bisa nonton Geographic Channel juga (aku gak tau channel di TV kabel apa lagi, hehe). Tapi orangtuaku gak mau, iya sih mereka bukan penikmat acara televisi kecuali tayangan berita. Huuuh, pokoknya sekarang aku lagi anti sama televisi nasional. Rasanya, setiap kali aku melihat televisi menyala aku ingin bergegas mematikannya. Saat ini televisi tidak kubutuhkan. Kalo bisa aku gak mau punya TV kalo berkeluarga nanti. Toh, aku dan keluargaku juga gak bakalan mati kalo nggak nonton TV. Masih banyak sumber informasi yang lebih aman dan bisa ku-filter sesuai dengan keinginanku.

So, now i turn off the TV.

Note : Tulisan ini murni pendapatku, gak bermaksud menyinggung siapapun. So, i’m sorry if i offended you. Please chill out and don’t butt hurt !.

AddEmoticons126123

Advertisements

27 thoughts on “So, i turn off the TV !

    • Agak mirip bapakku, beliau jg hidupkan TV untuk nonton berita sama bola. Setelah keinget di TV ada siaran bola kayaknya boleh lah tuh ngidupin TV cuma untuk itu aja, hahahhahah *plinplan.

  1. x( memang banyakan tontonannya astaghfirulloh ya ka, sy blm nonton aja baca tulisan disini tentang update an berita asusila itu jd kesel sendiri,

    Sekarang memang hrs pinter2 nyaring, nyari, semua info yang ada di media manapun

  2. aku semenjak punya anak jaraanng banget nonton tv, kecualiii channel khusus anak2.. jadi sekarang hafalnya sama lagu2+dance2 nya hi5.. hihihi

  3. sama kak…aku juga jarang bngt skrng nontn tipi…karena bete duluan sama acaranya… liat sinetrn malah punyeng ma episode y kepanjngn plus plagiat….
    ud jarang sih ya nontn.. cm kl pulang jd ikutan nont ma kanjeng mami..
    (-____-“)

  4. dulu waktu ngekos aku juga g punya tivi rasanya adem banget, skrg sejak ngontrak dan punya keluarga dan punya tivi rada geram juga dan rasanya emg lebih bagus g punya tivi…. 😀

  5. Hahhh… miris. Aku juga sependapat sama mb Eka. Tiap ada sinetron yang aneh-aneh aku suruh ganti, mending nonton videonya Super Junior, lebih enak kan mantengin Kyuhyun Oppa ganteng yang jago nge-dance sama nyanyi timbang si pedofilia, wkwkwkwk….
    Tapi beneran deh, di rumahku sekarang adik2 ku lebih milih nonton video Super Junior, kalo Babe ku lebih seneng nonton video India Idol Junior daripada nonton TV nasional, hehe…

    *Ingin NAIK/TURUN BERAT BADAN secara AMAN, SEHAT dan TANPA EFEK SAMPING? Yuk cek di blogku satunya: http://www.nutrisicantik.blogspot.com

  6. Semasa ngekos, jarang banget nonton tv. Kalau mau nonton mesti bareng2 pake laptop yg ada tv tunernya, itupun buat nonton bola.
    Miris juga mbak, baru aja tadi liat sekilas tayangan komedi tapi ada yg dibully, dihina, dilecehkan. Walaupun ada tulisan hanya akting, benda aman lah. Ya sama aja. Tingkah lakunya gak bener. Jangan sampai pada taraf tontonan menjadi tuntunan. Kasihan generasi penerus, mereka disuguhi tayangan nggak bermutu. Oh ya, Salam kenal mbak.

    • Salam kenal kembali Adenesia, iyaaa aksi bully, hina, caci maki itulah yg bikin aku risih banget kalo nonton lawakan. Lama-lama kepribadian kita bisa jadi kasar kalo yang ditonton itu mulu 😦 😦 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s