Writing Challenge #3 ~ Review a book/movie/anything

[MOVIE REVIEW] :

Departures (おくりびと Okuribito)

departuresFilm ini bercerita tentang bagaimana anda memandang kematian. Mati, siklus kehidupan yang mutlak bagi manusia. Bagaimana kita manusia yang ditinggalkan, mempersiapkan jenazah untuk ‘berangkat’ menuju kehidupan berikutnya dengan indah, rapi, dan elegan.

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki), seorang pemain Cello di sebuah orkestra. Menjadi pemain Cello adalah impiannya, cita-citanya, namun hal itu segera kandas ketika orkestra tempatnya bekerja dibubarkan. Ia kehilangan pekerjaan. Diantara kegalauan (ehm !), ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Sakata. Istrinya yang cantik ternyata mendukung keputusannya.

Kembali ke kampung halaman Daigo harus segera mencari pekerjaan baru. Ia membaca sebuah iklan, sebuah perusahaan bernama NK agency mencari karyawan. Pekerjaannya tidak djelaskan, hanya tertulis pekerjaan ini  bergaji tinggi, tidak mempermasalahkan umur, tidak butuh pengalaman khusus,dan jam kerja yang singkat. Daigo tertarik, dan segera datang ke kantor untuk melamar pekerjaan tersebut. Disanalah ia mengetahui bahwa pekerjaannya adalah sebagai “perias jenazah”.

Sebenarnya zaman dahulu masyarakat jepang biasa membersihkan jenazah anggota keluarganya sendiri. Tapi semakin maju peradaban, mereka pelan-pelan meninggalkan kebiasan ini, dan membiarkan orang lain yang melakukannya. Jadilah tugas membersihkan dan merias jenazah menjadi komersil. tapi walaupun banyak jasanya, profesi perias jenazah sendiri merupakan pekerjaan yang dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat Jepang. Mereka menganggap menghasilkan uang dari kesedihan orang yang ditinggal mati dianggap tidak layak.

Sadar dengan paradigma di masyarakat tentang profesinya, Daigo pun bekerja dengan setengah hati. Ia  bertahan karena bayarannya yang besar. Daigo menyembunyikan pekerjaannya dari istrinya dan juga teman-teman dekatnya. Menjadi perias jenazah bukan hal yang mudah, ia harus berhadapan dengan berbagai kondisi jenazah. Selain jenazah harus diperlakukan dengan sangat baik dan hati-hati, ketika membersihkan jenazah ia tidak boleh melihat aurat si mayat. Lucunya aku sangat menikmati ritual membersihkan jenazah ini, semuanya berjalan tertib, anggun, seperti koreografi dalam tarian. Banyak adegan yang menggelitik ketika Daigo awalnya harus pura-pura jadi mayat ketika si Bos membuat video tutorial membersihkan jenazah, dan pengalaman pertamanya membantu merias mayat.

Selama menjalankan pekerjaannya sebagai perias jenazah, Daigo mengalami banyaknya pengalaman berharga. Melihat reaksi keluarga kliennya saat melepas kepergian jenazah, perlahan ia memahami filosofi kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan, tapi kematian adalah ‘gerbang’ menuju kehidupan baru, maka jenazah yang akan disemayamkan harusnya meninggalkan orang-orang terdekatnya dalam kondisi yang apik dan layak. Karena perjalanan menuju keberangkatan adalah kenangan terakhir bagi keluarga dan kerabatnya.

I’ve often thought that maybe death is like a gateway. Dying doesn’t mean the end, you go through it and on to next thing. It’s a gate, and as the gatekeeper i’ve sent so many on their way…telling them “Have a nice trip, we’ll meet again”…

Shokichi Hirata – Gatekeeper

Konflik dalam film ini sebenarnya klise, ketika akhirnya istri dan teman-teman Daigo mengetahui pekerjaannya yang sebenarnya. Istrinya yang merasa malu pun memintanya memilih antara ia atau pekerjaanya. Daigo merasa ia menemukan jati diri lewat pekerjaanya, ditambah lagi adanya dorongan moral dari Bos-nya, ia memilih terus bertahan di pekerjaan ini, walaupun harus rela ditinggal istri. Daigo pun harus berdamai dengan masa lalunya, kenangan buruk yang ia rasakan semasa kecil. Konflik berakhir dengan kedalaman emosi yang manis, sebuah ending yang menurutku sangat menyentuh.

Chemistry yang terbangun antara Daigo, si Bos  (Yamazaki Tsutomu) dan sekertarisnya (Yo Kimiko) sangat natural, kesan ini tidak aku dapatkan dari hubungan Daigo dan istrinya (Ryoko Hirosue). Menurutku aktingnya Ryoko agak kaku, ekspresi dalam beberapa adegan penting gak keluar dengan maksimal.

Film ini memang genre drama yang beralur lambat, khas film Jepang yang semuanya berjalan dengan pelan dan haru. Meskipun alurnya lambat, tapi bisa membuat konsentrasiku tetap utuh dalam menikmati adegan dan dialognya. Selama film berlangsung telinga kita disapa dengan alunan Cello, yang terkesan suram dan sendu, pas untuk menggambarkan suasana kematian. Sinematography-nya pun tersaji apik, kita dimanjakan dengan suasana musim dingin yang kelabu, dan pemandangan indah khas Jepang. Penyajian melalui gambar-gambar yang halus dan nada yang lembut semakin memudahkan kita meresapi pesan yang ingin disampaikan, tapi bagi yang gak suka dengan alur lambat seperti ini bisa saja jadi ngantuk. Hehehe.

Keseluruhan film besutan Takita Yojiro yang dirilis 13 September 2008 ini sangat bagus, banyak nilai moral, humanisme, dan juga memberikan inspirasi. Film ini diganjar Best Foreign Film di Academy Awards, lalu Mercedes-Benz Audience Award for Best Narrative Feature di Palm Springs International Film Festival, Best Performance by an Actor di Asia Pacific Screen Awards, Audience Choice Award di Hawaii International Film Festival, dll.

Yang pasti setelah menonton film ini, aku jadi teringat pelajaran agama Islam tentang tata cara mengurus jenazah, dimana memang kita sejak dini harus mempelajarinya baik. Karena kematian bisa datang sewaktu-waktu tanpa kita duga. Alangkah indahnya jika kita bisa mengurus keperluan jenazah keluarga kita sendiri dengan sebagus-bagusnya, dan mengantarkannya menuju alam (kehidupan) berikutnya dengan tangan kita sendiri.

RATING : 8 / 10

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: