Writing Challenge #12 ~ Short Story

Dia Aneh dan aku…

filepicker_clrk2v4zRRWNJvcz7JEq_NY_Street_Lights

28 Mei 2013, 13.30 WIB

Aneh. Dia aneh. Cuma itu yang terbetik di kepalaku setiap kali melayangkan pandangan ke cewek yang duduk di sebelahku. Di kampusku gak ada yang seperti dia. Penampilannya itu lhooo,  masa dia ke kampus selalu pakai gamis terusan yang menurutku lebih mirip baju daster. Pakai jilbab bergo lebar  yang kelewat nyantai abis. Sepatu dan tas nya juga itu-itu aja, kayaknya nggak pernah diganti dari semester satu dulu. Sebenarnya dia manis, tapi dia gak modis. Jauh banget dari tipe cewek yang aku suka.

Dia gak banyak omong, bicaranya irit. Suka bawa komik, novel, dan buku yang aku nggak tau jenisnya apa. Dia selalu baca buku-buku yang dia bawa sambil nungguin dosen, trus dia cekikian atau senyum-senyum sendiri, kayak lagi di dunianya sendiri. Aku jarang banget ngeliat dia kumpul-kumpul bareng temen cewek dikelas. Jarang ke kantin, selalu bawa bekal ke kampus, makan atau ngemil sambil baca buku. Kayaknya dia tipe cewek yang introvert deh, suka banget sendirian, kesannya kayak gak mau diganggu. Tapi dia gak sombong sih, dia suka nyapa, suka senyum, suka ngucapin salam. Tapi gimana yaaa, karena aura-nya yang aneh itu, aku gak begitu suka ngobrol sama dia, tapi suka merhatiin. Hehehe. Ketauan deh aku nge-stalking.

Kalo ngeliat mukanya yang lempeng banget itu, dia tu kesannya kayak orang bego. Hahahaha. Tapi, dia sering  bikin kaget aku dan teman sekelas kaget. Kalo lagi belajar dia sering ngelemparin  pertanyaan-pertanyaannya kritis ke dosen, tiap kali persentasi bagus, kalo tugas kelompok rajiiin banget, tapi kalo udah ujian akhir semester dia pelit banget !. Dia sama sekali gak bergerak dari kursi, gak grasak-grusuk, gak celingukan, gak sibuk bisik-bisik, kalo dipanggil juga gak noleh, pura-pura budeg kayakanya.

Ya, dia aneh lah pokoknya, kalo di bilang dia anti sosial tapi juga gak segitunya.  Hehehe.

“Drrrttttttt drrrrrrrtttttt…”, ponselku bergetar, sms masuk dari kakak mengalihkan lamunanku.

Far, nnti abis maghrib ke rmh y, kakak sma abang mw prgi ke acara kawinan temen. Tlg temenin si Raffi, dia ada les privat mlm ini. Klo g d tmnin ntar dia bnyk ulah… “, begitulah bunyi sms dari kakakku.

“Oke deh…”, kubalas sms dari kakakku, aku menyanggupi permintaanya, udah biasa dimintai tolong nemenin keponakan-ku si Raffi yang super ceriwis dan suka ngambek itu.

***

28 Mei 2013, 19.15 WIB

“Assalamu’alaikum…” sebuah salam yang halus terdengar dari luar.

“Wa’alaikumussalam ! “, sahutku sambil baring-baring di ruang santai sambil menonton televisi . “Fi, bukain pintu tuh, guru les-mu udah datang tuh”, aku mencolek pipi Raffi.
“Kenapa sih gak oom aja yang bukain, aku lagi males niiiiiiih”, Raffi masih berbaring disampingku.

“Eh, kalo males ntar oom sms mamamu biar kamu dimarahin, mau ??!!”, ancamku melotot.
“Iiiiih padahal aku lagi males les hari ini !”, jawabnya bersungut-sungut sambil berjalan untuk membuka pintu. “Ibuuuuuuuu, kok datangnya cepet bangeeeet”, keluh Raffi ke guru lesnya.
“Hmmm, nggak kok, ibu datangnya kayak biasa”, sahut suara halus itu tenang.
“Masuk bu, duduk dulu, ibu mau minum apa?”, Raffi menawarkan. Dalam hatiku terbetik rasa bangga, Raffi ternyata anak yang sopan.
“Air putih aja ”, jawab suara itu lagi.
“Oke deh bu. Ooooooom ambilkan air putih doooooooong untuk guru les-kuuuuuuuuuuu !!!”, teriak Raffi sekonyong-konyong membuyarkan rasa banggaku.

“Eeeeeh, Raffi kok begitu ? gak sopan lho, kalo minta sesuatu harus bilang tolong  gak boleh teriak-teriak”, suara tersebut menasehati keponakanku.

Asem nih bocah !. Segera ku ambil air putih dan membawanya ke ruang tamu, tempat Raffi belajar. Betapa kagetnya begitu kulihat sosok guru les tersebut, dia si cewek aneh itu, RATNA !.

“Eh kamu Na…”, ujarku spontan.
“Oh ! Ja’far…”. jawabnya kaget.
“Aku om-nya Raffi, dia anak kakakku”, jawabku menjelaskan.
“Oooooh, nggak pernah keliatan disini sebelumnya…”, dia terlihat heran.

“Aku jarang kesini, kakakku dan suaminya lagi pergi kondangan, nggak ada yang nemenin Raffi dirumah, jadi ya mereka minta aku nemenin Raffi sampai mereka pulang”, jelasku.
“Oooh gituu…”, ia mengangguk-angguk.
“Yaudah, diteruskan ngajarnya, nih diminum”, aku menyodorkan segelas air ke meja belajar.
“Oke, makasih”, jawabnya irit.

Kebetulan macam apa ini ? padahal dari siang tadi aku sibuk mengamati perilaku cewek ini. Walau udah kenal selama 4 semseter, tapi aku nggak pernah bisa ngobrol banyak dengannya. Hmmm, benar-benar kebetulan yang aneh. Nanti sehabis les aku musti ngobrol sama dia, bisa dibilang rasa penasaranku ke cewek ini udah berada di tahap puncak. Selama dia mengajar keponakanku, aku juga ikut mendengarkan dari ruang santai, televisi sudah kumatikan, hanya suaranya yang kudengar.

Dia memang aneh, tampangnya lempeng dan dingin, tapi cara mengajarnya asyik. Dia bisa membuat suasana belajar jadi menyenangkan, celetukan bandel si Raffi dengan mudahnya dia handle. Sesekali dia mengajak Raffi bercanda. Terlihat sekali kalau Raffi bersemangat saat belajar dengannya. Nggak kerasa sudah 1,5 jam Ratna mengajar Raffi.

“Nah, Raffi udah ngerti kan dengan soal-soal yang ibu kasih tadi ? ujarnya halus.

“Udaaah dong buuuu…” jawab Raffi sambil memonyongkan mulutnya.

“Kalo gitu, sekarang Raffi simpan ya buku lesnya, les kita udah selesai untuk hari ini”, Ratna membantu Raffi mengemas buku-buku.

“Okeeee buuu…”, Raffi berlari ke kamar membawa buku lesnya.

“Ehmmm…” aku berdehem. “Udah selesai lesnya Na “, aku berbasa-basi.
“Iya, udah selesai “, jawabnya sambil merapikan peralatan tulisnya.
“Susah gak si Raffi diajarin ?” tanyaku.
“Nggak kok, dia anaknya pinter, kritis “
“Alhamdulillah kalo begitu, abis ini mau kemana ?”, tanyaku canggung.

“Abis ini ya pulang ke kos dong”, jawabnya sambil tersenyum.
“Pulang naik apa ?”, bisa kurasakan rasa penasaranku menyeruak.
“Aku naik angkot“, jawabnya lagi.

“Trus, kamu keluar dari perumahan ini jalan kaki dong ya ? udah malam nih, bahaya…”, aku agak khawatir.

“Nggak apa-apa kok. Perumahan disini jalannya terang , ada security nya lagi, aku negerasa aman kalo jalan di perumahan sini “, ia menjelaskan.

“Aku anterin ya ke depan, pake motor “, tawarku.
“Eeeeeh, gimana yaaaaa, maaf ni Far… aku nggak biasa diboncengin cowok…”, jawabnya pelan.
“Oooooh…”, aku agak kecewa.

“Aku jalan aja ke depan gak apa-apa kok. InsyaAllah aman” ia menegaskan.
“Kalo gitu, kutemenin  ya jalan sampai depan…” tawarku lagi.

“Hmmmmm…”, Ia tampak ragu-ragu.
“Iya buuuuuuuu kami temenin yaaa ke depan”, si Raffi ikut dalam pembicaraan tiba-tiba.

“Iya, aku sama Raffi nemenin kamu jalan ke depan gimana, biar lebih aman !”, aku merasa mendapat dukungan.
“Mmmmmmm, kalo gitu boleh deh”, sahutnya pelan.
“Bentar yaaa, aku ambilin jaketnya si Raffi dulu”, aku segera mengambil jaketnya Raffi  dan bergegas mengunci pintu.

***

28 Mei 2013 20.50 WIB

Aku menggandeng tangan Raffi, sambil memperhatikan Ratna yang terus saja berjalan dalam diam. Sepi, hanya terdengar bunyi langkah kaki kami bertiga. Walauapun sepi, perumahan ini memang cukup aman, tapi entah kenapa aku merasa nggak tega membiarkan Ratna jalan sendirian. Selain dia teman kampus, aku juga memang penasaran dengan dirinya. Aku sendiri heran dengan perasaan ku, aku ini sekedar penasaran atau suka ya sama dia?.

Sesekali aku melirik ke arah Raffi yang memainkan gantungan kunci di tas Ratna. Ratna kadang-kadang mengacak rambut Raffi dengan gemas. Melihatnya mereka berdua saja, tanpa sadar senyumku sudah mengembang. Dimataku ia terlihat begitu manis dan keibuan. Cepat-cepat aku berpaling dari pemandangan itu.

Kepalaku nggak berhenti memikirkan berbagai pertanyaan, tapi aku begitu segan untuk sekedar bertanya. Jarak gerbang depan perumahan dengan jalan raya tinggal sedikit lagi. Aku sudah bisa melihat berbagai jenis angkutan umum berlalu-lalang  disana. Tiba-tiba aku blank, jantungku berdegup tak beraturan, mulutku sudah membuka untuk bertanya, tapi semua pertanyaan menumpuk jadi satu, aku sulit bicara, bingung hendak mulai bertanya dari mana.

“Ah ! “ suaraku tercekat di tenggorokan.

“Sudah sampai disini aja “, ujar Ratna tersenyum.
“Eeeh, sampai sini “, jawabku panik dan kaget karena mulutku hampir saja melontarkan pertanyaan.
“Hati-hati ya buuuuuu…”, Raffi meraih tangan Ratna ke keningnya.
“Iyaaa, les berikutnya harus lebih semangat ya belajarnya…”, Ratna mengusap kepala Raffi.
“Hati-hati ya…”, ujarku lirih.
“Iya, terima kasih sudah diantar sampai sini…”, ia mengangguk dan berjalan pergi.

Kulihat ia berjalan menjauh dari kami, menyetop angkot yang kebetulan lewat, memasukinya. Dapat kulihat jilbab bergo lebar-nya bergerak lemah tertiup angin dari balik jendela angkot. Raffi melambaikan tangan ke arah angkot, tanganku refleks ingin melambaikan perpisahan juga, untung bisa kutahan. Ah, hatiku kok agak sakit ya ?. Dia seperti sosok yang tidak bisa kujangkau dengan tanganku. Aku terus memperhatikan sampai angkot yang membawanya hilang dari pandanganku. Aku mendadak merasa lemas. Belum pernah sekecewa ini berhadapan dengan perempuan. Dia terlalu cool, terlalu pendiam, terlalu menjaga jarak, terlalu berhati-hati, terlalu berbeda, terlalu aneh.

“Om, sampai kapan berdiri disini, pulang yuk !”, Raffi menarik ujung kemejaku.
“Oh ya, yuk !”, lamunanku buyar.

Kuraih tangan Raffi mengayunkan sambil berjalan pulang. Hatiku sesak, terbayang olehku sosoknya yang aneh. Entahlah, aku pun bingung harus bagaimana kalau bertemu dengan dia di kampus. Aaaah… kenapa aku jadi gelisah begini ?. Sepertinya ada rasa yang perlahan menjalari hati ini, dia memang aneh dan aku … suka dengan keanehanya itu.

***

Note : Ini pertama kalinya aku bikin cerpen dan memberanikannya untuk ‘nampil’ disni. Huhuhuhu. Semoga yang baca suka, kalo ada yang kurang mohon dikasih tau yaaa.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: