Monthly Archives: November 2012

The 23rd

Woahhh… I’ve been so lazy writing blog these days, I just don’t have mood for write anything. Yeah, finally two days ago I was 23 years old officially !. All my best friends in boarding house and -someone who close to me over five years ♥- gather to gave me a surprise. It made me absolutely shocked but I  also felt happy, awkward and shy. They gave me a very delicious chocolate cake, and beautiful gift. Hehehe. Oooh so sweet they are. I really loves and thankful with them a lot.

Let's eat the cake !!!

Let’s eat the cake !!!

Gift from my friends.  Two lovely veil and a dazzling brooch  ^___^

I crush on this brooch, so pretty !

Honestly, I really didn’t care about my  birthday. Since I was kid, my parents never put a birthday party into something  that you must celebrate. On my birthday, my mother would cook a special food or cake for me, and my father give me a lots of  treasure advice to through the life. Thus, all their treatment made me into such a cold person plus I can’t remember the day or date properly. Continue reading

Mom, I Found It…

Once again, I proved the miracle of destiny. What belongs to you it will comes to you. I’ve told you about my treasure ring that lost almost two month ago, and I found my ring back about one week ago ! It’s late… but not too late to Yeeeaaayyy 😀 !!!…  Alhamdulillahhi rabbil’alamiin. I’m very grateful to Allahu Subhanahu wata’ala The Almighty and The most merciful.

Please don’t look my dry skin 😦

Continue reading

Aku Belajar Memahami Mereka

Minggu ini, banyak sekali pelajaran hidup yang dapat kuambil. Pelajaran tentang kesabaran dan  kedewasaan. Pelajaran yang kudapat dari interaksi sesama manusia. Sedih, senang, kejutan, masalah, tertawa, menangis, jatuh, itu makanannya orang hidup bukan ? Warna-warni kehidupan. Siapa bilang umur sebagai patokan kedewasaan dalam menghadapi masalah. Tidak sama sekali. Kita hanya butuh akal sehat dan hati lapang untuk menjadi dewasa, bukan umur.

Ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dari sifat manusia, dari percakapan kecil, dari canda-tawa, dari amarah, perkelahian, bahkan dari gunjingan sekalipun. Aku belajar banyak mendengar, dengan mendengar aku berpikir. Mana yang salah mana yang benar. Banyak mendengar berarti banyak belajar. Menjadi pendengar membuat aku sulit sendiri, aku sulit berekspresi secara verbal. Caraku bercerita tidak menarik, sungguh aku tidak mahir bercerita. Kalau aku bercerita pasti pendengarku bakalan bosan. Aku tidak bisa menjadi center-nya, karena itu aku lebih sering disela. Aku benar-benar payah. Aneh kan, padahal aku mengambil jurusan Bahasa di SMA dan kuliah di jurusan Komunikasi. Ketertarikanku memang bukan pada komunikasi verbal, tapi tulisan. Karena itulah aku ada disini. Continue reading

Drama Si Mug

Three Must-Idol

Sedih sedih sedih. Kesel banget gak sih kalo sesuatu yang kita rencanakan sejak lama tau-tau gak berjalan baik. Bukan salah dipihak kitanya, tapi kesalahannya di pihak orang lain.

Aku udah rencana lama banget untuk bikin mug, mug itu mau aku kasih ke temanku. Desainnya udah aku bikin sepenuh hati. Sungguh-sungguh banget aku ngerjainnya lho.  Terus aku datang deh ke sebuah toko yang biasa ngerjain pesanan sablonan. Toko ini rekomendasi temenku, katanya sih bagus. Aku percaya aja, soalnya belum pernah bikin-bikin kayak gini sebelumnya. Terus pelayannya asik, ramah, pokoknya kesannya bagus deh. Setelah negosiasi harga, aku pun menyerahkan pesananku ini. Semoga bagus deh hasilnya. Terus aku bilang ke pelayannya, barangnya aku ambil 3 jam lagi. Soalnya mau ke Gramedia dulu nyari tambahan data buat proposalku.

3 jam kemudian, aku udah excited banget sama hasilnya…  Continue reading

Bangsa Pengemis ?

Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,
Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru,
Kata Si Toni
(Karya Taufik Ismail)

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa, dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan rama-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak digerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama Continue reading