Jadikan ini pelajaran, adikku…

Ridho Allah itu memang tergantung pada ridho kedua orang tua. Adikku sayang, kadang kita harus menebus pelajaran hidup dengan mahal dan penyesalan.

Kemarin sore saya mendapat telepon dari Ummi, telepon yang membuat saya shock. Adik saya pergi dari rumah saya di Perawang ke kota Pekanbaru tanpa minta izin dan ternyata ia menabrak orang di daerah Rumbai. Astaghfirullah hal adziim. Betapa terkejutnya hati ini, pikiran buruk tidak henti-hentinya berkelebat. Bagimana kondisinya, luka parah atau tidak, apakah ia diamuk massa. Ya Allah, ya Rabb, lindungi adik hamba satu-satunya.

Denga hati was-was saya melarikan motor dari kos saya di daerah Panam ke Rumbai, perjalanan makan waktu setengah jam. Lemaslah lutut saya melihat wajah adik saya dan temannya sudah luka-luka, Alhamdulillah ia memakai helm, kepalanya tidak apa-apa, bagian tubuh yang lain hanya lecet-lecet saja, pakaiannya sudah robek sana sini. Semakin lemas hati saya melihat sepeda motor yang dipakainya sudah tidak bisa dikendarai lagi, tidak tahu apa yang bagian apa yang rusak. Hancur sudah motor warisan saya itu. Tapi yang lebih hancur adalah hati saya dan orangtua.

Sangat kecewa kami dibuatnya, merasa tidak dihargai. Kenapa ia berpergian jauh tanpa minta izin dulu kepada orang tua. Tanpa SIM pergi ke kota tanpa tujuan jelas, jelas-jelas ia cari masalah. Betapa Allah sayang padanya memberikan ia pelajaran kali ini, agar ia tidak lagi mengulang perbuatannya berpergian tanpa izin orang tua. Sungguh sesuatu yang dikerjakan tanpa ridho orang tua akan buruk hasilnya. Mungkin ini yang sering kita sebut dengan istilah kualat. Sungguh memang ridho Allah itu letaknya pada ridho orang tua.

Ya Allah, betapa kami sangat sayang kepada si bungsu ini, anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Tapi mengapa yang disayang malah tidak tahu disayang. Musibah memang takdir, tapi ini lebih kepada human error, kelalaian pribadi ditambah tanpa izin orang tua, fatal akibatnya.

Alhamdulillah keluarga yang ditabrak adik saya tidak menuntut apa-apa, mereka memilih berdamai karena tidak ada luka yang serius, dan maklum dengan adik saya yang baru beranjak remaja. Saya pun tidak sanggup memarahi, cuma air mata saja yang mewakili amarah saya,  tidak tega memarahi  ia dalam kondisi luka-luka dan masih shock.

Ambillah pelajaran dari musibah kali ini adikku, jangan diulangi lagi, sungguh pelajaran hidup itu kadang sangat pahit rasanya. Ini bukan hanya pelajaran untukmu saja adikku, ini untuk kakak juga. Sungguh sedih melihat orang tua kita kecewa hari ini.😦

Tagged: , , , ,

One thought on “Jadikan ini pelajaran, adikku…

  1. Afrioni February 20, 2012 at 2:36 pm Reply

    jadikan ini hikmah ya,,, tetep tabah,,, semoga selalu dlm lindungan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: