Aku Belajar Memahami Mereka

Minggu ini, banyak sekali pelajaran hidup yang dapat kuambil. Pelajaran tentang kesabaran dan  kedewasaan. Pelajaran yang kudapat dari interaksi sesama manusia. Sedih, senang, kejutan, masalah, tertawa, menangis, jatuh, itu makanannya orang hidup bukan ? Warna-warni kehidupan. Siapa bilang umur sebagai patokan kedewasaan dalam menghadapi masalah. Tidak sama sekali. Kita hanya butuh akal sehat dan hati lapang untuk menjadi dewasa, bukan umur.

Ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dari sifat manusia, dari percakapan kecil, dari canda-tawa, dari amarah, perkelahian, bahkan dari gunjingan sekalipun. Aku belajar banyak mendengar, dengan mendengar aku berpikir. Mana yang salah mana yang benar. Banyak mendengar berarti banyak belajar. Menjadi pendengar membuat aku sulit sendiri, aku sulit berekspresi secara verbal. Caraku bercerita tidak menarik, sungguh aku tidak mahir bercerita. Kalau aku bercerita pasti pendengarku bakalan bosan. Aku tidak bisa menjadi center-nya, karena itu aku lebih sering disela. Aku benar-benar payah. Aneh kan, padahal aku mengambil jurusan Bahasa di SMA dan kuliah di jurusan Komunikasi. Ketertarikanku memang bukan pada komunikasi verbal, tapi tulisan. Karena itulah aku ada disini.

Flashback ke masa lalu, aku tumbuh di lingkungan dengan sedikit teman sebaya. Aku berinteraksi  kebanyakan dengan orangtua, otomatis aku lebih banyak diatur, lebih banyak mendengar daripada punya kesempatan bicara. Aku lebih banyak bercerita ke ibuku yang bertipe serius. Tentu caraku bercerita juga jadi serius. Aku jarang bermain dengan anak seusiaku, hanya satu dua orang saja, tidak banyak. Di sekolah lebih senang menghabiskan waktu istirahat di kantor sekolah, menemani ibuku memeriksa nilai anak-anak.

Semakin aku tumbuh aku menyadari, ada yang aneh dari diriku. Aku tidak pernah benar-benar bisa bergaul dengan baik dengan teman seusiaku. Aku lebih senang berteman dengan orang yang jauh lebih dewasa, dan laki-laki. Aku seperti mencari seorang figur kakak, padahal aku ini anak pertama, tapi aku suka sekali dimanja oleh orang dewasa. Dan aku suka bergaul dengan laki-laki karena mereka sederhana, tidak rumit. Mereka mudah dipahami, jelas hitam dan putihnya, tidak ada abu-abu. Unsur abu-abu lebih banyak ditemukan di teman perempuan. Aku benar-benar sulit mencocokkan diri dengan teman perempuan sebayaku, entah apa masalahnya.

Aku seperti punya lapisan aneh yang kadang-kadang itu membuatku kaget. Aku mudah berteman dengan orang lain, tapi aku tidak pernah bisa benar-benar percaya pada mereka. Aku merasa tidak pernah benar-benar bisa dekat dengan siapapun kecuali dengan orangtuaku sendiri.

Ada sih sahabatku dari kecil, cuma satu orang. Dari SD sampai SMA satu sekolah terus. Beberapa tahun sekelas terus, hanya berpisah ketika kuliah. Aku mudah berteman dengannya karena kami sama-sama aneh. Kalau kami lagi ngobrol seru, orang lain bakalan pergi, mungkin kami benar-benar alien di mata mereka.  Humor kami aneh, benar-benar garing. Kami kekanakan, meski sama-sama anak pertama. Meskipun ketertarikan kami gak pernah bisa sama, tapi kami selalu cocok.

Dia fashionista, aku konservatif. Dia selalu up to date segala info, aku gak peduli. Dia dikelilingi banyak orang, aku autis. Dia cewek banget, aku semi-semi cewek (ogah dibilang tomboy). Dia gak suka baca, aku suka banget !. Dia suka nongkrong di mall, aku anak rumahan. Dia tahu aja merek branded, aku pake apa aja asal nyaman dan murah. Dia punya banyak teman, aku ….. coba tebak sendiri deh.  Kesamaan kami adalah muka yang sekilas terkesan jutek. Mata yang sama-sama terkesan sinis. Cara bicara yang to the point, terkesan judes, dan sifat yang sama-sama cuek, aku malas banget ikut campur urusan orang lain.

Wajahku, bahkan ibuku sendiri bilang wajahku bener-bener galak. Apalagi caraku menatap orang, terlalu tajam. Aku nggak tau apa efek yang ditimbulkan dari tatapanku. Tapi semua orang langsung menilai aku orang yang arogan. Padahal aku gak pernah bermaksud seperti itu. Berpikir pun tidak. Aku gak ada waktu untuk cari musuh. Waktu SMA aku sempat di bully gara-gara tatapanku. Dahsyat ya efeknya. Cukup bikin sulit sih, tapi aku gak pernah bisa mengubah sorot mataku yang udah begini sejak lahir. Yah, sebaiknya gak usah asal menilai kalau nggak benar-benar kenal sama aku.

Well, kembali ke pelajaran hidup tadi. Selalu ada pelajaran dari kepribadian manusia. Ada keuntungan berteman dengan banyak laki-laki. Berpikirlah dengan cara mereka, sederhana. Gak usah ribet. Iya atau tidak. Mau atau tidak mau. Laki-laki banyak mengajarkan untuk lebih banyak memakai logika daripada perasaan. Laki-laki itu memang hebat untuk urusan manajemen konflik sama perasaan. Keren !

Sungguh perempuan itu makhluk yang rumit, aku aja yang prempuan suka bingung dengan diriku yang jelas-jelas aku tahu seluk-beluknya. Ditambah lagi aku harus berbaur dengan kaum perempuan yang banyak bersifat abu-abu. Mungkin karena sifat abu-abu ini ya perempuan lebih sering berkonflik. Perempuan itu hobi berprasangka. Prasangka ini nih yang sumber konflik.  Jujur aku juga sering berprasangka, tapi aku nggak tahan menyimpannya lama-lama. Aku lebih sering cuek terus aku lupa, atau kalo itu mengganggu banget, aku langsung aku cari tahu kebenarannya dari sumbernya. Aku males tanya kesana-kesini, selain menyakitkan bagi si sumber aku juga gak mau orang lain tahu kalo aku dan si teman sedang berkonflik. Hey, percayalah teman kalo kamu ceritakan masalahmu ke orang lain, mereka lebih sering menjadi kompor daripada mencarikan solusi. Trust me !

Tapi, sifatku yang tembak langsung ini, juga suka dapat reaksi macem-macem. Ada yang terbuka, tapi lebih sering si sumber malah mengabaikan aku atau tambah marah. Nah lhoooo… ribet kan wanita. Tapi aku belajar dari diriku sendiri, aku gak suka kalo lagi marah atau hatiku masih panas ditanya-tanya apa penyebab aku marah. Aku lebih suka nunggu marahku reda dan ngomong langsung kepada si penyebab amarah dengan baik. Aku bakalan bilang kenapa kamu begini sama aku, aku gak suka diginiin, atau kalo salahnya gak fatal aku sakit hatinya sebentar terus besok malah udah lupa sama sekali.

Pas si teman membuat jarak sama aku, aku ikutin aja kemauannya. Nanti setelah aku lihat udah ada sinyal baik, aku bakalan cari tahu apa salahku sampe dia berlama-lama membuat jarak sama aku. Biasanya sih hanya karena masalah simpel tapi karena prasangka, jadilah itu maslah merembet kemana-mana. Padahal simpel ya kan ? tinggal ngomong aja kok.

Huuufftt,  berkonflik itu juga menguras fikiran dan tenaga lho. Dari konflik itulah kamu belajar memahami karakter orang lain, belajar menerima kekurangan orang lain, belajar gak egois, belajar mengutamakan kepentingan bersama, belajar toleransi, belajar sabar, belajar menahan marah, belajar gimana caranya kamu bisa ngerem mulut walau hatimu udah mangkel, belajar gimana caranya menyampaikan sesuatu tanpa bikin si pendengar gak sakit hati, belajar memaafkan, belajar ikhlas. Ikhlas itu sih yang sulit. Ketika kamu udah berusaha untuk mengerti orang lain, tapi orang lain gak bisa mengerti kamu, dan kamu kecewa itu tanda kalau kamu belum ikhlas. Manusiawi sih… heheheh, ngeles. Dan pokoknya belajar banyak hal lagi… tambahin sendiri ya…

Semua manusia itu unik, walau karakternya banyak yang ajaib. Semua orang baik, you can’t judge a book by its cover because you don’t know the whole story. Mana ada sih manusia yang sempurna, tinggal kita aja yang bisa atau nggak menerima kekurangannya. Kalo kita bisa memperbaiki sifatnya ya di bantu, kalo nggak bisa ya di doakan semoga ia berubah. Benci, mana ada sih manusia yang lepas dari benci, tapi setidaknya kebencian itu gak menjadikan kita jadi jahat dan melupakan jasa baik yang pernah  dia lakukan (catatan buat diriku sendiri). Satu nasehat yang kuingat dari sebuah majelis ilmu, cinta karena Allah dan benci karena Allah. Berteman juga sekadarnya, ada yang bilang benci dan suka itu tipis, sayang banget kalo yang tadinya akrab terus tiba-tiba berubah jadi musuhan. Apa sih yang nggak bisa kita selesaikan ?. Cuma butuh komunikasi yang baik, akal sehat, dan hati lapang, InsyaAllah bisa diselesaikan.

Dulu, aku pernah berpikir kenapa sih susah banget memahami orang lain, kenapa mereka berfikir gak seperti caraku. Tapi kalo semua manusia cara berfikirnya sama kayak aku, alangkah tidak serunya dunia… hehehhehe.

Note : Tulisan ini adalah catatan bagi diriku sendiri…

Tagged: , , , ,

2 thoughts on “Aku Belajar Memahami Mereka

  1. jenni tjuatja May 9, 2014 at 9:04 am Reply

    Ka, aku juga sering merasa aku susah bergaul ma orang lain, sampe saat ini, padahal sekarang kita udah memasuki dunia kerja, tapi klo coworker lg gosip, cuma aku yg kalem, cuma jadi pendengar setia aja (klo ditanya cuma jawab secukupnya..) Tips n Tricks please…

    PS: Deti merid tgl 12/5..

    • Eka Azzahra May 9, 2014 at 11:19 am Reply

      Tipe kita hampir sama Jen, sama-sama pendengar setia. Ya kita jd diri sendiri aja Jen, toh ketika kita berusaha keluar dari sifat asli, kita yang bakal merasa terbebani sendiri.
      Kita ketemuan yuk di Nikahannya Deti. Aku datang lho, InsyaAllah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: