Harta VS Bahagia

Dari Ismail bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqash, dari Ayahnya, dari kakeknya, berkata, Rasulullah shalallhu`alayhi wasallam bersabda : “Empat hal yang termasuk bagian dari kebahagiaan (yaitu): istri yang salehah (bagi perempuan, suami yang shaleh), rumah yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk bagian dari kesengsaraan, (yaitu): tetangga yang jahat, istri yang tidak baik, rumah yang sempit dan kendaraan yang buruk.” [Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban, no.4107]

Ya, garis besarnya hadits diatas menerangkan faktor-faktor kebahagiaan di dunia. Tapi jangan jadikan hadits ini sebagai alasan kita untuk mengejar materi, terobsesi dengan mengumpulkan harta di dunia. Tapi hadits diatas mendorong kita untuk mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah, termasuk apabila kita mendapat kenikmatan seperti hadits tersebut. Sesungguhnya sifat materialistis dan tidak puas dengan harta merupakan hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita tidak mendapatkan keempat faktor kebahagiaaan di dunia tersebut, janganlah bersedih. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan hakiki letaknya di hati kawan. Terletak di kelapangan hati, keikhlasan, bersabar serta rasa syukur yang tida putus-putus. Tidaklah enak hidup dengan ambisi mengejar harta. Tidalah enak jadi budak dunia. Bukankah sejatinya kehidupan kita ini hanyalah “singgah” dan akan kembali “pulang”. Yang kita bawa pada saat kembali bukanlah harta kawan, melainkan hati yang bersih bertauhid dan amal ibadah.

Rasul menyuruh kita tidak ambisisus mengejar harta, tapi bukan berarti kita berhenti mencari harta dengan dalih takut menjadi budak dunia. Ambillah sikap ditengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Sifat seperti inilah yang diajarkan para salafush shalih, generasi terbaik Islam.

Fudhail Bin Iyadh rahimahullah, berkata kepada Ibnu Mubarak, dia berkata: “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Kemudian Ibnu Mubarak pun berkata: Wahai Abu ‘Ali (Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku.”[Kitab Jami Al-‘Ulum: 350]

Subhanallah mulianya akhlak dan sifat para Salafush Salih, harta tidaklah melalaikan mereka melainkan untuk menunjang ketaatan mereka kepada Allah SWT. Yah, saya pun ingin meniru sifat mereka. Alhamdulillah saya bahagia. Begitu mudahnya saya bahagia hanya karena hal-hal yang sederhana. Bahagia itu simple saja kawan. Seperti kata, Jodi Picoult, “There are two ways to be happy: improve your reality, or lower your expectations.”

Selamat berbahagia🙂

Tulisan ini bersumber dari sini.

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: