Perihal Syirik bag. 2

timthumb.phpB. Jenis-Jenis Syirik

1. Syirik Besar

Syirik besar adalah semua perkara yang telah ditetapkan oleh syareat bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan yang berakibat keluarnya orang yang melakukannya dari agama islam. Bentuk Syirik jenis ini adalah dengan menjadikan tandingan bagi Alloh pada perkara-perkara yang merupakan kekhususan Alloh. [Syarh Tsalatsatul Ushul-Al ‘Utsaimin: 42]

Sebagaimana tauhid terbagi menjadi tiga macam, yaitu tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma wa Shifat, maka syirik besar ini juga terjadi pada ketiga perkara yang merupakan kekhususan Alloh tersebut.

Pertama: Syirik Besar pada Rububiyyah

Syirik besar pada Rububiyyah adalah penyerupaan selain Alloh dengan Alloh pada perkara-perkara yang merupakan kekhususan Rububiyyah.

Bentuk penyerupaan ini adalah dengan memberikan kepada selain Alloh salah satu dari perkara-perkara yang berkaitan dengan Rububiyyatulloh, seperti: penciptaan, pemberian rizki, pengaturan jagad raya, kekuasaan untuk menghidupkan dan mematikan, penurunan hujan, penurunan bala dan malapetaka, serta perkara-perkara lainnya yang tidak bisa melakukannya kecuali Alloh semata.

Syaikhul Islam –rohimahulloh- berkata: “Sesungguhnya Robb yang maha suci, dialah yang merajai (segala sesuatu), yang mengatur, memberi, mencegah, menimpakan kemadhorotan, memberikan kemanfaatan, merendahkan, meninggikan, memuliakan, dan menghinakan. Barangsiapa yang bersaksi bahwa yang memberi atau mencegah atau menimpakan kemadhorotan atau memberikan kemanfaatan atau memuliakan atau menghinakan itu selain-Nya, maka sungguh dia telah berbuat syirik pada Rububiyyah.” [Majmu’ Fatawa: 1/ 92]

Hal ini akan semakin jelas bila kita datangkan contoh nyata yang banyak terjadi pada masyarakat kita, semoga Alloh memberikan hidayah-Nya kepada mereka.

Diantara contohnya adalah: Keyakinan sebagian orang bahwa mbah wali A atau yang lainnya bisa mendatangkan rezki yang melimpah, atau bisa memberikan anak sehingga mereka berduyun-duyun mendatangi kuburannya untuk meminta  hal tersebut darinya. Padahal hanya Allohlah Dzat pemberi rizki yang sesungguhnya. Dia berfirman:

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُون

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu telah membuat kedustaan (-dengan pernyataanmu bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat di sisi Allah-). Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidaklah mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan”. (QS. Al-Ankabut: 17)

Contoh lain: Keyakinan sebagian orang bahwa danyang penunggu tempat tertentu, seperti laut kidul, gunung bromo, telaga sarangan, jembatan-jembatan tertentu atau tempat- tempat lainnya, bisa memberikan kecelakaan jika tidak diberikan sesajian atau tumbal, sehingga mereka pun diliputi kekhawatiran bahwa makhluk-makhluk tersebut akan mencelakakannya.

Sekedar adanya keyakinan dan ketakutan ini seseorang telah terjatuh dalam syirik Rububiyyah. Adapun jika keyakinan tersebut membuahkan amalan berupa pemberian sesajian kepadanya maka dia telah masuk pada syirik jenis lain yaitu syirik uluhiyyah, sebagaimana yang akan datang penjelasannya –Insya Alloh-. Padahal hanya Allohlah dzat yang bisa memberikan kecelakaan dan keselamatan. Dia berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Kemudian mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya, yang mereka itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al-Furqon: 3)

Contoh lain: Keyakinan sebagian orang bahwa benda tertentu bisa menolak bala dan malapetaka, yang hal ini biasa disebut oleh orang-orang dengan jimat. Sehingga karena keyakinan ini mereka menggantungkannya di leher atau tangan atau rumah atau barang-barang lainnya yang ditakutkan terkena melapetaka. Keyakinan yang seperti ini juga termasuk dalam jenis syirik ini yang banyak sekali dari kaum muslimin yang tidak menyadarinya.

Demikian pula keyakinan bahwa orang-orang tertentu yang telah mati, seperti Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jaelany, sunan-sunan tertentu, jin-jin atau yang lainnya bisa menyelamatkan dari bahaya, sehingga mereka ber-istighotsah (meminta pertolongan dari petaka yang menimpanya) dengan memanggil-manggil mereka, padahal orang-orang tersebut telah meninggal dan tidak bisa mendengar seruan mereka apalagi untuk memenuhi panggilan mereka.

وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُور

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 22)

Inilah Rosululloh –Shollallohu ‘alaihi wa sallam-, makhluk yang paling mulia secara mutlak menyatakan bahwa dirinya tidaklah mampu untuk mendatangkan manfaat atau mencegah madhorot sedikitpun, lalu bagaimana dengan selain beliau??!! Alloh berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya saja aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raf: 188)

Inilah beberapa contoh konkret yang kita dapati banyak terjadi, baik di masa-masa terdahulu atau pada masa kita ini. Tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya, tapi apabila penjelasan di atas telah dipahami, tentu dengan mudah seseorang dapat mengetahui bahwa suatu perkara termasuk dalam syirik jenis ini atau bukan.

Satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa perbuatan-perbuatan di atas digolongkan pada syirik besar yang mengakibatkan pelakunya keluar dari islam dan di akherat mereka kekal di dalam neraka adalah karena keyakinan bahwa makhluk-makhluk itulah yang memberi manfaat dan mengangkat mudhorot dan perkara-perkara lainnya yang telah disebutkan di depan. Adapun jika berkeyakinan bahwa mereka itu hanyalah sebab, sedangkan yang menurunkan dan mengangkat madhorot secara hakiki adalah Alloh, maka yang demikian ini termasuk dalam syirik kecil, sebagaimana yang akan datang penjelasannya –Insya Alloh- .

Jenis syirik besar yang kedua: Syirik besar pada Uluhiyyah.

Yaitu penyerupaan selain Alloh dengan Alloh pada perkara-perkara yang merupakan kekhususan uluhiyyah. Alloh adalah satu-satunya dzat yang berhak diibadahi, barangsiapa memberikan peribadatan kepada selainNya, berarti telah memberikan sesuatu yang merupakan kekhususan Alloh kepada selain-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan Syirik pada Uluhiyyah.

Syirik jenis ini adalah syirik yang paling besar dan paling banyak didapati, sebagaimana dikatakan oleh imam Al-Qurthuby:

“Asal kesyirikan yang diharamkan adalah keyakinan adanya sekutu bagi Alloh dalam hal peribadatan. Inilah syirik terbesar. Dan inilah kesyirikan yang dilakukan orang-orang jahiliyyah. Kemudian tingkatan dibawah kesyirikan jenis ini adalah keyakinan adanya sekutu bagi Alloh pada perbuatannya, yaitu perkataan seseorang: bahwa ada sesuatu selain Alloh yang berdiri sendiri dalam mengadakan dan menciptakan suatu perbuatan, walaupun orang tersebut tidak meyakini sesuatu (yang berdiri sendiri itu) sebagai sesembahannya. (Inilah yang dimaksud dengan syirik Rububiyyah sebagaimana yang telah lewat penjelasannya-pen). [lihat: Taisirul ‘Azizil Hamid: 27]

Karena banyaknya bentuk kesyirikan yang masuk dalam jenis ini, para ulama membaginya membaginya menjadi empat golongan.

  • Pertama: Syirik dalam ibadah dan do’a.

Doa adalah sebesar-besar ibadah, bahkan ia merupakan inti dari ibadah, sebagaimana perkataan Nabi kita:

الدعاء هو العبادة

“Doa adalah ibadah” (HR. At-Tirmidzy (223) dan dishohihkan oleh: Imam Al-Albani dan Imam Muqbil Alwadi’y)

Bahkan semua ibadah bisa dikatakan sebagai doa. Sebab tidaklah seseorang beribadah dengan ibadah yang benar kecuali dia berharap untuk dimasukkan dalam surgaNya dan diselamatkan dari api nerakaNya. Barangsiapa memalingkan doa ini kepada selain Alloh dengan berdoa kepada nabi, malaikat, wali, kuburan, batu-batu atau makhluk-makluk lainnya maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar pada Uluhiyyah, sehingga dengannya dia keluar dari agama Islam, sebagaimana firman Alloh:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُون

“Barangsiapa berdoa kepada sesembahan selain Alloh bersamaan dengan doanya kepada Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Robb-nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidaklah beruntung.” (Al-Mu’minun: 117)

Contohnya: doa-doa sebagian orang kepada para wali meminta untuk diberikan rizki yang melimpah, atau diberikan anak, dan permintaan-permintaan lainnya, padahal mereka itu telah mati.

Demikian pula sesajian yang diberikan kepada tempat-tempat tertentu. Hal ini termasuk dalam syirik jenis ini karena adanya unsur ketundukan dan harapan serta permintaan agar tertolak madhorot atau yang lainnya, baik secara langsung atau tidak.

Jadi dengan ini kita bisa ketahui hubungan erat antara syirik dalam rububiyyah dan uluhiyyah. Orang-orang yang melakukan doa-doa syirik ini tidaklah akan melakukannya kecuali ada keyakinan pada mereka bahwa para wali itu punya hak rububiyyah. Dan orang yang jatuh dalam syirik rububiyyah konsekuensinya akan terjatuh dalam syirik uluhiyyah. Nas alulloh al-‘afiyah.

Contoh lain: Thowaf yang dilakukan di kuburan orang-orang yang dianggap wali, sebagaimana yang pernah penulis saksikan sendiri di kuburan orang yang dinamakan sunan Kalijaga. Mereka berdesak-desakan seperti berdesak-desakannya para jamaah haji di sekeliling ka’bah. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan, belum lagi dengan doa-doa dan seruan-seruan untuk si sunan yang penuh dengan kesyirikan. Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan kita dari bencana yang menimpa mereka.

  • Kedua: Syirik dalam tujuan dan niatan

Hal ini terjadi ketika seseorang meniatkan amalannya semata-mata untuk dunia atau karena ingin dilihat atau didengar manusia. Inilah yang didapati pada amalan orang-orang munafiq. Mereka sama sekali tidak mengharapkan dengan amalannya keridhoan Alloh dan keselamatan di negeri akherat.

Barangsiapa yang melakukan hal yang demikian berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan jenis ini dan dihukumi kafir, keluar dari agama Islam. Alloh telah mengancam mereka dalam firmanNya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ^ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud: 15-16)

Sungguh celaka orang yang demikian, capek dan lelah di dunia, neraka dan siksaan Alloh yang menyambutnya di akhir hayatnya.

Sebagai contoh: Orang yang masuk Islam semata-mata karena ingin keselamatan dunia, agar tidak dibunuh atau yang lainnya. Orang seperti ini telah terjatuh dalam syirik besar pada niatannya dan hukumnya tetap dalam kekafiran, walaupun kita di dunia menghukumi mereka sebagai bagian kaum muslimin berdasarkan perkara yang nampak dari mereka. Inilah yang didapati pada islamnya orang-orang munafiq, mereka menunjukkan secara lahir keislaman namun batinnya penuh dengan kekafiran.

Contoh lain: seseorang yang melakukan amalan sholeh seperti sholat, haji atau yang lainnya. Namun sejak awal melakukannya dia tidaklah sama sekali meniatkannya karena Alloh, tapi karena ingin mendapatkan pujian atau karena malu dari manusia. Orang seperti ini telah terjatuh dalam syirik besar dan keluar dari islam. Sebab seorang muslim tidaklah mungkin melakukan amalan tanpa ada harapan sedikitpun untuk mendapat keridhoan dan pahala dari Pencipta-Nya. Hal seperti ini tidaklah ada kecuali pada orang yang hatinya penuh dengan kemunafikan. Para ulama menyebut perbuatan seperti ini dengan Riya’ Akbar. [lihat: Syarh Kitabut tauhid oleh ‘Allamah Ahmad An-Najmy]

Kemudian ketahuilah, semoga Alloh memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, bahwa syirik dalam niatan ini sangatlah tersembunyi karena berhubungan dengan hati yang tidak dapat melihatnya seorangpun. Bahkan terkadang seseorang tidak merasa bahwa dirinya telah terjatuh di dalamnya. Karena itulah ia sangat berbahaya yang hendaknya setiap muslim senantiasa waspada serta mengoreksi niatan-niatan yang ada di dalam hatinya.

Ibnul Qoyyim berkata: “Adapun syirik dalam tujuan dan niatan, itu adalah lautan yang tak bertepi, sangat sedikit orang yang bisa selamat darinya. Barangsiapa yang beramal tidak mengharapkan wajah Alloh, meniatkan selain untuk mendekatkan diri kepadaNya dan mengharap balasan dari-Nya, maka sungguh dia telah melakukan kesyirikan dalam tujuan dan niatannya.” (Al-Jawabul Kafi:135)

  • Ketiga: Syirik dalam ketaatan

Barangsiapa mentaati makhluk dalam menghalalkan apa-apa yang diharamkan Alloh, atau mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Alloh, serta meyakini di dalam hatinya bahwa boleh bagi mereka untuk menghalalkan dan mengharamkan, serta berkeyakinan bahwa boleh baginya untuk mentaati yang demikian itu padahal dia mengetahui bahwa hal tersebut bertentangan dengan agama Islam, maka orang yang seperti ini telah menjadikan orang-orang yang ditaati itu sebagai sesembahan selain Alloh, sehingga dengannya dia telah terjatuh dalam syirik besar yang mengeluarkannya dari keislaman.

Kesyirikan jenis inilah yang terjadi pada orang-orang Nashrani, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Adi bin Hatim –Rodhiyallohu ‘anhu-, beliau berkata: “Aku menemui Rosululloh –Shollallohu ‘alahi wasallam- dan di leherku saat itu tergantung salib dari emas, maka aku mendengar beliau berkata:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّه

“Mereka (orang-orang Nashrani) telah menjadikan alim-alim mereka dan pendeta-pendeta mereka sebagai Rabb-rabb (yang disembah) selain Alloh”

Akupun menjawab: “Wahai Rosululloh, mereka itu tidaklah beribadah kepada (pendeta-pendeta itu)!”

Beliau berkata:

أَجَلْ، وَلَكِنْ يُحِلُّونَ لَهُمْ مَا حَرَّمَ الله فَيَسْتَحِلُّونَهُ، وَيُحَرِّمُونَ عَلَيْهِمْ مَا أَحَلَّ الله فَيُحَرِّمُونَهُ، فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ لَهُمْ

“Ya, akan tetapi mereka (para pendeta) menghalalkan untuk (orang-orang Nashrani) apa-apa yang diharamkan Alloh maka (orang-orang Nashrani) itu pun ikut menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan bagi (orang-orang Nashrani) apa-apa yang dihalalkan Alloh, maka (orang-orang Nashrani)-pun mengharamkannya, inilah bentuk peribatan (orang-orang Nashrani) itu kepada (para pendeta mereka). [HR. al-Baihaqy dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany di Ash-Shohihah: 3293]

Syirik ini juga terjadi pada umat ini, sebagaimana yang kita dapati pada sebagian kelompok-kelompok islam yang menyimpang, mereka mentaati segala yang ditentukan oleh pemimpin-pemimpin mereka tanpa memperdulikan hukum yang telah Alloh tentukan padanya. Misalnya: nikah mu’tah atau yang dikenal dalam bahasa kita dengan kawin kontrak. Pernikahan seperti ini telah jelas pengharamannya dalam syariat islamiyah, tapi karena pemimpin sekte yang dianutnya mengatakan halal maka diapun mentaatinya.

  • Keempat: Syirik dalam kecintaan

Imam Ibnul Qoyyim berkata ketika menjelaskan definisi syirik ini: “Syirik kepada Alloh dalam kecintaan dan pengagungan adalah kecintaan seseorang kepada makhluk sebagaimana kecintaannya kepada Alloh. Syirik ini termasuk dalam syirik yang tidak diampuni oleh Alloh, yaitu syirik yang Alloh telah berfirman tentangnya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Alloh sebagai tandingan-tandingan (Nya); mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Orang-orang yang jatuh dalam kesyirikan jenis ini berkata kepada sesembahan-sesembahan mereka ketika neraka telah mengumpulkan mereka:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ^ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِين

“Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Rabb semesta alam.” (Asy-Syu’ara: 97-98)

Dan merupakan hal yang telah diketahui bahwa mereka tidaklah menyamakan (sesembahan-sesembahan itu) dengan (Alloh) yang Maha Suci dalam penciptaan, pemberian rizki, dalam mematikan dan menghidupkan, dalam kepemilikan dan kekuasaan. Akan tetapi, mereka menyamakannya dengan (Alloh) dalam kecintaan dan pengagungan serta ketundukan dan perendahan diri kepada (sesembahan-sesembahan) itu.” [Al-jawabul Kafi: 92]

Syirik jenis ini kembalinya ke permasalahan hati, karena kecintaan dan pengagungan itu kembalinya ke hati seseorang. Dan perlu diketahui bahwa tidaklah seseorang memalingkan suatu peribadahan kepada selain Alloh atau berdoa selain kepada Alloh kecuali karena adanya kecintaan di dalam hatinya kepada sesuatu yang dia ibadahi itu. [Lihat: Nawaqidhul Iman Al-I’tiqidiyyah: 1/ 414]

Oleh karena itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa asal segala amalan-amalan kesyirikan adalah syirik dalam kecintaan. [Lihat: Qo’idatun fil Mahabbah: 69]

Wahai saudaraku, tatalah dan bersihkanlah hatimu, jangan sampai engkau menjadikannya penuh dengan kecintaan kepada selain Alloh, karena jika hal ini menimpamu, sungguh kecelakaan telah menyambutmu. Alloh telah berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya”. Dan Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Penjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa seseorang sama sekali tidak boleh mencintai sesuatu selain Alloh. Sebab, Alloh telah menjadikan hati manusia itu cenderung untuk mencintai hal-hal yang mereka tidak bisa terlepas darinya, seperti anak, istri, orang tua, saudara-saudara, dan perkara-perkara lainnya. Mencintai perkara seperti ini pada asalnya adalah diperbolehkan, bahkan apabila seseorang mencintai hal-hal tersebut karena Alloh maka jadilah kecintaan itu ibadah tersendiri yang seseorang mendapatkan pahala karenanya.

Namun apabila kecintaan tersebut menghalanginya dari perintah-perintah Alloh, bahkan menyebabkannya terjerumus dalam larangan-laranganNya maka inilah kecintaan yang terlarang. Dan lebih parahnya, apabila kecintaan kepada hal-hal di atas mendominasi dirinya sehingga melebihi kecintaannya kepada Alloh, inilah kecintaan syirik yang sekarang sedang menjadi pembahasan kita. [Lihat: Al-Irsyad ila Shihihil I’tiqod: 63]

Syirik Besar jenis ketiga adalah Syirik pada Nama-nama dan Sifat-sifat Alloh.

Yaitu penyerupaan selain Alloh dengan Alloh pada salah satu dari nama-nama dan sifat-sifat Nya. Syirik jenis ini terbagi menjadi dua macam:

  • Pertama: Syirik Ta’thil, yaitu pengingkaran terhadap adanya Alloh, sebagaimana yang terjadi Fir’aun. Alloh berfirman:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِين

“Fir’aun berkata: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui sesembahan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat sesembahan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al-Qoshosh: 38)

Syirik jenis ini adalah sejelek-jelek kesyirikan, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu Syaikh. [lihat: Taisirul ‘Azizil Hamid: 26]

  • Kedua: Syirik Tamtsil, yaitu penyerupaan antara Alloh dan selainNya dalam sifat-sifatNya. Syirik ini terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Penyerupaan makhluk dengan Alloh, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Nashrani yang menyerupakan ‘Isa dengan Alloh sehingga mereka mengangkatnya sebagai sesembahan.

Contoh yang terjadi pada umat ini adalah apa yang terjadi pada kelompok syi’ah ekstrim, yang mereka mengangkat ‘Ali -Rodhiyallohu ‘anhu- sampai menyerupai Alloh, sehingga mereka menyerahkan peribadatan kepadanya, padahal ‘Ali sendiri berlepas diri dari mereka.

Kedua: kebalikan yang pertama, yaitu penyerupaan Alloh dengan makhluk. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kelompok Musyabbihah yang mengatakan bahwa sifat-sifat Alloh itu seperti sifat-sifat makhluk.

Misalnya: perkataan mereka bahwa Alloh mempunyai mata seperti matanya makhluk, mempunyai tangan seperti tangannya makhluk, dan perkataan-perkataan kekafiran yang lainnya.

Inilah pembagian syirik besar beserta beberapa contohnya, semoga bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Janganlah seseorang merasa aman dari terjatuh ke dalamnya, tapi hendaknya setiap muslim senantiasa khawatir dan merasa takut untuk terjerumus ke dalamnya.

Selanjutnya, dalam postingan berikutnya akan dibahas mengenai syirik kecil.

Sumber : almanhaj.or.id dan ahlussunnah.web.id,  yang mana tulisan tentang Syirik tersebut di tulis oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Abu Zakaria Irham Al-Jawiy.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: