Cinta Itu Menyakitkan

Temanku mengatakan, dicintai oleh pria seperti dia adalah hal yang terindah di dunia. Wajahnya merona, tersenyum dengan penuh arti.

Pernyataan itu tertanam di benakku hingga beberapa waktu. Cinta lah yang membuat seorang gadis bisa terlihat begitu bersemangat dan berbunga-bunga. Kemudian, suatu hari di sebuah perpustakaan tepat di jantung kota, aku terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan seorang gadis berjilbab, berwajah sendu yang meneduhkan hati. Ia adalah teman lamaku. Aku mengenalnya sebagai gadis yang ceria, namun santun dan suka mempelajari ilmu agama. Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga kami bisa memulai topik pembicaraan ini.

Ia mengatakan padaku, dicintai oleh pria seperti dia adalah hal yang paling menyakitkan. Hidungku berkrenyit, terlintas dibenakku, mengapa jawaban kedua temanku sangat kontras ?

Ia mengatakan cinta yang diberikan pria itu membuat hatinya memar dimana-mana. Bukan, bukan karena pria itu jahat. Dimatanya ia adalah pria yang baik, tapi pria itu lalai menjaga cintanya rapat-rapat. Dan… gadis itu sama, sudah lama diam-diam kagum padanya. Pria itu serius, ia pun sama. Ia melihat banyak kebaikan dalam diri pria itu, hingga sebuah rasa tumbuh dalam dirinya. Ia yakin inilah saatnya untuk mengikat rasa itu dalam ikatan yang suci. Ironi, mewujudkan cinta kedalam sebuah biduk rumah tangga tidak semudah yang ia harapkan. Ia teramat muda kata orang tuanya, dan pria itu belum selesai pendidikannya, bahkan belum bekerja. Mau makan apa ???.

Mereka putus asa, tampaknya hati kedua orang tua mereka begitu keras. Tak bisa menerima jika anaknya menikah di usia yang terbilang belia. Harapan untuk bisa segera menikah pun menguar diudara, lenyap bersama angan. Orang tua tak bisa disalahkan, ucapan orang tua ada benarnya, mereka berharap yang terbaik bagi putra-putrinya. Cinta, cinta yang patut disalahkan, kenapa ia muncul disaat semua belum tepat pada waktunya.

Dilema katanya, cinta yang harusnya tetap suci kini terbalut dalam fitnah. Ada rindu yang harusnya dibunuh malah semakin berkobar. Sebuah idealisme yang terpatri dalam hatinya pelan-pelan terkikis, ia merasa berdosa. Ia merasa kotor dan munafik. Berkali-kali ia menyebut dirinya manusia yang tercela. Ia bertanya kepadaku, salahkah ia menyimpan perasaan cinta itu ? bagaimana hal ini bisa terjadi padanya ? mengapa hati mereka berdua begitu lemah ?… Suaranya bergetar, tidak, ia tidak menangis. Ia terlihat baik-baik saja, tetap ada tawa terkembang dibibirnya. Sesekali matanya menerawang cukup lama ke arah jendela. Ada duka yang terselip disana. Katanya, menikah adalah obatnya.

Aku dulu menganggap, cinta perkara mudah. Banyak orang yang kulihat tanpa beban bermain-main dengan cinta. Aku tidak tau, menanggung cinta tak sampai bisa terlihat begitu pedih. Nyata kurasa, dihatinya ada luka yang menganga. Saat ini hatinya terpenjara, cinta yang katanya indah malah membuat jiwa seperti ada di neraka, panas dan membara. Kami berpisah di sore yang mendung. Aku menggenggam tangannya, berharap dapat mengalirkan sedikit rasa tentram di hatinya. Aku tahu, mereka salah, salah akan kelalaian fitnah cinta, hingga terseret begitu dalam. Aku sadar, aku tidak berhak menghakiminya, aku ingin ada disampingnya, menemaninya untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Aku melepas kepergiannya sore itu sambil berbisik, “Sabar ya, semoga Allah segera menunjukkan jalan yang terbaik bagi kalian berdua, jagalah dirimu baik-baik, jangan sampai fitnah itu menyeretmu terlalu jauh”…

Jangan katakan cintamu

Jika kau dan aku hanya bisa bermimpi

Jangan katakan cintamu

Jika kau dan aku…

Tak punya kemampuan untuk mewujudkannya

Jangan katakan cintamu

Jika kau dan aku

hanya berpura-pura tegar

Jangan katakan cintamu

Jika kau dan aku

tidak mampu melawan dunia

Jangan katakan cintamu

Jika kau tahu tidak akan ada restu

Jangan katakan cintamu

Jika kau dan aku tahu

Tak ada bayangan masa depan bagi kita berdua

Jangan katakan cintamu

Bila yang menanti kita

Hanyalah dunia yang kelabu…

Jangan katakan cintamu

Karena semua itu terasa menyakitkan

Aku harus belajar melupakan

Pergilah dengan cintamu sendiri

Simpan dihatimu yang terdalam

Buang bersama kenangan

Pahit kali ini…

Biar kita rasakan sekarang

Daripada hancur semakin dalam

Bukan aku kejam

Tapi aku sadar

Hidup adalah pilihan

Pergi atau tetap bertahan dengan kepedihan

Note : Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu. Ketika sudah waktunya cinta itu mati, maka kamu tidak perlu ikut mati bersamanya….

Tagged: , , ,

6 thoughts on “Cinta Itu Menyakitkan

  1. afrioniblog April 15, 2013 at 10:06 am Reply

    wiihhh,, keyen,, hhehehe

  2. nounnique April 22, 2013 at 4:26 pm Reply

    I do feel it rite now. Ya Allah.. sungguh, cinta itu menyakitkan bila tak sesuai harap

  3. nounnique April 22, 2013 at 4:28 pm Reply

    aku reblog, boleh?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: