Impatience in me :(

Masalah :

Akhir-akhir ini aku  merasa apa yang aku  jalani tidak terjadi dengan semestinya. Berasa jadi pengangguran. Bangun tidur dengan perasaan kosong, blank, gak tau mau mengerjakan apa. Nggak enak banget. Bukan, bukan sok rajin. Tapi, aku selalu ngeri dengan perputaran waktu yang begitu cepat. Aku merasa tertinggal, ketika semua orang sudah bergerak, aku merasa hanya jalan di tempat. Menyakitkan.  Manusia haruslah  punya target pencapaian dalam hidupnya. Bukan ambisius, tapi aku mau hidup yang aku jalani terkonsep. Jelas, ada langkah yang harus aku ambil. Tapi kok rasanya semua buntu.

Aku gak mau jadi generasi galau, sedikit sedikit galau. Rasa optimis dan energy positif itu datang dari diri. Kalo aku galau, maka apa yang aku jalani pasti kacau.

Tapi, kali ini aku bener-bener terbawa arus galau yang dahsyat. Gimana gak galau, proposal gak jalan-jalan, pas proposal udh di ACC tapi birokrasi untuk ngajuin pembimbing dan seminar kok malah njelimet. Mana kuliah cuma seminggu sekali, selebihnya apa ? Mengango, alias bengong !… Hal berguna yang membuat saya memaafkan diri ini adalah masih terus mengajar privat murid kesayangan, Maharani.

Dulu hampir seminggu sekali aku ikut pengajian akhwat di Pondok Pesantren Umar bin Khatthab Pekanbaru. Sekarang kegiatan ini mulai berkurang intensitasnya😦. Aku  harus men-charge ruh-ku yang kian kerontang dimakan galau. Harus. Poin positif datang kepengajian adalah selain menambah ilmu agama juga membangkitkan rasa semangat, dan  optimis. Tapi kadang rasa optimis yang tercipta cuma beberapa jam saja. Satu-satunya cara berdamai dengan hati yang galau adalah pulang kerumah orang tua. Melupakan rasa bingung, tidak mau memikirkan apapun, full untuk berkumpul mengobati rasa rindu dan merasakan hangatnya aura kehangatan keluarga.

Tapi, tapi, tapi, bisakah kamu tenang santai-santai disaat kedua orangtuamu  yang menaruh harapan besar padamu. Rasa bersalah akan datang lagi dengan hebatnya. Kenapa urusan menjadi kuliah begitu memuakkan ! Aku ingin segera menyelesaikan ini semua ! Aku lelah. Rutinitas kuliah yang dulu sangat aku sukai , kenapa sekarang jadi musuh besar !

Solusi :

Huuuufffhhhhhhh, melihat apa yang aku tulis diatas, sepertinya aku terlalu keras pada diriku sendiri. Aku membuat diriku lupa akan kesabaran dan tawakkal. Kenapa aku begitu memaksakan kehendak, kenapa aku tidak mengikuti saja bagaimana alurnya. Melawan arus sama dengan memaksakan diri, tidak hanya jiwaku yang akan sakit, ragaku juga pasti terkena imbasnya.

Astaghfirullah, betapa aku begitu gegabah dan terburu-buru. InsyaAllah semua pasti akan ada masanya. Indah pada waktunya , kata orang-orang. Aku harus berkompromi dengan diriku, bersabar, bersabar dengan sebaik-baiknya kesabaran. Mungkin ini karena aku kebanyakan waktu kosong yang tidak bermanfaat, akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk terus mengkhawatirkan ini dan itu. Stop ! jalani dengan rileks, pastikan aku sudah melakukan yang terbaik, biar sisanya Allah Subhanahu wata’ala yang menetapkan hasil akhirnya.

 Alhamdulillah, hati ini sudah tenang. Waktunya mencari kegiatan yang bermanfaat. Kelas belajar tahsin dengan Ummu Annisa (Kak Surya) dibuka lagi, sebaiknya aku ambil untuk meneruskan pelajaran tahsin yang sempat terhenti. Kemudian, kemarin ada telpon dari kursus bahasa Jepang gratis dari Tomodachi, katanya aku sudah bisa mulai belajar minggu depan. Dan, sepertinya datang rutin ke pengajian adalah cara terbaik untuk bisa menghilangkan semua gundah gulana, bukankah majelis ilmu itu adalah taman-taman surga.

Ayo semangaaaaaaaaattt !!!

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: