Menjadi Kakak

siblings_autism_1

Waktu itu aku berusia 6 tahun, kelas 1 SD. Di pagi buta aku dibangunkan, belum mandi, masih pakai baju tidur, berantakan. Aku di bawa ke rumah sakit oleh bulek-ku. Di jalan aku sadar, tadi emak-ku tidak ada di rumah, bapakku juga tidak kelihatan. Ternyata emak dan bapak di rumah sakit, bapak bilang adekku sudah lahir ! Wow, akhirnya aku punya adek. Aku tidak tau harus bagaimana, entah senang atau biasa-biasa saja, aku masih ngantuk dan bingung.

Aku dekati dia, adekku laki-laki (pengennya perempuan), sedang tidur nyenyak dan dibedong. Dia terlihat lucu dan kecil. Bibirnya merah, matanya segaris dinaungi bulu mata hitam yang lurus kaku, kulitnya putih kemerahan lembut. Jari-jarinya kecil, mengepal kuat, menggenggam jari telunjukku erat-erat. Rambutnya lebat hitam legam, bahkan dia punya rambut halus di pipinya seperti jambang. Melihatnya tidur nyenyak membuatku ingin coba menggendong, tapi dilarang. Aku masih terlalu kecil untuk menggendong bayi. Setelah ngantukku hilang, aku benar-benar senang, dia lucu seperti mainan, bisa dipeluk-peluk, bisa di cium-cium. Begini rasanya jadi kakak, ya aku sudah menjadi kakak.

Waktu itu aku belum paham, bahkan sampai aku sebesar ini, berusia 23 tahun sulit rasanya mendeskripsikan bagaimana rasanya menjadi kakak, ya sulit digambarkan, sulit dijelaskan…

Menjadi kakak, berarti kamu belajar berbagi. Berbagi kasih sayang orang tua, yang dulu hanya milikmu dan sekarang harus di bagi dua. Berbagi perhatian, karena dia masih kecil, dia lebih diutamakan, lebih didahulukan, semua yang terbaik akan diberikan untuknya. Berbagi hal-hal kecil, hal-hal remeh. Sebagai saudara berbagi adalah hal yang paling utama. Berbagi jajan yang di beli di sekolah, berbagi makanan kesukaan, berbagi crayon. Ketika dia beranjak besar, makna berbagi bergeser menjadi mengalah. Membiarkan dia mengambil kaos favorit, dompet kesayangan. Berbagi dan mengalah kadang memicu pertengkaran. Dulu aku merasa dia adalah orang yang paling jahat, egois, seenakanya. Aku sadar walau bagaimanapun aku kesal, aku harus mengalah karena dia adekku, dia lebih kecil dariku.

Menjadi kakak, berarti belajar merawat, belajar menyayangi. Merawat dia saudara kandungku dengan hati-hati, kami terikat jalinan darah dan satu rahim, sudah naluri rasanya kalau aku begitu menyayanginya. Aku belajar menggendongnya dengan benar, jangan sampai dia jatuh. Aku menemaninya bermain, main lego adalah favorit kami. Aku belajar menenangkan dia ketika rewel agar orang tua tidak repot.

Memiliki adek, rasa sayangmu akan mengalir begitu saja. Aku khawatir sekali ketika dia sakit hingga harus diopname. Sedih ketika dia dimarahi orang tua, walaupun itu kesalahannya. Aku kadang merasa direpotkan dengan kecerewetannya, apa saja ditanya, seperti aku tahu semua hal saja. Dia yang malas membuat tugas kesenian dan prakarya, hingga aku mau tidak mau harus turun tangan membuatkannya. Dia yang begitu suka bermain bola, sampai seragam sekolah kotor penuh tanah dan keringat. Aku ikut senang ketika dia begitu bahagia terpilih anggota tim inti sepakbola di sekolahnya. Masih kuingat betapa senangnya dia hari itu.

Menjadi kakak, berarti privasimu akan mulai terganggu. Ketika aku beranjak remaja dan memasuki fase pubertas, kehadirannya begitu mengganggu. Aku tidak bebas gabung dengan teman-temanku. Dia selalu mau ikut kemana aku pergi. Aku seperti baby sitter yang kemana-mana harus mengasuh dia. Aku harus pergi diam-diam, agar dia tidak tahu, dan menangis minta ikut. Dia yang cerewet mau tau urusanku, baca-baca diary-ku, membuatku malu saja. Ya dia memang mengganggu, tapi sekarang  kenangan itu terasa manis.

Menjadi kakak, tanggung jawabmu bertambah. Dia meniru tingkah lakumu, gaya bicaramu, pola pikirmu, sampai hobimu. Itu berarti seorang kakak harus jadi contoh untuk dia. Harus bersikap baik, bicara baik, dan mengajari dia yang baik-baik. Kadang kita sebagai kakak sadar atau tidak, mau tidak mau, seorang adek akan mengikuti tindakanmu. Semoga adekku meniru yang baik-baik saja, aku sadar aku bukan kakak yang baik untuknya. Aku yang selalu mudah marah dan mencubiti dia. Aku yang mudah emosi. Aku yang suka menghasut dia untuk minta barang yang kuinginkan dari orang tua. Maafkan kakak ya dek…

Menjadi kakak, berarti dia adalah bagian dari dirimu. Senang rasanya ketika seorang adek mengagumimu, bangga dengan kemampuanmu. Akupun begitu, aku bangga  dengan bakatnya, dan dengan pola pikirnya yang kadang-kadang menyentil aku. Adekku kepribadian khas-nya mulai terlihat, sudah punya karakter sendiri. Dia keras hati, jika ada kemauan akan dikejar sampai dapat, dia sekarang tidak banyak bicara seperti dulu, jarang bercanda lagi, tapi perhatian yang tiba-tiba darinya membuatku terharu. Adekku yang ingatannya begitu kuat, mudah menghafal pelajaran tanpa perlu usaha keras. Aku iri dengan kemampuannya, dia sudah hafal Al-Qur’an 5 juz, sedangkan aku 1 juz pun belum.

Adekku sekarang beranjak remaja sedang dalam masa-masa pemberontakan, sedang mencari jati diri. Senang mencoba berteman dengan segala karakter, dari yang anak baik-baik, sampai anak yang badung. Ini masa-masa yang paling rentan dalam fase perkembangan psikologis-nya. Semoga dia tidak salah jalan, tidak salah bergaul, tidak tersesat, tidak meninggalkan kewajiban agama.

Adekku, dia saudara kandung sekaligus anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Semoga Allah selalu ada di hatinya beserta iman di dada-nya. Semoga iman membuat dia tidak salah pergaulan, tidak bersikap yang membuat malu nama keluarga. Semoga dia tumbuh menjadi pemuda yang baik dan lurus hatinya. Semoga dia menjadi pemuda yang cerdas dan bertanggung jawab bagi keluarganya kelak. Semoga ia selalu diberi keselamatan, diberkahi jalan hidupnya, dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wata’ala.

Menjadi kakak dan memiliki adek sama halnya memiliki orang tua. Mereka begitu berarti, bagian dari hidupmu, begitu berharga. Ada perasaan kasih sayang yang menguar begitu besar, kasih sayang yang tanpa syarat, ada keikhlasan yang murni, sulit didefinisikan dalam kata-kata. Seperti ketika kita begitu kesulitan mendefinisikan kata cinta…

Adek, kakak sayang adek…

Catatan : Adekku punya bulu mata yang panjang tapi lurus kaku, aku menyebutnya bulu mata sapi. Karena aku ingin bulu matanya lentik, aku potong bulu matanya. Tapi dia terbangun, menangis, dan aku tidak selesai memotongnya. Jadi, orang tuaku yang memotong bulu matanya yang sebelah sambil mengomeli aku. Tapi harapanku tidak terwujud, sampai sekarang bulu matanya tetap seperti bulu mata sapi😀

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: