Untuk Apa Anda Kuliah ?

Saya teringat dengan pertanyaan seorang dosen di mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi, beliau bertanya :

“Untuk apa anda kuliah ?”

Saya diam aja, jujur nggak tau mau jawab apa. Blank. Tapi teman-teman menjawab macam-macam. Ada yang bilang untuk cari ilmu, ada juga yang bilang untuk bekal cari kerja. Terus dosen saya itu kembali bertanya :

“Kalau cari ilmu kan nggak harus kuliah, kuliah juga nggak bisa menjamin untuk mendapatkan pekerjaan kan, bisa dilihat sekarang berapa banyak penangguran dengan label sarjana ?”

Suasana kelas kontan senyap. Ah… kok sepertinya ini dosen menguji kami ya. Dosen saya itu memandangi kami dengan tatapan killer, pas banget dengan julukan bu dosen ini sebagai dosen killer. Dosen saya pun tersenyum tapi malah bikin merinding, karena senyumnya yang misterius. Lama menunggu jawaban yang tidak juga terjawab, keluarlah wejangan dari dosen saya ini, sangat sejuk di hati. Bisa dihitunglah dosen yang ngasih nasehat soal spiritual buat mahasiswa, walaupun notabene kami kuliah di lingkungan UIN.  Kurang lebih begini nasehat dosen saya itu.

“Manusia itu harusnya senantiasa merenungi apakah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Aneh rasanya  jika seorang muslim telah mengetahui tujuan penciptaannya kemudian lalai dari hal tersebut. Harusnya kita bisa mengaitkan tindakan kita dengan akhirat.

Jika anda seorang mahasiswa yang mempelajari ilmu dunia, maka niatkanlah untuk akhirat, niatkanlah dirimu dengan ilmu tersebut akan membantu kebangkitan kaum muslimin. Jika anda seorang pengajar, dosen atau semisalnya, maka niatkanlah aktivitas mengajar anda untuk akhirat dan kebangkitan kaum muslimin, demikian juga seluruh profesi, maka niatkanlah untuk akhirat.

Jika kalian berniat kuliah untuk mencari ilmu, itu bagus. Karena mencari ilmu wajib hukummnya. Sedangkan jika kuliah dengan niatan untuk mendapatkan pekerjaan, juga tidak salah. Memiliki ilmu dan keahlian merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan merupakan sarana mencari nafkah bagi kalian para mahasiswa yang akan menjadi kepala keluarga. Apapun niat kalian, saya harap kalian tidak melupakan hakikat tujuan kita diciptakan, yaitu semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah.

Saya sangat berharap jika kalian nanti keluar dari dunia perkuliahan, tetaplah pegang prinsip ini. Semoga nantinya kalian akan menjadi jurnalis, humas, broadcaster  yang mempunyai etika Islami dalam menjalankan profesi”.

Hati saya adeeem banget jadinya. Terima kasih ibu atas wejangannya…

Sungguh saya sangat ingin menjadi manusia yang pada setiap aktivitas yang saya lakukan mempunyai nilai ibadah, sebagai investasi amalan untuk akhirat kelak. Bagi saya saat ini kuliah memang sarana untuk cari ilmu dan menuntaskan keinginan orang tua agar anaknya bisa menikmati bangku kuliah. Saya tidak terbebani dengan kuliah, saya sangat menikmatinya, banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Tapi jika harus bekerja sesuai dengan jurusan yang saya ambil, sepertinya sangat kecil kemungkinannya.

Dunia jurnalis memang sangat menarik minat saya, seperti cita-cita masa kecil yang sangat ingin jadi wartawan. Wartawan itu profesi yang keren, bisa meliput berita di medan perang seperti Desi Anwar, yang kesannya heroik sekali. Pada akhirnya saya harus menyerah pada keadaan. Berdasarkan pengalaman menjadi wartawan selama magang membuat saya sadar, saya tidak cekatan dalam mencari berita, saya tidak ahli mendekati orang-orang ‘besar’, sifat alamiah saya yang sangat canggung, dan idealisme saya yang tidak mungkin untuk dipatahkan.

Yah, bagi saya kuliah itu untuk cari ilmu, wujud birrul walidain, dan diniatkan untuk amalan sholeh.

 Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]

 

 

 

Tagged: , , , , , , , ,

2 thoughts on “Untuk Apa Anda Kuliah ?

  1. Ibnu Semoga Jaya November 16, 2011 at 7:47 pm Reply

    bagus

  2. Eka Azzahra November 17, 2011 at 12:55 am Reply

    terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: