Writing Challenge #9 ~ Write a love story

Ada sebuah kisah cinta yang selalu jadi favoritku selain kisah cinta antara Rasalulullah Salallahu ‘alaihi wassalam dengaan Khadijah r.a. Menurutku cinta mereka inilah cinta yang murni, cinta yang tumbuh dari orang yang berhati bersih, dari generasi salaf terbaik umat Islam.

Ali bin Abi Thalib r.a dan Fatimah r.a

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, adalah sepupu Rasulullah. Kelahiran Ali bin Abi Thalib r.a banyak memberi hiburan bagi Rasulullah karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Rasulullah bersama istri beliau Khadijah r.a untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Rasulullah mengasuhnya sebagai balas budi terhadap pamannya, Abu Thalib yang telah mengasuh beliau ketika beliau tidak punya bapak dan ibu serta kehilangan kakek tercintanya, Abdul Muththalib.

Ali bin Abi Thalib r.a adalah sosok manusia yang hidup zuhud dan sederhana. Beliau merupakan salah satu orang yang dicintai Rasulullah. Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a, “Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu” (HR. al-Bukhari). Beliau merupakan pemuda yang memiliki jiwa juang yang tinggi, cerdas dan memiliki ilmu yang tinggi, serta mendapatkan berita gembira sebagai salah satu penghuni surga.

Sedangkan Fatimah radhiyallahu ‘anha, adalah rahmat yang dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad. Ia adalah wanita dengan garis keturunan yang suci. Fatimah r.a merupakan putri bungsu, putri kesayangan, dan cahaya mata bagi Rasulullah. Ia laksana benih yang menjadi pelanjut keturunan Rasulullah. Fatimah r.a tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Fatimah r.a mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah, sehingga tidak diragukan lagi jika Fatimah r.a mewarisi sifat-sifat baik ayahnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang berakhlak mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau beliau itu mendapat gelar sebagai Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah.

Dalam keadaan masih kanak-kanak Fatimah r.a. sudah harus mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan ke­laparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegak­kan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah bundanya hidup menderita, akibat pemboikotan orang-orang kafir Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim. Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah, da­tang pula pukulan batin atas diri Fatimah r.a, be­rupa wafatnya bunda tercinta, Khadijah r.a.

Fatimah r.a mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Nabi Muha­mmad sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersun­ting puteri Rasulullah itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a, Umar bin Khathab r.a dan Sa’ad bin Mu’adz r.a bersama-sama Rasulullah duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulullah. Saat itu beliau ber­tanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq r.a: “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Ali bin Abi Thalib r.a. Sewaktu Ali melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a dengan tergopoh-­gopoh. Beliau terperanjat dan menyambutnya, kemudian bertanya: “Anda datang membawa berita apa?”

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a segera menjelaskan persoalannya: “Hai Ali, engkau ada­lah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau ada­lah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mem­persunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya di­tolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserah­kan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga se­karang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Ku­harap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu un­tukmu.

Mendengar perkataan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a mata beliau ber­linang-linang. Menanggapi kata-kata itu, beliau berkata: “Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang se­mulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah ka­rena aku tidak mempunyai apa-apa.”

Abu Bakar r.a terharu mendengar jawaban Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Ali, Abu Bakar berkata: “Hai Ali, janganlah engkau ber­kata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!”

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a ber­hasil mendorong keberanian Ali untuk melamar puteri Rasulullah. Beberapa waktu kemudian, Ali nin Abi Thalib r.a pun datang menghadap Rasulullah yang ketika itu sedang berada di tempat ke­diaman Ummu Salmah r.a. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salmah r.a bertanya kepada Rasulullah: “Siapakah yang me­ngetuk pintu?

Rasulullah menjawab: “Bangunlah dan bu­kakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-­Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!

Jawaban Nabi Muhammad itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi : “Ya, tetapi siapakah dia itu?”

Dia saudaraku, orang kesayanganku !” jawab Nabi Mu­hammad.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah r.a di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Ali  kepada Nabi Muhammad itu: “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku ter­antuk-antuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah. Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya”.

Rasulullah mendahului berkata: “Hai Ali nampaknya eng­kau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku !

Mendengar kata-kata Rasulullah yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi Thalib r.a untuk berkata: “Maafkan­lah, ya Rasulullah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayah kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan dia?

Ummu Salmah r.a melanjutkan kisahnya: “Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, apakah engkau mem­punyai suatu bekal maskawin ?” .

Demi Allah”, jawab Ali bin Abi Thalib r.a dengan terus terang, “Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.

Menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib r.a, Rasulullah berkata “Tentang pedangmu itu, engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh ka­rena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maska­win sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari ta­nganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah ‘Azza wa­jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi !

Dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: “Bahwa­sanya Allah memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik”, jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.

Sejalan dengan itu Ali bin Abi Thalib r.a mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang sederhana dan mudah di­dapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke din­ding lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma.

Ali bin Abi Thalib r.a bersama isterinya hidup dengan rasa penuh ke­banggaan dan kebahagiaan. Dua-duanya selalu riang dan tak per­nah mengalami ketegangan. Fatimah r.a. menyadari, bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasulullah, tetapi juga isteri seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sang­gup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan Islam yang murni dan agung. Fatimah berpendirian, dirinya ha­rus dapat menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya ( Khadijah r.a) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad SAW.

Pasangan suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu be­kerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Fatimah r.a menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sen­diri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tena­ga sendiri. Rasulullah sendiri sering menyaksikan puterinya se­dang bekerja bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau ber­sama Ali ikut menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Fatimah r.a.

Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukis­kan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga Ali Bin Abi Thalib r.a. Sebu­ah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berkunjung ke kediaman Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil berlinangan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasulullah ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur puterinya: “Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat ke­lak”.

Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasulullah datang menjenguk Fatimah r.a., tepat pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: “Siapakah di antara kalian berdua yang akan ku­gantikan ?”

Fatimah ! ” Jawab Imam Ali r.a. Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Ali bin Abi Thalib r.a.

Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa berat­nya penghidupan dan kehidupan rumah-tangga Ali dan Fatimah. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggu­pan Fatimah dalam menunaikan tugas hidupnya yang pe­nuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Fatimah r.a. sehari-hari mengurus kehidupan rumah-tangga­nya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada suatu hari Ra­sulullah bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal bin Rabbah r.a, yang akan menguman­dangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang, beliau ditegur  Rasulullah  dan dita­nya apa sebabnya. Bilal menjelaskan: “Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggi­ling tepung. Al Hasan, puteranya yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya “Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung”. Ia menyahut: “Aku kasihan kepada anakku”. Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gan­dum. Itulah yang membuatku datang terlambat !

Mendengar keterangan Bilal itu Rasulullah berkata: “Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Ali bin Abi Thalib r.a mengatakan, Fatimah r.a pernah mengeluh karena tapak-ta­ngannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasulullah. Karena tidak ber­hasil, ia menemui Aisyah r.a. Kepadanya diceritakan maksud ke­datangannya. Ketika Rasulullah datang, beliau diberi­tahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah r.a yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Ra­sulullah kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: “Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian”.

Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Fatimah r.a. meninggal dunia dalam usia 28 tahun. Selama Fatimah r.a hidup, Ali bin Abi Thalib hanya beristrikan Fatimah saja. Fadha`il (keutamaan-keutamaan) yang dimiliki Ali, membuat Fatimah bahagia meskipun kekurangan materi. Hasil pernikahan dua orang mulia ini, empat anak shalih dan shalihah: Hasan, Husain, Zaenab dan Ummu Kultsum. Dua anak yang pertama adalah dua orang sayid para pemuda penduduk surga, dari keduanya lahir orang-orang mulia, para imam teladan. Rasulullah gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya. Hasan dan Husein mempunyai kedudukan ter­sendiri di dalam hati beliau. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau ke­pada Hasan dan Husein Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua “putera” beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.

Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran ten­tang kehidupan suatu keluarga suci di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotong-­royong. Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa se­derhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang diba­ngun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itu­pun merupakan pencerminan kaidah-kaidah agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib r.a dan Fatimah r.a, ke­tiganya merupakan tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka. Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasulullah sendiri menge­hendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau ?. Cinta mereka tumbuh karena Allah, berbuah dengan baik dan manis. Cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan melahirkan jiwa yanag kaya, tabah, dan ikhlas. Sungguh kisah kehidupan mereka layak di jadikan contoh, bagaimana keluarga Islam yang ideal.

 Kisah ini dikutip dari berbagai sumber.

Tagged: , , , , ,

One thought on “Writing Challenge #9 ~ Write a love story

  1. Jubah Murah August 26, 2013 at 12:09 am Reply

    Rasa pening tgk kekacauan dunia kat fb ngan blog2 sekarang…
    mujur jumpa blog nie.. dapat berehat seketika ngan artikel yg ringan…
    terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: