Writing Challenge #2 ~ Write a Fanfiction

Even if 300 years pass, I will… still love you

fanfic-kuu

Aku merasa terkubur diantara rasa bingung yang melanda, aku tidak tahu entah berapa lama aku berada di kamar ini. Kamar yang serba putih, menyilaukan, dengan aroma kesakitan. Aku seperti bangun dari tidur yang begitu lama, kepalaku berat dan sakit. Tapi fikiranku begitu jernih, wajah gadis pelayan kafe di New York itu begitu kuat diingatanku. Aku ingin sekali bertemu dengannya…

***

Rasanya bagai sebuah keajaiban, sebuah kebetulan yang menyenangkan, aku hari ini melihat gadis itu. Ia berada disini di Korea, bekerja di sebuah kios jus segar. Aku sengaja mampir ke kiosnya, membeli jus segar hanyalah alasan. Aku cuma ingin melihat wajahnya dari dekat. Bodohnya, aku begitu canggung untuk sekedar menyapa. Bagaimanapun, ia terlihat tidak seceria dulu, dia terus melamun sambil mengerjakan jus pesananku. Ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Baiklah, aku akan memintanya menemuiku besok di Namsan Tower. Semoga kali ini gadis itu membaca kartu posku dan datang memenuhi permintaanku. Aku memang pengecut, tapi aku berharap keberuntungan berpihak padaku.

***

Udara hari ini begitu cerah, khas musim semi. Aku sudah mempersiapkan keberanianku untuk bicara dengannya tanpa rasa canggung. Di hatiku, ada perasan damai yang terselip sejak pertama kali melihat wajahnya di New York. Kali ini aku tidak akan melepaskan kesempatan, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir-ku. Mataku terus mengitari kerumunan orang, aku berharap dia muncul. Hatiku sudah tidak sabar, campuran antara rasa senang dan juga gugup. Ah, sepertinya itu dia. Bahkan dari jauh ia tampak begitu manis, terlihat begitu menawan dengan dress sifon bunga-bunga.

“Mengapa kamu terlambat ? aku sudah menunggumu begitu lama…”, kalimat itu meluncur begitu saja tanpa kusadari, efek dari rasa gugup yang melanda.

“Kamu kemana saja, aku ada disini dari tadi…”, jawabnya lirih matanya lesu.

“Aku sudah dari tadi disini, mungkin kamu tidak melihatku. Ohya, salam kenal, namaku Tae Yong. Aku sudah lama sekali menunggu kesempatan untu bertemu denganmu”, aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.

Gadis itu tampak ragu-ragu menyambut tanganku, matanya terus menatapku. Aku merasa sedikit tidak nyaman, seakan-akan dia melihat orang yang sudah mati hidup kembali.

“Aku Park Ha, salam kenal…” jawabnya sambil menyambut tanganku dengan sopan.

Saat kulit tanganku menyentuh kulitnya, ada rasa yang begitu berbeda. Aku tidak lagi canggung, aku merasa rileks. Sentuhannya seperti pernah kurasakan sebelumnya. Semuanya terasa begitu familiar. Tidakkah ini aneh, ini pertama kalinya aku bertemu dengannya.

“Aku sebelumnya pernah mengirimu kartu pos di New York, kamu masih ingat ?”, tanyaku.

“Aaah iya, kartu pos yang dibelakangnya ada sketsa wajahku  dengan kupu-kupu kuning ya. Aku masih menyimpanya. Aku menunggumu waktu itu, kenapa tidak datang ?…”  ada nada menuntut disana.

“Maaf ya karena membuatmu menunggu, hari itu aku kecelakaan, aku juga tidak ingat pasti kejadiannya seperti apa. Tapi, yang aku tahu aku baru bangun dari koma, dan sudah ada di Korea. …” jawabku tergesa-gesa.

“Oooh, tidak apa-apa, jadi selama ini kamu koma ya…”, suaranya semakin lirih nyaris tak terdengar.

“Iya, tapi sekarang aku merasa sangat sehat”, aku meyakinkannya.

“Syukurlah kalau begitu”, ia terdengar begitu lega.

“Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita bertemu secara khusus seperti ini…”, ujarku cemas.

“Hmm…”, ia melempar senyum.

“Aku sangat ingin bertemu denganmu… ” aku mengucapkannya dengan sangat hati-hati.

“Hmmm, aku juga…”

“Kamu penasaran denganku ya, hehe… ?” jawabku usil, ada perasaan bahagia muncul di hatiku.

“Bukan penasaran, tapi aku merasa memang harus bertemu denganmu, aku juga tidak tahu kenapa…” wajahnya muram.

“Pertama kali aku melihatmu di New York, kamu sangat ceria, bersemangat dan begitu hidup. Bahkan aku masih bisa mengingatmu dengan jelas setelah aku bangun dari koma…” jelasku.

“Seperti apa rasanya bangun dari koma…?” matanya menatap jauh.

“Seperti apa ya, mungkin seperti bangun dari tidur panjang karena kelelahan. Kelelahan yang teramat sangat ketika kamu melakukan perjalanan jauh. Melintasi benua dengan berjalan kaki misalnya…” jawabku asal.

“Kamu memang seperti orang yang baru dari perjalanan yang jauh, wajahmu masih terlihat lelah…” ujarnya tersenyum.

“Hahaha… tahu tidak, aku tidak menyangka bisa bicara langsung denganmu seperti ini, dulu di New York bahkan menyapamu saja aku takut, hehe…” aku menggaruk jari-jari tanganku, menghilangkan gugup.

“Hmmmm…” ia tersenyum tapi terlihat dipaksakan. “Aku merasa, kita pernah saling mengenal sebelumnya…” air matanya merebak.

“Kenapa kamu terlihat sedih bertemu denganku ? kamu tidak nyaman denganku ya ?” aku mulai sedikit bingung.

“Aku tidak sedih, hanya ada perasaan bahagia dan canggung saja… Bahagia karena aku merasa kita seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Tapi aku canggung, karena nyatanya ini pertama kalinya kita bertemu ”, tatapannya kembali menerawang jauh.

Ucapannya menembus hatiku, ia merasakan seperti yang kurasakan. Kesamaan ini melambungkan harapanku, harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh, lebih dekat lagi.

“Mungkin di masa lalu kita adalah kekasih…” jawabku ngaco.

“Mungkin, bisa jadi…” balasnya tersenyum, begitu manis.

Suasana menjadi begitu hening, sepertinya kami sedang sibuk dengan fikiran masing-masing. Aku seperti mengenalnya. Dia seperti mengenalku. Aku merasa damai ketika bersamanya, apa ini cinta ? aku tidak tahu. Yang jelas aku menyukainya. Kata-katanya terdengar jujur, sederhana, dan tulus. Mungkin butuh waktu agar aku yakin tentang perasaan ini. Dengan gadis seperti dia, aku tidak boleh salah ambil sikap, tidak boleh melukainya. Aku yakin akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Dimana aku akan membiarkan perasaanku tumbuh berkembang sebebas-bebasnya.

“Sudah siang, sepertinya perutku butuh makanan, makan yuk…” usulku.

“Yuk, aku juga ingin minum kopi…” jawabnya santai.

“Aku ingin makan omurice”, jawabku lagi.

“Omurice !!!” Park Ha tampak begitu kaget.

“Iya, aku sangat suka omurice”, jawabku cepat.

“Hahaha. Tae Yong… apa kamu pernah dengar ada seorang Pangeran Joseon yang bernama Lee Gak ?”, tanyanya serius.

“Ngggg, tidak pernah. Aku tidak suka baca buku sejarah, memangnya kenapa ? ” kurasakan keningku berkerut.

“Tidak apa-apa, kudengar dia adalah pangeran yang sangat suka makan Omurice…” senyumnya mengembang dengan indahnya.

“Hahahaha, zaman dulu mana ada omurice !, tapi kalo gitu dia seperti aku dong, suka omurice !” aku tertawa.

“Iya, Lee Gak benar-benar seperti kamu, aku seperti menemukan Lee Gak-ku di dirimu”, jawabnya berbinar dengan senyum indah menawan terkembang di wajah manisnya.

Aku hanya mampu memandangnya penuh rasa bahagia, aku tidak peduli siapa si pangeran Lee Gak itu, yang aku tahu senyumnya akan jadi milikku.

***

Note :

Selesai juga tantangan yang kedua ini, huhuhuhu. Aku nggak pernah bikin fanfic sebelumnya, bikin cerpen aja selalu gagal total. Jadi kalo fanfic ini ceritanya gak bagus maaf ya. Fanfiction-ku ini tokohnya aku ambil dari drama Korea favoritku, Rooftop Prince. Kisah tentang Tae Yong dan Park Ha untuk menyambung kembali cinta mereka, secara Park Ha udah ditinggal sama pangeran Lee Gak kaaan. Walaupun Tae Yong dan Lee Gak itu orang yang berbeda, tapi hatiku tetep keukeuh mengatakan mereka itu tetep orang yang sama, satu jiwa, cuma beda alam aja. Hiii mistis. Nah, pokokoknya selamat menikmati fanfic ini, mohon masukannya juga ya.

Asiknya tantangan Writing Challenge ini, aku bisa menyelesaikan tulisan yang kayaknya aku gak mampu bikin sebelumnya. Jadi makin semangat gitu ngerjain tantangan berikutnya. Yoosh… Semangat !

Tagged: , , , , , , ,

2 thoughts on “Writing Challenge #2 ~ Write a Fanfiction

  1. ibnu semoga jaya August 2, 2013 at 9:25 pm Reply

    kata-katanya bagus, sempat gak sadar juga klo lagi baca tulisan si eka. Tp knp mesti koreaaaaaaaa?????????????!!!!!!!!! Cukuplah sm*sh dan cherrybelle yang mabok korea

    • Eka Azzahra August 2, 2013 at 9:29 pm Reply

      Terima kasih, btw bedain dikit laaah, Drama Korea yg aq suka tuuu pastinya yang oke lah, yang cerita sama aktingnya bagus juga bejibun. Btw, kenapa harus bawa2 SMOSH dan Cherrybollo sih !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: