Pulang Kampung

Alhamdulillah… Alhamdulillah… Begitu banyak hal yang patut dan wajib disyukuri, terutama bisa menjumpai indahnya Hari Raya Idul Fitri. Begitu banyak do’a dan harapan yang bertabur di momen yang suci ini, semoga diijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala…

Jadi, lebaran kali ini saya habiskan di kampung halaman tempat kelahiran Bapak di daerah Sumatera utara. Sebenarnya berat hati ini untuk berlebaran disana. Mengingat orang tua gak ikutan mudik, tentu hati ini jadi bimbang ceileeeee, pergi atau nggak ya ?… Tapi, setelah dapat ultimatum dari para paklek dan bu’lek jadi juga saya mudik berdua bareng adik semata wayang. Kapan lagi menyenangkan hati saudara-saudara dan kakek-nenek yang udah sepuh.

Kampung saya itu masih desa, terpencil lagi, kendaraan umum susah, lebih mudah dijangkau dengan sepeda motor. Tapi nggak mungkin rasanya mudik pake sepeda motor, alaamaaak capek kaliii lah !. Nah, tanggal 15 Agustus pukul 9.00 WIB saya pun berangkat ke kampung naik travel, butuh waktu 9 jam untuk sampai ke rumah nenek. Alhamdulillah pukul 18.15 WIB saya sampai dirumah nenek di desa Negeri Lama Seberang kecamatan Bilah Hilir kabupaten Labuhan Batu – Sumut.

Saya sampai dengan perasaan keliyengan (bahasa apa ini keliyengan ?) …  Gimana nggak keliyengan, sepanjang perjalanan saya terus menerus Istighfar karena ketakutan. Dahsyat betul kencangnya travel yang saya naiki, berkali-kali nyaris menyenggol kendaraan lain dengan jarak yang udah sangat tipis. Mana saya duduk di kursi depan, kalau nasib buruk mungkin saya udah jadi peyek kaliii. Alhamdulillah ya Allah saya sampai selamat *sujud syukur. Emang nggak ada yang ngalahin bagaknya supir medan kalau bawa mobil. Ckckckck…

Nah, berada dirumah nenek selalu meninggalkan bekas di hati. Saya bersyukur punya keluarga besar yang teramat sayang sama saya. Mungkin karena saya cucu perempuan satu-satunya yang belum menikah ditambah lagi jarang pulang kampung, jadi serasa agak diistimewakan, azeee… Walaupun saya memang kurang kerasan tinggal di rumah nenek. Pengennya cepat-cepat pulang ke Perawang, padahal baru beberapa hari disana. Tapi selalu ada momen yang menyenangkan.

Kakek-nenek saya ini tangguh sekali, walaupun udah sepuh tetap lincah dan energik. Kakek masih kuat bekerja memanen buah sawit dan membersihkan ladang.  Nenek hobi sekali membuat kue, nenek selalu ingat kue kesukaanku, bolu cungkil. Nenek ini terlalu energik, semua pekerjaan mau dikerjakan sendiri padahal anak-cucunya bisa diandalkan, akibatnya nenek kalau malam suka menggigil karena capek. Kasihan sekali melihatnya, tapi nenek nggak bisa dilarang. Nenek merasa lebih senang megerjakan semuanya sendiri tanpa  dibantu.

Keluarga kami memang keluarga besar. Bapak saya anak pertama dari sepuluh bersaudara. Semua paklek dan bu’lek udah berkeluarga, hampir semuanya udah punya anak dan semua anak-anak mereka laki-laki. Nenek cuma punya dua cucu perempuan, saya dan Puput. Puput ini sepupu saya dari adik bapak yang no 2. Puput udah menikah dan punya dua anak. Jadi, kebayang kan ribut dan ribetnya bila semua anak, cucu, dan cicit berkumpul dalam satu rumah. Heboh !…

Lama nggak ketemu dengan saudara membuat setiap waktu yang dilewati terasa begitu berharga. Sungkeman, meminta maaf untuk kesalahan dimasa lalu, bercerita hal yang menyenangkan, mendengarkan kakek mengulang-ulang sejarah masa mudanya hingga terdampar ke pulau Sumatera, berbagi akan masalah yang dihadapi oleh setiap anggota keluarga, makan bareng, tidur bareng, bakar ayam bareng. Semuanya menyenangkan. Yah, setiap anggota keluarga punya sifat unik dan  itu yang bikin kangen. Ada yang ceria, ada yang suka ngomel, ada yang mudah ngambek, ada yang pelawak, ada yang doyan marah. Tapi itulah keluarga, kita bisa saling memahami dan mengerti, karena kita punya ikatan darah yang tak akan terputus.

Seminggu dirumah terasa begitu cepat, awalnya memang nggak kerasan, tapi menjelang pulang hati begitu berat untuk pergi. Rasa sayang kepada mereka begitu kuat, terharu mengingat begitu banyak yang sayang sama saya disini, nggak seperti di Riau dimana kami nggak punya saudara selain keluarga inti, selebihnya hanyalah saudara jauh yang tinggal berjauhan. Betapa mereka semua tidak ragu menampakkan kerinduan mereka pada keluargaku. Sayang sekali bapak-mamakku nggak bisa ikutan ngumpul. Kalau saja mereka ikutan pasti komplit. Semoga lain waktu kita bisa kumpul lengkap semuanya.

Semoga Allah melindungi kakek-nenekku yang udah sepuh diberikan kesehatan dan umur panjang, bisa ngelihat saya menikah, Aamiin. Semua do’a yang baik kupanjatkan untuk Paklek-bu’lek, sepupu dan keponakan yang saya sayangi. Semoga rahmat Allah melimpahi kehidupan mereka, didekatkan hati-hati mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sungguh saya sangat menyayangi mereka, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku. Meskipun jauhnya jarak dan kesibukan yang menyita, tapi hati selalu mengingat mereka yang menjadi bagian dalam hidupku. Seperti kata sebuah lirik lagu “Jauh dimata dekat dihati”.

Sayang nggak ada foto yang bisa di posting, next time kaliii yaaaa…

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: