[Movie Review] Le Grand Voyage – الرحلة الكبرى

2006_CJWRAP_testWaktu pertama kali nonton, film ini sukses bikin aku nangis banjir, dan meninggalkan kesan yang dalam di hati (Ah, dasar akunya aja yang cengeng, sok sentimentil *just selftalk, hehe). Film ini aku tonton beberapa tahun yang lalu lewat acara World Cinema yang ditayangkan di Metro TV. Dan saking pengen nonton lagi, aku bela-belain download minggu kemaren, niat banget ya. Film ini jalan ceritanya sederhana, hening, irit dialog, tapi kaya akan eksperesi dan akting aktornya benar-benar alami. Simpelnya film ini real !.

Le Grand Voyage adalah film produksi Perancis tahun 2004, yang disutradarai oleh Ismael Ferroukhi. Mengisahkan hubungan kasih sayang yang canggung antara ayah dan anak. Tokoh ayah yang diperankan oleh Mohamed Majd, seorang muslim imigran dari Maroko yang sudah tinggal di Perancis selama 30 tahun. Ayah memiliki karakter  keras kepala, konservatif, sangat kuat memegang tradisi Arab dan Islam, taat beribadah, dan mempunyai jalan fikiran yang sulit ditebak oleh generasi masa kini. Sang Ayah adalah lelaki yang buta huruf dan tidak bisa berbahasa Inggris, ia hanya mampu berbahasa Perancis dan Arab saja.

Tokoh anak, bernama Reda diperankan oleh Nicolas Cazale. Reda merupakan generasi muslim kedua di Perancis. Tidak seperti ayahnya yang kuat memegang agama, Reda memiliki karakter egois, pemikiran yang sekuler, hedonis, ia tidak melaksanakan shalat, dan memiliki kekasih wanita non-muslim. Reda dan ayahnya sering mengalami kesenjangan pemikiran karena perbedaan generasi. Tidak seperti ayahnya yang kuat memgang tradisi Arab, Reda malahan tidak bisa berbahasa Arab, ia hanya mengerti bahasa tradisional Maroko saja.

Kisah dimulai ketika sang Ayah mengatakan ia hendak melaksanakan ibadah haji, tidak seperti muslim lainnya yang berangkat ke Arab Saudi menggunakan pesawat, sang ayah malah ingin berangkat dengan menggunakan mobil. Padahal si ayah tidak bisa menyetir. Sebelumnya, ayah akan diantar oleh  anak lelaki-nya yang lain (kakak Reda) ke Mekkah, tapi si kakak membuat ulah, ia bermasalah dengan polisi karena menyetir dalam keadaan mabuk. SIM-nya ditahan oleh polisi,  praktis si kakak pun batal mengantarkan ayahnya.

Satu-satunya harapan si Ayah untuk mengantarkannya ke Mekkah adalah Reda. Reda dalam situasi akan menghadapi ujian perkuliahan, dan ini kesempatan terakhirnya untuk bisa lulus. Ditambah lagi  Reda sedang dalam keadaan mabuk cinta dengan kekasihnya, ia pun merasa keberatan dan dilema. Haruskah Reda meninggalkan kehidupannya (walau untuk sementara) di Perancis demi menuruti keinginan sang ayah ?. Tapi melihat keinginan kuat sang ayah untuk berangkat haji, maka Reda pun pasrah dan melaksanakan keinginan ayahnya (sekilas Reda terlihat seperti anak yang keras kepala, tapi dia selalu melaksanakan keinginan ayahnya walaupun hatinya mangkel, keke).

urlPerjalanan pun dimulai, jarak yang ditempuh dari Perancis ke Mekkah adalah 5000 km (sekitar 3000 mil). Mereka menempuh perjalanan sejauh itu dengan mobil sedan tua. Dari Perancis mereka melewati Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, baru sampai ke Arab Saudi. karena adanya gap generation, selama perjalanan ada saja masalah yang muncul diantara ayah – anak ini. Reda dan ayah seakan tidak pernah bisa memahami dan mengerti jalan fikiran satu sama lain.

Perjalanan mereka diwarnai dengan peristiwa ganjil, ketika mereka tersesat di jalan yang tidak tercantum di peta. Hingga mereka memutuskan untuk menginap di tepi jalan. Keesokannya ada seorang wanita tua yang menumpang dan meminta diantarkan ke sebuah tempat. Anehnya wanita tua itu berbicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti. Wanita tua itu menghilang dan muncul kembali secara tiba-tiba. Karena takut dan merasa terbebani, mereka pun meninggalkan wanita tua itu di sebuah hotel. (Kalo aku sih mikirnya wanita tua itu adalah pertolongan dari Allah untuk membantu perjalanan mereka, sayang Reda dan Ayahnya terlalu curigaan sama wanita itu, manusiawi sih).

Perjalanan mereka diiringi dengan konflik. Reda tidak habis fikir, kenapa ayahnya harus bersusah-payah berangkat naik mobil ke Mekkah, padahal ada alternatif lain yang lebih mudah, efisien. Dengan naik pesawat misalnya. Tapi si ayah beralasan ia ingin memurnikan dirinya denga kondisi yang sulit, seperti air laut yang asin menjadi segar setelah menempuh perjalanan yang sulit menuju awan.

Reda: Why didn’t you fly to Mecca? It’s a lot simpler.

The Father: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again…

Reda: What?

The Father: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane.

Konflik lain, ketika Reda sudah bosan akan roti selama perjalanan dan ingin makan daging, sang ayah malah membeli domba yang masih hidup, bukannya membeli daging yang siap makan saja. Domba hidup yang sudah dibeli pun tidak segera disembelih. Domba dibawa ikut dalam perjalanan, eh ujung-ujungnya lepas dan gagal deh makan daging. Nelongso.

Ketika uang mereka nyaris habis karena ditipu orang, sang ayah malah memberikan uang yang tersisa kepada seorang janda yang mereka jumpai. Sungguh, bagi Reda semua  tindakan  yang dilakukan ayahnya benar-benar tidak bisa ia mengerti. Nggak masuk akal. Reda nyaris saja meninggalkan ayahnya digurun sendirian saking kesalnya. Masih banyak suguhan konflik lainnya yang membuat kita menghela nafas dan berfikir, kok hubungan ayah-anak ini susah banget ya akurnya ?.

Tapi, semua konflik yang terjadi selama di perjalanan justru menautkan rasa sayang antara Reda dan ayahnya. Perlahan ayah dan anak ini mulai mengenal satu sama lain. Saling membuka diri. Dalam perjalanan tersebut, Reda menemukan sosok ayahnya yang selama ini ia anggap asing.

Sesampainya di kota Mekkah, ayah Reda seakan tenggelam di dunianya sendiri di lautan manusia berpakaian ihram. Ayah pun bergegas untuk menunaikan ibadah haji, puncak dari perjalanan akbar mereka yang melelahkan. Reda yang tidak melaksanakan ibadah haji menunggu ayahnya di mobil hingga larut malam. Sampai keesokan harinya ayah yang dinanti tidak kunjung datang, muncullah rasa cemas di hati Reda. Reda begitu panik, dan nekat memasuki wilayah Ka’bah tanpa ber-ihram.

Adegan kepanikan Reda mencari ayahnya di lautan manusia tersampaikan dengan porsi yang pas, natural, memikat, dan tentu saja bikin merinding. Finally, Reda pun menjumpai ayahnya, yang telah menghadap ke Rahmatullah. Lemas, tentu saja. Siapa sangka perjalanannya kali ini merupakan perjalanan terakhirnya bersama sang Ayah. Kehilangan sosok Ayah yang baru saja ia kenal lebih jauh. Terpukul pastinya. Aduh, di bagian ini air mata-ku udah meleleh kemana-mana, nggak kuat hatiku. Hiks.😦

Overall, film ini recomended banget untuk kamu yang pengen nonton film dengan suasana Islami dan nyata. Bosen kan ya disuguhin film imajinatif dari Hollywood mulu, coba deh nonton film ini untuk medapatkan feel yang berbeda. Pastinya film ini membawa pesan moral yang bagus. Yah, bagaimanapun karakter orangtua kita, selama mereka berada di jalan yang benar dan ber-akidah baik dan lurus, kita wajib untuk selalu birul walidain kepada mereka, tetep sabar menghadapi mereka. Bukankah semakin tua, orangtua kita sifatnya akan kembali seperti anak-anak, egois, susah dipahami. Hati-hati nggak sabar bisa bikin kita durhaka, gak mau kan ya masuk neraka gegara dikutuk orangtua. Hehehe.

Ayah dan ibu merupakan harta benda yang tak ternilai. Lewat Ridho keduanya-lah pintu surga dapat kita raih. Selama keduanya mash hidup, masih sehat, jangan lupa untuk memperhatikan keduanya. Toh, di dunia ini siapa sih yang mencintai kita sebesar cinta dari orang tua ?. Cinta dari pacar bisa putus, cinta dari suami bisa cerai, cinta dari teman bisa lupa. Tapi, cinta dari orangtua akan selalu ada selamanya, InsyaAllah.

Trivia : Film ini dibuat pada saat musim haji, so film ini merupakan film pertama  yang dibuat dan diizinkan proses syutingnya saat proses ibadah haji berlangsung. Gak heran suasana khusyuk ber-haji pun dapet banget.

Rating : 8,5 / 10

Tagged: , , , , , , , ,

6 thoughts on “[Movie Review] Le Grand Voyage – الرحلة الكبرى

  1. arip November 16, 2013 at 9:44 pm Reply

    Berkali-kali nonton juga pasti sukses bikin mata berkaca-kaca ni film.
    Paling inget tuh sama percakapan yg itu,

    • Eka Azzahra November 17, 2013 at 6:02 am Reply

      Iya dalem banget isi percakapannya. Duuuh ngiris ngiris hati banget deh adegan si Reda mandiin jenazah ayahnya…

  2. ayanapunya November 17, 2013 at 10:52 am Reply

    yang bagian ending itu sedih bangettt

  3. liamarta November 26, 2013 at 11:49 am Reply

    aku juga sukaaaaaaa banget sama film ini, sediiiih.. hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: